Toleransi yang Tergerus Lantunan Tadarus
Bulan Ramadhan atau bulan puasa adalah bulan suci di mana segala aktivitas kita yang positif bernilai ibadah dan terlipatgandakan pahalanya. Selain sholat sunnah malam hari tarawih, ada beberapa amalan yang khusus di bulan ini yang menjadi anjuran. Salah satunya tadarus. Dalam KBBI, tadarus berarti kegiatan membaca Al-Qur’an bersama saat bulan puasa.
Membaca Al-Qur’an, memahami maknanya dan mengamalkan isinya akan menambah pundi-pundi pahala kita di bulan ini dan berharap akan menjadi kebiasaan untuk bulan-bulan berikutnya. Mendengarkan bacaannya saja sudah mendapatkan pahala apalagi membaca sendiri dengan niat beribadah karena Allah.
Kegiatan membaca kitab suci atau yang kita sebut tadarus ini, tak sembarang asal membaca. Ada adab dan tata cara yang tidak boleh terabaikan begitu saja. Seperti membaca Al-Qur’an di bulan-bulan lain selain Ramadhan, tadarus ini mulai dari diri pembaca yang suci dari hadas, tempat yang baik, bersih dari najis dan membacanya dengan ta’awudz.
***
Tidak kalah penting dari semua itu, terdapat anjuran untuk membaca dengan tartil yaitu membaca secara perlahan-lahan. Makhraj atau ketepatan ucapan dan tajwid wajib menjadi perhatian. Mentang-mentang saking lancarnya dalam membaca, sampai lupa ketartilannya tidak kita jumpai lagi karena membacanya terlalu cepat seolah kejar-kejaran.
“…dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan” (Q.S Al-Muzzammil: 4).
Membaca dengan perlahan lahan? Itu kan bagi mereka yang belum mampu membaca dengan lancar yang masih terbata-bata? Tunggu dulu! Yang masih terbata-bata juga mendapatkan pahala apalagi yang sudah lancar. Tapi, meskipun sudah bisa membaca lancar bukan berarti lantas membacanya dengan kecepatan maksimal sehingga terdengar kurang jelas ayat per ayatnya.
Dikhawatirkan lagi, bila terlalu cepat dalam membaca akan ada kesalahan yang tidak terdeteksi saking cepatnya. Karena dengan membaca secara tartil, bacaan ayat-ayat suci akan lebih indah terdengar, sanggup menggetarkan hati dan mampu menambah keimanan.
***
Seperti yang terjadi di kampung halamanku selama puluhan tahun sejak aku kecil hingga kini. Setiap bulan Ramadhan, selalu ada tadarus usai sholat tarawih dan usai sholat subuh. Biasanya berkumandang dengan pengeras suara di hampir setiap masjid dan mushola. Bisa kita bayangkan betapa riuhnya bila semua memakai pengeras suara dan berkumandang pada saat yang sama.
Tadarus memang sangat dianjurkan agama. Tapi haruskah selalu memakai pengeras suara? Bahkan ada yang membacanya dengan volume yang di luar batas karena beranggapan siapapun yang mendengarnya akan mendapat pahala. Namun, jika dengan volume terlalu tinggi dan membuat orang lain terganggu apakah juga masih mendapat pahala?
Kebetulan di kampung tempatku tinggal hampir semuanya muslim. Tentu maklum dan masih bisa toleran jika menjumpai hal-hal seperti itu. Tapi di lingkungan masyarakat yang majemuk apakah tidak bermasalah? Yang seiman saja kadang ada masalah yang timbul, apalagi dalam kehidupan masyarakat yang beragam keyakinan dan keimanannnya.
Tidak semua pendengar tadarus dalam keadaan sehat wal ‘afiat. Ada yang sedang mendapat ujian sakit, ada yang beberapa hari tak bisa tidur karena gangguan kesehatan dan lain lain. Tadarus dengan suara yang secukupnya, akan lebih bermanfaat bagi semua. Bolehlah memakai pengeras suara tapi dengan volume yang sedang dan wajar sehingga tidak mengganggu warga yang tengah kurang sehat dan tidur adalah salah satu yang bisa menenangkan jiwanya.
***
Begitu juga bila kita hidup di lingkungan dengan beragam agama atau keyakinan. Ada Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan lain-lain. Meski bisa dikatakan minoritas, namun mereka adalah saudara-saudara kita yang tetap dan harus kita hormati keberadaannya. Kita hargai tenggang rasa mereka terhadap kita selama ini.
Merasa aman berada di area yang kental akan nilai-nilai toleransi patut kita syukuri. Budi pekerti saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air tidak bisa kita abaikan begitu saja. Menghormati orang lain otomatis juga menghormati diri sendiri, sehingga kedamaian yang tercipta tidak terciderai oleh keegoisan kita sebagai muslim.
Keindahan toleransi antar umat beragama di negeri kita sudah termasyhur seantero jagat. Kendati berbagai agama dan keyakinan ada di satu negeri, namun kita mampu hidup rukun, damai dan sentosa. Kerukunan ini tetap kita junjung tinggi dengan saling menghargai tanpa saling menjatuhkan satu dengan yang lain. Tanpa pula harus mencari dan mengedepankan kelemahan-kelemahan yang ada.
***
Agamaku agamaku, agamamu agamamu. Rasa toleransi yang sudah ada sejak lama jangan sampai mengandung rasa benci dan antipati karena beda keyakinan di hati. Membaca Al-Qur’an atau tadarus di bulan suci bukan ajang pamer diri, tapi tetap menjadi ibadah yang tinggi nilainya dalam masyarakat muslim.
Dalam kehidupan masyarakat yang heterogen dengan kondisi dan situasi tertentu, maka sangat memungkinkan jika terjadi beberapa gesekan. Karena itu, kita dituntut harus bisa beradaptasi dan pinter berstrategi untuk meminimalisir kesalahpahaman yang mungkin terjadi.
Bulan Ramadhan tinggal beberapa hari lagi, pergi. Seolah mengikuti ajang kompetisi, di bulan ini kita semua berlomba-lomba dalam kebaikan (Fastabiqul Khoirot), berlomba menumpuk pahala dan berlomba memperoleh ampunan dari sejumlah dosa-dosa yang ada.
Di bulan ini juga, kita himpun pahala-pahala yang bertebaran dengan melakukan amalan-amalan ringan maupun yang agak berat. Berharap semua ibadah yang kita lakukan diterima Allah dan tidak berhenti berdoa memohon ridho-Nya di setiap kesempatan. Tarawih masih lancar, tadarus jalan terus. Jangan sampai terjadi, indahnya toleransi selama ini makin tergerus hanya karena lantunan tadarus.

Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.

Wira Sakti
Harmoni dalam keberagaman iman, etnis, suku, dan budaya itulah khas Indonesia. Saling toleransi menjaga dan memelihara rumah besar Indonesia.
Selalau eksis dan semangat untuk bu Wurry.
Wurry Srie
Terima kasih, Pak Wira Sakti atas supportnya. Mudah-mudahan kita selalu ingat bahwa kita hidup tidak sendirian, saudara kita beragam.