f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Raushan

Kutipan Pelipur Lara

Beduk subuh belum berbunyi, begitu juga dengan kawanan ayam belum juga berkokok bertanda bahwa hari belum fajar. Raushan terperanjak dari tempat tidurnya, lalu bangun, tak biasanya ia bangun sepagi itu. Sembari menarik napas, merenggangkan tubuhnya, dan mengumpulkan tenaganya untuk bangkit dari tempat tidurnya.

Di dalam ruangan seluas 3×4 m itu, ia melihat sekeliling, dinding dan langit-langit kamarnya yang sengaja dihiasi ornamen-ornamen kaligrafi berjenis khat kuhfi. Tidak seperti biasanya, ornamen-ornamen kaligrafi itu memberinya sugesti positif untuk mengawali hari-harinya, namun kali ini nampak mati, tak memberinya arti. Ia lalu beranjak keluar dan duduk di beranda rumah seorang diri, seisi rumah belum pada bangun. Di luarpun tampak sunyi,  belum ada satupun tetangga atau warga yang beraktifitas, apalagi di desa sekecil itu.

Secara spontan, ia mengecek gawai-nya, melihat beberapa akun social media-nya. Discroll-scroll layar gawai-nya, entah apa yang ia cari. Tak seperti harapannya, biasanya ada pesan, sapaan sayang dibumbui diksi-diksi manis nan manja dari pujaan hati: “Pagi sayang, baru banguan yaa? Sudah, sana mandi! Semoga hari mu menyenangkan ya. Aku sayang… sayang.. sekali sama kamu”.

Itu biasanya sapaan-sapaan yang seharusnya menghiasi paginya, ia masih terngiang-ngiang olehnya. Rindu itu hadir begitu saja, kendati di pikirannya, keadaan memaksanya untuk menerima sebuah fakta bahwa hubungannya telah berakhir pilu.

Rencana Pelaminan yang Kandas

Sangat sulit mencerna kalau hubungannya bersama Arin yang nyaris ke pelaminan itu harus kandas begitu saja. Di sisi lain, rasa yang tercampur-aduk antara sedih, sakit, pilu, kesal, rindu, sesak, malu, merintih yang tiada berkesudahan melanda hatinya . Tanggal dan hari pernikahannya telah ditetapkan oleh kedua keluarga; penentuan mahar, snap shoot  untuk pre-wedding dengan dresscode bermotif kain tenun khas Indonesia Timur; undangan telah disebar ke keluarga, teman, sahabat sampai kolega kerja.

Begitu juga dengan lokasi yang direncanakan di tepi  pantai kota Lewoleba, untuk wedding ceremony-nya. Semua itu harus terhenti begitu saja secara sepihak dengan alasan yang sungguh tak bisa diterima akal waras manusia manapun. Entah apa motif di balik pembatalan pernikahannya bersama Arin, Raushan menahan diri untuk  tak berburuk sangka yang hanya akan membuat kondisinya semakin parah.

Baca Juga  Merayu Tuhan di Surau Kakek

Karena di balik semua keos yang terjadi di hidupnya, ada hati yang mesti dipulihkan dan pikiran yang perlu dijernihkan. Ia kemudian menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskanya perlahan, itu secara spontan dilakukannya, lalu menyandarkan kepalanya pada punggung kursi kayu yang didudukinya itu.

 “Shan!” Terdengar suara memanggil dari arah belakangnya, seorang pria tua berperawakan tinggi dan besar, mengenakan baju koko, berpeci putih, dari dalam rumah, berjalan keluar menghampiri Raushan di beranda rumah. “Sudah bangun nak? Sudah, jangan terlalu banyak merenung, sana ambil wudu, mengaji,  ini sudah dekat waktu subuh. Ayah akan mengajak ibumu untuk ikut berjema’ah.” “Iya yah”, celetup Raushan lalu menuruti apa kata ayahnya.   

Pak Mahmud, Ayah Raushan, adalah seorang purnawirawan TNI, beliau sosok yang disegani di kampung itu. Selain purnawirawan TNI, beliau juga tokoh agama di kampung itu. Setelah pensiun,  ia akhir-akhir ini sibuk dengan aktifitas bersama komunitas pengajian yang rutin mingguan di Masjid Manahil Irfan, Masjid kampong itu.

Selain membahas isu-isu agama, Komunitas pengajian Pak Mahmud juga sering membahas isu-isu Pendidikan dan Ekonomi regional terkhususnya di kampong mereka, dan biasanya di follow up dengan gerakan-gerakan filantropi untuk membangun kampong. Namun seminggu terakhir, Pak Mahmud memang sengaja meliburkan pengajian komunitasnya karna fokus mempersiapakan pernikahan anaknya.

Pagi itu Raushan tak ke kantor, walaupun hari itu adalah hari aktif bekerja. Ia adalah seorang karyawan di PT. Pelni Sub Cabang kota Lewoleba. Tujuh hari yang lalu, Raushan mengambil cuti seminggu untuk melangsungkan pernikahannya. Namun karna kedekatannya dengan kepala kantor, dan kinerjanya yang bagus, ia mendapat tambahan waktu cuti dua minggu plus paket honey moon.

Kini beda cerita, pernikahannya telah kandas, Raushan tak berpikir untuk segera kembali ke kantornya. Cutinya masih tinggal seminggu, ia berpikir untuk menghabiskan waktu cutinya itu untuk self-healing. Lagi pula itu juga saran dari kedua orang tuanya, sahabat, teman-temannya dan terutama bos-nya.

Baca Juga  Linuhung

Saat matahari sudah mulai meninggi, terlihat warga desa memulai harinya dengan harapan baru. Ada yang menuju kebun untuk melihat kondisi tanamannya, ada yang pergi ke laut untuk mengecek rumput laut-nya, ada juga yang mencari makanan ternak; berupa dedaunan kaliandra dan gamal di hutan kecil di sebelah utara desa.

Pagi itu, pak Sutimin sibuk mencari kambingnya yang tak kunjung pulang; memang kambingnya sengaja dilepaskan, semua warga yang memiliki sapi di desa itu, melakukan hal serupa. Namun, pabila musim tanam telah tiba, semua warga wajib membawa pulang semua ternaknya lalu mengandanginya agar tanaman-tanaman para petani selamat tak termakan ternak-ternak itu.

Ibu Sutri, tetangga Raushan, berteriak pagi itu dengan mengumpat-umpat dalam bahasa kedang, salah satu rumpun bahasa daerah di Nusa Tenggara Timur. Itu hal lumrah yang selalu terjadi, umpatan itu untuk anak laki-lakinya beserta istrinya yang masih tinggal serumah bersamanya. Raushan telah terbiasa dengan umpatan-umpatan itu, bagi Raushan itu seperti nyanyian senandung yang selalu menemani ritual paginya.

Raushan masih saja diam membeku di selasar rumahnya, bimbang dengan apa yang hendak ia lakukan. Beberapa hari setelah pernikahannya batal, ia banyak mendapat dukungan dari sahabat dan teman-temanya. Ada yang menyarankan agar ia berlibur, ada yang malah menasihatinya kalau ini adalah ujian dari tuhan, ada juga yang memberikannya tips-tips jitu agar cepat move on, pastinya itu dari teman-temanya yang pernah alami hal yang serupa, bahkan ada juga yang menyarankannya agar segera mencari pengganti Arin. Namun Raushan tak tertarik untuk mencoba satupun ide dari teman-teman itu.

Beberapa hari terakhir yang sering di lakukannya ialah mengunjungi kerabat dan saudara-saudaranya, sekedar untuk bersilaturahim, mungkin juga dengan bertemu dengan mereka bisa jadi pelipur bagi laranya. Selain itu, ia lebih sering berdiam diri di kamarnya  dan menatap ornamen kaligrafi di dinding dan langit-langit kamarnya  itu.

Baca Juga  Peto si Anjing Jalanan

Semua impian dan cita-cita hidupnya bersama Arin yang telah tertata rapi bagikan itinerary kini berantakan, sehingga ia bimbang untuk memulai lagi dari mana.

Akhir-akhir ini juga ia terlihat lebih aktif beribadah, semua amalan-amalan sunnah yang tidak biasa Raushan kerjakan, kini semua ia borong. Iya juga lebih sering membaca kembali buku-buku filsafatnya yang mungkin telah dibacanya belasan kali, entah apa tujuannya. Entah bagaimana, apapun yang dilakukannya itu layaknya hanyalah ritual dan rutinitas yang tak bermakna.

Nasihat Nisa

Di suatu malam selepas shalat isya di Masjid Manahil Irfan,  ia sedang duduk di emperan masjid, ada juga komunitas pengajian ayahnya yang sedang heboh membahas tentang peraturan dari MUI tentang TOA Masjid. Ia tak tertarik untuk bergabung dengan mereka. Seketika ia teringat dengan salah seorang sahabatnya, Nisa. Nisa adalah salah satu sahabat Raushan yang mungkin belum mengetahui keadaan Rausahan terkini.

Seketika ia langsung mengeluarkan gawai lalu menelpon Nisa. Selama hampir sejam lebih, Nisa tidak banyak berbicara, bahkan sampai terputus seketika telfonya karna jaringan, Nisa hanya menjadi pendengar yang baik, mendengarkan semua celotehan Raushan yang terkadang sangat emosional dan tak terarah omongannya.

Malam itu setelah obrolannya bersama Nisa, sepertinya cukup membuatnya lebih hidup. Ia lalu masuk ke kamar artistiknya itu. Ketika hendak tidur, ada bunyi dentunan dari nada dering gawai-nya bertanda pesan. Ia lalu membukanya, ternyata ada tag pesan di Instagram oleh Nisa. Nisa menandainya di sebuah kutipan dengan tulisan;

“Kamukan sedang berikhtiar untuk menemukan jodoh, bukan berikhtiar untuk memastikan kalau dia adalah jodoh mu”.

Seketika Rausahan melihat kembali ornamen-ornamen kaligrafi di dinding  dan langit-langit kamarnya lalu tersenyum. Sesaat, ketika  ia menaruh kepadanya di atas bantal, ia langsung tertidur pulas. Ini kali pertamanya setelah seminggu lebih ia bisa tidur selepas itu.

Bagikan
Post a Comment