Pandemi di Tanah Rantau (1)
“Kepada Mbak-mbake, harap untuk tidak kembali ke komplek putri dahulu..”
Selepas shalat Isya’ berjemaah di Aula, Bu Lurah memberi instruksi kepada kami untuk tidak segera bubar kembali ke kamar. Seperti yang sudah kami duga, ya, pengumuman ini adalah tentang pemulangan santri karena pandemi, yang sudah diterapkan di banyak pesantren di luar sana. Desas-desus ini sudah kami perbincangkan sejak beberapa hari lalu, ketika kabar serupa dari pesantren lain yang sudah mulai memulangkan santrinya.
Dengan seksama kami mendengarkan poin demi poin yang dibacakan Bu Lurah pada selembar kertas itu. Kami, sama sekali tidak mengalihkan perhatian kepada yang lain, hanya untuk sekedar bergurau seperti biasanya pun tidak. Kami benar-benar khusyu’ mendengarkan. Hening.. Hingga pada poin utama surat edaran ini dibaca..
“Kepada seluruh santri wajib untuk pulang ke rumah masing-masing sejak tanggal 3 April-17 Juni 2020. Santri dipersilakan untuk mengemas barang masing-masing dan besok akan diadakan Ro’an Akbar.”
Jesss.. Seketika aula ramai suara isak tangis. Ada yang menundukkan kepala sendiri, berpangku pada lutut masing-masing, banyak juga yang bersandar ke pundak teman sebelahnya. Memang, liburan adalah hal yang paling dinantikan santri. Apalagi di pesantren kami yang lumayan ketat terkait peraturan perpulangan santri. Bisa-bisa, jika memang tidak ada alasan yang urgent untuk izin menginap di luar pesantren, kami hanya bisa pulang setahun dua kali. Dan itu paling sekitar 1-2 mingguan saja.
Biasanya, kalau liburan pesantren mencapai 2 mingguan saja, rasanya sudah bahagia banget! Nah sekarang ini malah kami akan pulang, atau lebih tepatnya di pulangkan, tidak hanya seminggu atau 2 minggu saja. 2 bulan lebih! Senang dong? Belum tentu.
Keputusan wow seperti ini bukanlah hal pertama pada 2 minggu ini yang menyebabkan santri merasa nano-nano. Sebelumnya sudah ada surat edaran yang membatalkan seluruh rencana agenda kegiatan akbar tahunan di pesantren ini. Rangkaian acara Haflah dan Ziaroh yang sudah dirapatkan berbulan-bulan yang lalu, menghabiskan banyak waktu untuk begadang memulai rapat di atas jam 12 malam dan berakhir hingga waktu mujahadah pagi sekitar jam setengah 4 pagi sebelum Subuh pun secara tiba-tiba dibatalkan.
Wajar bagi kami untuk waktu rapat jam segitu, karena jam ngaji kami baru selesai paling malam ya pukul 12 malam. Dan malam ini, keputusan yang sudah disepakati oleh pengurus dan pengasuh adalah dengan memulangkan santrinya. Karena dirasa menjaga diri di rumah masing-masing adalah jalan terbaik saat pandemi ini mengingat fasilitas dari pesantren yang belum memadai.
Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya di pesantren ini. Santri bisa pulang berbulan-bulan di rumah. Tanpa kesulitan memikirkan izin seperti apa yang akan disetujui oleh pengasuh. Namun tidak seperti itu. Beberapa dari kami justru merasa galau. Banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benak kami.
‘Apa ndak apa-apa kalau aku pulang? Aku malah takut kalau bawa virus ke rumah’.
Ada juga yang cemas karena kendala sangu akhir bulan yang sudah sangat menipis. Santri-santri galau. Pengurus pun juga lebih khawatir. Selesai surat edaran dibacakan, kami langsung kembali ke kamar dan mengambil HP masing-masing memberi kabar kepada keluarga di rumah bahwa kami akan segera pulang. Keesokan harinya, seluruh santri melaksanakan Ro’an Akbar, hal rutin yang biasa dilakukan sebelum liburan karena pesantren akan ditinggalkan pada waktu yang cukup lama.
Sekitar 3 hari jangka waktu yang diberikan oleh pengurus untuk para santri meninggalkan pesantren. Semua santri pulang, tersisa pengurus dan mbak abdi ndalem saja di pesantren, karena memang pesantren tidak dibiarkan kosong blong. Bagaimana denganku? Aku hanya melihat teman-temanku satu per satu pulang. Ya. Aku tetap disini. Hingga.. hingga waktu yang tidak ditentukan. Semakin hari pesantren yang biasa ramai dengan lalaran, majelis muthola’ah, kini menjadi sunyi senyap. Hanya ada 18 orang saja.
Sebulan berlalu..
Ting!
HPku bergetar. Ternyata ada yang mengomentari story whatsapp yang baru ku buat beberapa menit yang lalu.
Rina : “Mbak Siti gimana kabarnya? Masih di pesantren tah? Ndak pulang?”
Aku : “Hehe, Alhamdulillah sehat.. Iya Rin, gak kemana-mana kok aku. Lha ya ndak pulang to, kondisinya aja masih begini, ndak memungkinkan banget lah kalo pulang.”
Rina : “Wah, mantap mbak. Sehat-sehat terus ya mbak disana, jaga kesehatan.”
Aku : “Iya Rina, kamu juga ya! Semoga juga jualan online mu itu makin laris hehe. Eh, nanti lagi ya, ini aku mau jama’ah tarawih dulu. Sudah adzan.”
Memang pandemi ini yang mengharuskan masyarakat karantina di rumah saja, membuat kita harus memutar otak mencari kegiatan apa lagi yang bisa dilakukan di dalam rumah agar tidak bosan. Banyak dari teman-temanku yang pulang ke rumah mendadak jadi penjual barang-barang olshop, menjadi atlit marathon drama korea, bahkan ada juga beberapa yang menghasilkan karya tulis hingga dimuat di lembaga ternama.
“Siti, ayo berangkat yuk! Udah mau qomat itu lho!”
Langsung ku tutup HP ku, dan bergegas ke Aula. Saat ini bulan Ramadan. Jika masjid-masjid di luar dihimbau untuk tidak melaksanakan solat berjemaah di masjid, aku merasa bersyukur karena masih bisa merasakan solat tarawih berjamaah seperti biasa, merasakan euphoria Ramadan, walaupun tidak seramai tahun lalu.
Bersambung…
Penulis sedang belajar mengaji di Yogyakarta
