f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
samar

Menjauhi Hal yang Samar

Salat Isya’ berjamaah selesai dilaksanakan. Seperti biasa, orang-orang yang ikut berjamaah di masjid bercengkerama sejenak di serambi masjid. Warga desa mayoritas adalah petani, jadi tak heran apabila malam hari mereka bersantai dan bercengkerama sejenak untuk melepas penat seusai seharian di sawah. Saat itu, purnama nampak begitu jelas di langit malam.

“Padi gimana, pak? Udah diberi pupuk?” Tanya Pak Samsul pada seluruh orang yang duduk di serambi bersamanya.

“Yah…Nggak bisa seperti biasanya sih, pak, dosisnya! Sekarang sulit banget nyari pupuk subsidi,” respon Pak Mat.

“Iya! Sekarang pupuk subsidi sering telat. Kita harus keluar uang dua kali lipat untuk dapat pupuk yang nggak bersubsidi,” sahut Pak Hari.

“Kalo kaya gini terus, petani bisa rugi besar,” Pak Agus menyimpulkan.

“Sedang ngomongin apa bapak-bapak? Kayaknya serius sekali.” Pak Mansur yang baru keluar dari dalam masjid menyapa mereka yang tengah berbincang-bincang di serambi masjid. Pak Mansur adalah imam di masjid tersebut. Tak hanya sebagai imam, ia juga menjadi tempat bertanya saat masyarakat menghadapi problematika. Dia, secara tidak langsung, menjadi tokoh yang sangat disegani oleh warga desa.

“Eh! Ini lho, pak, lagi ngomongin sulitnya dapet pupuk subsidi sekarang. Nggak kayak dulu.” Pak Samsul menjawab.

“Penyebabnya apa, pak, kok bisa sulit sekarang?” Tanya pak Mansur.

“Entahlah, pak! Mungkin petani sekarang nggak terlalu diperhatikan oleh pemerintah,” Pak Hari menimpali.

Obrolan malam itu pun berlanjut hingga jam 8 malam, mereka lantas pulang ke rumah masing-masing. Desa itu belum padat penduduk. Jadi, maklum jika jam 9 malam keadaan sudah terasa begitu sepi. Bahkan, beberapa rumah sudah mematikan lampu pada jam tersebut. Kendati demikian, warga desa sebenarnya belum terlelap. Mereka masih menikmati santai bersama keluarga.

Baca Juga  Antara Kamu dan Mahabbah Kepada-Nya
***

Seminggu lagi diadakan pendaftaran calon lurah. Hanya beberapa orang yang tertarik dengan hal tersebut, sisanya hanya ingin melihat siapa saja wajah-wajah yang akan muncul di baliho kampanye. Pak Rusdi adalah salah satu orang yang menanti-nanti momen ini. Dia sudah tak mau lagi dipimpin, dia merasa bahwa hanya dirinyalah yang kompeten dan layak untuk memimpin desa ini.

Saat tanggal pendaftaran tiba, pak Rusdi menjadi orang yang paling pertama mengisi formulir pendaftaran. Dia sangat percaya diri akan menang di pemilihan kali ini. Dia sudah menyiapkan segalanya, mulai dari tim sukses, baliho kampanye, hingga baliho kemenangan. Pak Rusdi benar-benar yakin akan terpilihnya ia sebagai lurah kali ini.

Sepuluh hari terlewati sejak pendaftaran calon lurah dibuka. Namun, masih belum ada lagi yang mendaftar. Nama pak Rusdi masih menjadi satu-satunya nama yang tercatat di formulir pendaftaran. Pak Rusdi pun merasa semakin yakin bahwa dirinya akan menang dengan begitu mudah.

Sementara itu, mayoritas warga desa yang mengetahui bahwa pak Rusdi mencalonkan diri sebagai lurah, merasa bimbang dan khawatir. Mereka tahu bahwa hanya pak Rusdi yang merupakan lulusan S2 di desa itu. Masalahnya, pak Rusdi memiliki kepribadian egois dan arogan. Tentu saja hal tersebut sangat tak disukai oleh masyarakat. Mereka lantas mencari orang yang mampu menyaingi pak Rusdi dalam pemilihan lurah kali ini.

***

“Ini nggak bisa dibiarin kalo yang daftar cuma pak Rusdi! Kita harus temukan orang yang bisa menyainginya, dan ia diperkirakan dapat suara banyak dari pemilih.” Pak Mat menunjukkan keseriusannya untuk mencari saingan pak Rusdi.

“Tapi masalahnya, di desa kita jarang ada yang mau maju sebagai kepala desa. Selain itu, pak Rusdi juga merupakan satu-satunya orang dengan tingkat pendidikan tertinggi di sini.” Pak Samsul menimpali.

Baca Juga  Rumah untuk Siwi

“Waduh! Gimana ini? Jangan sampai pak Rusdi jadi calon tunggal, dan akhirnya kita mau nggak mau mesti milih dia!” Sahut Pak Hari.

“Gimana kalau kita ajukan pak Mansur aja?” Pak Agus memberi saran. Orang-orang yang ada di tempat itupun terdiam. Mereka tampak memikirkan banyak kemungkinan, mencerna saran dari Pak Agus.

“Benar! Saya setuju jika pak Mansur maju sebagai calon lurah,” Pak Hari menyepakati.

“Tapi, kira-kira dia mau nggak ya?” Pak Mat ragu.

“Kita harus datangi rumahnya dan memintanya untuk maju sebagai calon lurah! Saya usul nanti malam, karena lebih cepat akan lebih baik, bagaimana?” Pak Samsul ingin gerak cepat. Tanpa menunggu waktu lama, mereka semua langsung menyetujui ajakan Pak Samsul tersebut.

***

Malam hari selepas shalat Isya’, orang-orang yang tadi berkumpul kini menunggu Pak Mansur keluar dari dalam masjid. Saat Pak Mansur telah selesai membaca wirid dan keluar dari masjid, mereka semua langsung mengutarakan niat untuk pergi ke rumah Pak Mansur. Pak Mansur pun menyambut niat tersebut dengan baik, ia langsung mengajak orang-orang di serambi tersebut menuju rumahnya.

“Wah, ini ada apa bapak-bapak kok malem-malem tumben berniat datang bertamu?” Tanya Pak Mansur saat semua sudah duduk di rumahnya.

“Ini, pak! Bapak tahu sendiri sekarang desa kita sedang membuka pendaftaran calon lurah. Sampai saat ini, hanya pak Rusdi yang sudah mengisi formulir pendaftaran. Kami semua di sini tidak ingin dipimpin oleh sosok seperti pak Rusdi. Oleh sebab itu, supaya pak Rusdi tidak menjadi calon tunggal, kami di sini hendak mengajukan bapak sebagai calon lurah,” Pak Samsul menjawab tanpa basa-basi.

“Lho! Bapak-bapak ini bagaimana? Saya cuma orang yang ditugasi mengimami salat jamaah di masjid. Saya nggak punya kapasitas sebagai seorang lurah. Selain itu, saya pun lebih memilih menjalankan tugas sebagai imam masjid daripada menjadi lurah. bapak-bapak pasti tahu ada orang yang lebih layak maju sebagai calon lurah selain saya,” jawab pak Mansur.

Baca Juga  Antara Kaf dan Nun

“Hanya bapak harapan kami satu-satunya untuk mengalahkan pak Rusdi dalam pemilihan kali ini. Tolong, pak! Penuhi permintaan kami. Kami akan selalu mendukung bapak. Termasuk akan memenuhi apa yang bapak butuhkan. Kami semua sudah yakin jika warga desa akan lebih banyak memilih bapak dalam pemilihan nanti,” Pak Mat memaksa.

“Jangan berharap pada manusia, apalagi yang seperti saya, bapak-bapak! Bapak-bapak malah akan dapat kecewa. Dan, sekali lagi saya mohon maaf, saya belum bisa memenuhi permintaan bapak-bapak. Namun, saya akan tetap berusaha mendoakan supaya bapak-bapak mendapat seseorang yang terpercaya untuk mengemban amanah sebagai lurah,” Pak Mansur menanggapi.

***

Sebenarnya, Pak Mansur menolak untuk mendaftar sebagai calon lurah bukan semata karena alasan yang telah dipaparkannya tadi. Waktu ia masih berada di pesantren, kiainya pernah berpesan supaya jangan sampai ia menjadi seorang pejabat. Apa pun yang terjadi, kalau bisa jangan sampai menjadi pejabat. Sebab, hal tersebut merupakan salah satu perkara syubhat (samar). Jika tak pandai membedakan mana yang benar dan mana yang salah, akan berujung membawa kerusakan pada yang dipimpinnya. Oleh karena itu, jika ingin menempuh jalan selamat, jangan sampai menjadi pejabat.

Pak Mansur yang ingat dengan hal tersebut lantas meneteskan air matanya saat ia duduk menghamba di sepertiga malam terakhir.

Bagikan
Post a Comment