Namaku adalah Yura
Namaku adalah Yura, usia ku 12 tahun. Usia yang sangat cukup untuk berpikir dan membedaka kehidupan ini menjadi dua rupa. Rupa yang baik yang kusebut dengan putih dan rupa yang buruk yang kusebut dengan hitam. Inilah cerita sekilas tentang diri ku.
Pagi ini pak guru memanggil orang tuaku. Aku akui aku salah, sejak BDR di semester dua ini jarang aktif belajar. Aku hanya kirim foto ke group untuk menunjukan kehadiranku, setelah itu aku tidur lagi. Ibuku sibuk bekerja, ia kadang sampai 2 hari tidak pulang. Aku di rumah bersama adikku yang juga masih SD. Dia kelas 4 SD dan aku kelas 6 SD.
Perpisahan Keluarga
Ayah dan ibuku sudah satu tahun lalu berpisah. Sebelum berpisah mereka sering sekali bertengkar bahkan tak jarang ayah memukul ibu di depanku. Sungguh hal yang menjijikan, seorang laki-laki memukul perempuan itu adalah tidakan yang memalukan.
Sebenarnya aku tahu ibuku ingin mempertahankan rumah tangganya. Tapi siang itu, ketika ayah dan ibu bertengkar, dengan sadar ayah menalak ibu lebih dari 3 kali. Hingga abangku yang kedua menarik ibuku dan menitipkannya ke rumah nenekku. Lalu berpesan “mamah sudah haram sama papah”. Hal itu aku dengar satu tahun lalu namun aku belum mengerti maksudnya.
Kini aku baru merasakan, hidup dengan kelurga yang tidak lengkap seperti ini. Setiap hari aku harus memperhatikan adikku. Karena ibuku sangat sibuk, sibuuuk sekali. Walaupun aku rajin membantu adikku, tetapi aku sangat malas mengerjakan tugas di classroomku. Hal ini aku lalukan sebagai bentuk protes kepada ibu.
Aku ingin diperhatikan, aku ingin ibu kembali seperti dulu. Merapikan kerudungku, mengusap mukaku yang dipenuhi dengan bedak, hingga merapikan kerah bajuku. Memang semua yang ibu lakukan untuk aku, dua kakakku dan satu adi ku. Namun aku bukan hanya butuh uang, aku juga butuh kasih sayang.
Sering kali aku merasa iri dengan teman-temanku. Mereka yang hidup rukun dengan orang tua yang rukun. Hidup bahagia walaupun banyak kurangnya. Jauh berbeda dengan kehidupanku sekarang.
Hidup untuk Menyelesaikan Masalah
Dulu orang selalu menjadikanku pusat perhatian sering diperbincangkan. Aku sering mondar-mandir mengisi acara di stasiun televisi. Mengenakan pakaian bagus, dengan teknologi terbaru. Akan tetapi kini aku hanya tinggal di kamar yang pengap ini. Penuh dengan rasa malu dan binggung, pada siapa aku harus mengadu dan mengeluh.
Betapa berat tugas dan beban yang harus kutempuh sebagai anak perempuan. Karena apa yang aku alami ini aku juga sangat takut kepada laki-laki. Walapun kedua kakakku dan adikku juga laki-laki. Aku tetap saja merasa takut.
Kadang rasanya ingin mengakhiri hari saja. Karena mungkin sudah banyak orang tak peduli denganku. Orang dewasa hanya sibuk dengan urusan mereka saja. Mengatasnamakan kami sebagai anak-anaknya, namun keputusannya jauh dari kebutuhan kami. Apakah begitu takdir menjadi orang dewasa? Penuh dengan amarah, egoisme, ambisius hingga meniadakan bahwa ada hak anak untuk hidup rukun.
Kadang, rasanya aku ingin mengakhiri semua ini. Namun Kata PaK An, guru kelasku. Hidup itu isinya masalah dan kita diutus Tuhan untuk menyelesaikan. Mungkin ini masalah pertamaku. Ketika aku mengenal hitam dan putih kehidupan.
Pesa ku kepada orang-orang dewasa, mengertilah, berkorbanlah. Hentikan ego kalian merasa paling tahu tentang kami. Dan bagi teman-teman yang senasib denganku, sabarlah, ingat pesan Pak An. “Hidup itu isinya masalah”. Bagiku air mata tak cukup menyelesaikan masalah. Tapi aku harus berbuat APA?
Wakil ketua umum Himpunan Mahasiswa Ilmu Pendidikan FKIP UHAMKA Pada Periode 2010-2011. Ketua bidang kader Pimpinan Cabang IMM Jakarta Timur Pada Periode 2012-2013.
Menjadi sukarelawan mengajar pada bidang matematika di SDN 1 Tobaku 2015 dan mengajar pada bidang Bahasa Indonesia pada jenjang MTS di Pondok Pesanteren Darul Istiqomah Katoi Kabupaten Kolaka Utara Provinsi Sulawesi Tenggara. Hingga saat ini tercatat sebagai guru di SDN Cipinang Besar Selatan 08 Pagi
