Lima Ribu Rupiah
“Tidaaaaak …. jangaaan …. lepaskan …. toloooong” Bu Supiyah terus berteriak meminta tolong. Berharap ada siapapun di sana yang dapat menolongnya.
Bu Supiyah berusaha berontak dengan sekuat tenaga. Ia cakarkan jarinya ke arah muka Pak Manten, tapi gagal. Tangannya yang kecil tidak berhasil mengenai apapun. Dia terus meronta berusaha melepaskan diri dari lelaki bejat itu.
“Aku akan memberimu uang lima.” Suara Pak Manten terdengar seperti ancaman yang menakutkan di telinga Bu Supiyah. Bu Supiyah terlihat bergidik sendiri.
Perlahan Pak Manten mendekatkan wajahnya yang banyak ditumbuhi rambut halus keriting ke arah wajah Bu Supiyah.
Bu Supiyah berteriak histeris sambil terus meronta-ronta.
“Bu, Ibu … bangun Bu … “
Teriakan Bu Supiyah membangunkan Risna anak bungsunya yang tidur di sampingnya. Diguncang-guncangnya tubuh Ibunya yang meronta dengan mata terpejam.
“Astaghfurullahal ‘adzim.” Bu Supiyah mengusap wajah dengan kedua tangannya yang masih gemetar.
“Ibu mimpi apa Bu?’ Tanya Risna khawatir.
“Ngga, Ibu ngga papa, sudah sana tidur lagi. Jangan lupa baca doa.” Bu Supiyah menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, kemudian dia mengucap istighfar beberapa kali.
“Tidur lagi nduk, ini masih malam. Ibu mau bangun, mau shalat dulu.” Bu Supiyah bergegas ke dapur dan dia tidak mendapati bahan lauk apapun untuk sahur malam ini.
***
Gerimis malam itu sungguh membuat hampir siapapun malas untuk bangun makan sahur. Apalagi jika harus bangun lebih awal untuk memasak di tungku dengan kayu yang sedikit basah karena air hujan yang masuk melalui celah-celah dinding bambu yang mulai rapuh.
Bu Supiyah berjalan dari rumahnya menuju ke warung Mbah Munir yang terletak hampir di ujung desa, dekat masjid.
Tangan kanannya memegang ujung tangkai payung butut yang sudah patah sebagian. Angin dingin berembus menerpa rinai yang membentuk garis arsir pada gelapnya malam.
Kilat tiba-tiba menyambar. Cahaya terang yang menyilaukan membuat langkah Bu Supiyah terhenti. Gerimis masih awet membasahi sepertiga malam yang semakin sunyi. Bahkan, Kang Sodri yang biasa membangunkan warga untuk sahur melalui pengeras suara di masjid, malam itu sepertinya malas bangun. Buktinya, belum ada tanda-tanda pengeras suara di masjid akan berbunyi.
Bu Supiah menepi ke teras rumah salah satu warga. Teras tanpa dinding itu sedikit mempermudah langkahnya untuk segera berlindung dari kilat yang masih menyambar bersahutan. Bu Supiah tak henti-hentinya melafadzkan bacaan tasbih.
“SubhanAllah SubhanAllah SubhanAllah” Ia berlindung dan berpasrah diri hanya kepada Allah.
Perlahan, kakinya hendak melangkah lagi. Tapi kemudian ditariknya cepat.
Tiba-tiba dia seperti baru mengingat sesuatu.
“Ini masih sekitar jam 3 malam. Mbah Munir mungkin belum bangun. Tapi jika aku mengetuk warungnya, mungkin dia mau bangun. Tapi ……” Bu Supiyah menggaruk kepalanya yang berbalut jilbab coklat lusuh. Mendadak kepalanya jadi gatal.
“… itu jika aku membawa uang untuk membeli tahu atau tempe di warungnya. Tapi aku tidak membawa uang sepeserpun. Apa dia tidak akan marah jika malam-malam begini aku bangunkan hanya untuk ngutang?” Manik cekung Bu Supiyah menatap kosong, bahunya meluruh lemas.
***
Bu Supiyah melangkah pulang. Kakinya gontai diantara rintik hujan yang menjadi saksi kepedihan batinnya kala itu. Baru beberapa langkah, Bu Supiah berhenti lagi.
Terbayang di pelupuk matanya wajah anak-anaknya yang sebagian masih kecil-kecil.
Mungkinkah mereka akan makan sahur hanya dengan nasi dingin yang ditaburi garam dapur?
Hati Bu Supiyah seperti teriris membayangkan wajah anak-anaknya di rumah.
Tanpa terasa, bulir bening menetes membasahi pipi Bu Supiyah yang sebagian menghitam karena terlalu sering terkena panas saat bekerja di sawah.
Bulir bening itulah yang memaksa kakinya kembali berbalik arah menuju warung Mbah Munir.
Mantab kakinya melangkah di antara rinai yang belum juga mau berhenti. Sesekali tangannya menyeka ujung matanya yang basah.
Jarum jam mungkin sudah melewati angka 3 saat itu.
Dari depan warung Mbah Munir, tampak rumah Mbah Munir sudah terang. Pertanda penghuninya sudah bangun untuk bersiap makan sahur.
Bu Supiyah bergegas menuju teras warung yang sedikit lebih tinggi dari tanah.
Saat kaki kanan Bu Supiyah hendak menginjak lantai teras warung Mbah Munir, matanya yang memandang ke bawah tertuju pada sebuah benda yang tergeletak di tanah yang basah.
Matanya yang sudah tidak seberapa awas menelisik ke arah benda itu. Bahkan dia sampai membungkukkan badannya untuk memastikan penglihatannya.
“Uang? Benarkah?” Bu Supiyah bergumam tak percaya. Ia seperti mendapatkan durian runtuh.
“Tapi, uang siapa ini? Mungkinkah uang seseorang yang mau belanja di warung Mbah Munir terjatuh di sini?” Bu Supiyah masih bergeming menatap lembaran lima ribuan itu.
Ia senang bukan main, tapi juga ragu untuk memungut uang itu. Itu bukan miliknya. Tapi milik orang lain. Tapi anak-anaknya? Mereka harus makan sahur dengan apa?
Batinnya bergolak. Ia takut mengambil yang bukan haknya. Tapi dia juga punya tanggung jawab atas perut anak-anaknya. Hatinya berkecamuk. Bimbang.
Apa lagi seketika Bu Supiyah teringat akan mimpi yang membangunkannya tadi.
***
Beberapa detik dia tertegun menatap uang lima ribu yang semakin basah bahkan sebagian ujungnya mulai tertutup tanah berlumpur. Mungkin beberapa menit lagi kertas bernilai itu akan tertutup lumpur semua, rusak, dan tidak seorang pun melihat dan memungutnya.
“Bismillah ….” Akhirnya tangan kanan Bu Supiyah terulur untuk mengambil uang itu.
Dikibaskan uang itu dengan hati-hati. Dibersihkannya rejeki yang tidak terduga itu dengan tangan kirinya yang gemetar karena dingin dan rasa takut yang masih bergelayut di hatinya.
Setelah memastikan tidak ada siapapun di sana, Bu Supiyah mengetuk pintu warung Mbah Munir dengan pasti.
Setelah ketukan ketiga, daun pintu yang terpotong menjadi dua bagian atas dan bawah itu terbuka di bagian atasnya. Mbah Munir mempersilahkan Bu Supiyah masuk.
“Masih ada tempe dan tahu beberapa potong, mau tempe apa tahunya yuk?” Tanya Mbah Munir dengan menyebutkan panggilan akrab kepada Bu Supiyah.
“Tempe tiga, tahunya dua ribu Mbah.” Jawab Bu Supiyah bersemangat.
Bu Supiyah segera keluar dari warung Mbah Munir dengan menenteng kantong kecil berwarna bening berisikan bahan lauk sahur untuk keluarganya.
Saat melewati tempat ia menemukan uang tadi, Bu Supiyah terhenti sejenak. Maniknya menatap kubangan kecil yang makin terisi air hujan.
“Astaghfirullah …. Maafkan aku ya Allah. Semoga, ini adalah rejeki dariMu untuk kami. Aamiin.” Bu Supiyah melangkah pulang dengan senyum dan tangis. Perih dan bahagia bergumul jadi satu memenuhi benaknya.
Editor: Rifky Aritama
Seorang Ibu rumah tangga yang tak lagi muda, ingin merajut mimpi di dunia literasi. Berharap bisa menjadi inspirasi.
