Tutur kelembutan Seorang Istri
Pagi buta ini aku dibangunkan oleh perempuan dia adalah istri ku karena aku bakal disibukkan oleh pekerjaan kantor yang harus diselesaikan sesuai deadline. Ketika itu pula, di atas meja sudah tersajikan kopi panas buatan istriku.
“Abi, apa nanti tidak ngantuk saat kerja?” Tanya istriku
“Tidak, umi. Bulan–bulan ini abi banyak menerima pekerjaan kantor, kalau satu belum diselesaikan lalu datang pekerjaan lagi abi kalang kabut jadinya. Kan abi pernah bilang, kalau bisa sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.” Jelasku.
“Yasudah. Umi doain semoga abi selalu sehat wal afiat.”
“Aamiin. Sudah terdengar adzan, mari kita shalat jama’ah.”
Seraya menuju kamar mandi, aku juga membangunkan anakku. Aku selalu mengajarkan kepadanya untuk shalat berjam’ah.
Kebiasaan Setiap Pagi
Setelah aku membereskan meja kerja, aku menuju ruang keluarga untuk pamit berangkat kerja. Setiap pagi jika aku masuk kerja pagi, aku mengusahakan untuk mengantar anakku ke sekolah telebih dahulu. Hari ini aku mendapat kesempatan untuk mengantarnya. Salam kusampaikan dan mencium kening istriku tak lupa kulakukan. Hati – hati dan jangan lupa untuk selalu menjaga etika ketika bekerja, itulah pesan yang terucap dari bibirnya. Bagaimana hati ini tidak terpesona jika mengenalnya? Tentu saja itu yang ku alami.
***
Alhamdulillah sampai di tempat kerja. Untungnya meja kerja di kantor tak seberantakan meja kerja di rumah. Inilah aku bekerja untuk keluargaku, untuk istri dan anakku.Segala surat masuk dan keluar diserahkan kepadaku, aku ialah seorang sekretaris di sebuah perusahaan ternama, aku telah diamanati oleh atasan dan aku akan menjaga amanah ini sebaik mungkin seperti amanah dari Allah sebagai suami menjaga amanah untuk keluarganya. Memberi senyuman yang ramah kepada setiap pekerja yang lewat itulah modal utamaku, dari modal tersebut aku ingin dikenal orang dengan keramahan karena dengan keramahan orang pun akan senang.
Pekerjaan Di Kantor
“Asslamu’alaikum. Selamat siang, pak.” Aku mengetuk ruang kerja pimpinan.
“Wa’alaikum salam. Selamat siang, silahkan masuk!” Ucap seorang pimpinan.
“Ini semua berkas – berkas yang telah diminta oleh bapak.” Sambil menunjukkan hasil kerja dan beberapa berkas kepada beliau. Beliau memeriksa hasil kerjaku lembar demi lembar.
“Wah, sempurna. Baru saja ditugasi dua hari yang lalu, kamu menyelesaikan tepat waktu dan hasilnya sempurna tak mengecewakan sama sekali.”
“Alhamdulillah kalau begitu, pak. Apakah ada yang bisa dibantu lagi, pak?”
“Oh tidak. Masih ini saja nanti saya kabari lagi akhirnya saya tidak menyesal memilih kamu untuk jadi sekretaris di perusahaan ini.”
“Ah bapak bisa saja. Ini sudah kewajiban saya, pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk kemajuan perusahaan ini.”
“Pasti istri anda bahagia mempunyai suami seperti anda.”
“Alhamdulillah kami saling bahagia, pak. Memangnya ada apa ya, pak?”
“Oh tidak ada apa – apa. Yasudah, anda boleh kembali ke tempat kerja. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.”
***
Dari percakapan kami, aku merasa jika dalam keluarga Pak Subroto ada masalah namun biarlah toh itu privasi. Semoga beliau bisa menyelesaikannya. Nikmati sajalah kehidupan yang telah diberikan oleh Allah kepadaku ini. Istri yang taat kepada agama dan suami serta satu putra yang sholeh.
Mencari Nafkah
Ke sana kemari dari ruang kerja ke ruang pimpinan dari satu ruang ke ruang yang lain akhirnya aku bisa menyelesaikkanya.
Demi kebaikan kulakukan dan demi nafkah pula kulakukan semuanya karena Allah. Tanpa-Nya aku bukan apa – apa, aku hanya makhluk lemah di hadapan-Nya. Tanpa disadari jarum jam menunjukkan pukul 4 sore.
Kelebihan satu jam dari biasanya mungkin ini terlalu banyak pekerjaan yang kukerjakan. Aku mengemasi segala yang ada di atas meja kerjaku, kurapikan semuanya dan akhirnya selesai juga pekerjaannya.
Antara Kerja Dan Keluarga
Sepulang dari kerja, entah mengapa aku begitu bahagia menatapnya. Ternyata memang benar bahwa seorang istri yang paling baik ialah yang membahagiakan kita saat memandangnya. Saat aku berada di luar rumah, pikiranku sudah begini begitu yang membuat kejenuhan menghampiri namun ketika sampai di rumah inilah penyejuk hati. Terima kasih ya Rabb. Rasanya benar – benar pegal badan ini, kubaringkan di atas kasur. Ketika aku melihat di sebelah sebuah kalender esok menunjukkan tanggal 18 Mei. Besok adalah hari ulang tahun pernikahanku, sudah berapa kali aku tidak merayakannya dengan istriku dengan anakku. Mungkin ini saatnya, aku rindu akan kebersamaan dulu. Oh Gusti, terlalu mengejar deadline sampai lupa dan hampir lupa dengan keluarga. Tetapi entah mengapa istriku tak geram mengomel padaku tiap kali aku pulang terlarut malam dia begitu sabar.
***
Matahari pagi ini sangat bersinar, cerah sekali. Seperti biasa kulakukan, membereskan meja kerja di rumah lalu berpamitan kepada istri untuk bekerja. Saat ini aku tengah berpikir, aku ingin sekali memberikan kejutan kecil kepada istriku. Bukankah hari ini ulang tahun perkawinanku dengannya? Tetapi hari ini ada deadline. Saat malam pun datang, jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 9 malam.
***
Aku mengingat saat belum memiliki buah hati, aku dan istriku selalu meghabiskan ulang tahun perkawinan di sebuah resto kesukaan kami, kami dihibur oleh alunan musik yang enak didengar. Tak lupa juga, aku pernah melakukan hal yang memalukan. Jasku terbalik dan aku sungguh bingung menaruh muka ini di mana. Memang indah hal tersebut dikenang. Aku segera bergegas menuju resto itu, melihat tempat yang dulu kutempati berdua, melihat keadaan resto itu. Mungkin sudah berubah ataukah masih tetap sama seperti dulu. Terlalu asyik melihat ruangan, tak sadar aku telah menyenggol orang lain.
***
“Oh maaf, saya tidak sengaja.” Ucapku
“Iya, tidak apa – apa. Lain kali hati – hati ya Pak.” Dan ketika wanita tersebut mengangkat wajahnya. Subhanallah, dia adalah wanita yang menyempurnakan hidupku.
“Umi?”
“Abi. Ada apa Abi ke sini?
“Kita cari tempat duduk dulu yuk, Umi!”
“Baiklah, Abi.”
Sebuah Kebahagaiaan
Ternyata ada sedikit yang berubah dari resto ini, tetapi kita tetap menikmati tempat yang kita pilih dari dulu hingga saat ini. Aku datang meninggalkan beberapa pekerjaan kantor demi istri. Begitu juga ia, ia meninggalkan kegiatannya demi suaminya. Aku harap inilah sebuah pengorbanan untuk orang yang ia sayangi. Aku tahu, segala rencana Allah itu indah. Sangat indah. Istriku memberikanku sebuah kotak dan aku membukanya. Setelah kubuka, aku bingung apa maksud isi dalam kotak ini. Tetapi yang ada di fikiranku, ini sungguh sederhana.
“Pena?” Aku pun penuh tanya.
“Iya, pena. Abi tidak suka?”
“Oh tidak. Abi suka kok, suka sekali.” Pandanganku penuh tanya dengan pena ini.
“Masa’ Abi lupa?”
“Astaghfirullah. Abi baru ingat, Umi. Inikan pena yang Abi inginkan untuk keperluan kantor.” Jelasku kepadanya dengan memutar otak dan mengingat –ingat apa maksud dari pena ini.
***
Padahal aku tau bahwa harga pena ini cukup mahal. Oleh karena itu, aku dulu belum mampu untuk membelinya. Saat aku menanyakan soal harga rasanya canggung sekali. Ah biarlah. sekarang bergantian, aku yang memberikan sesuatu kepada istriku. Namun aku tak memberikan sesuatu yang baru kepadanya. Sesuatu yang lama jika kita mampu mengolah Insya allah akan disenangi banyak orang.
“Umi, bisa tidak melepas cincin yang ada di jari manis itu?” Tanyaku dengan menunjuk ke arah cincin tersebut.
“Baiklah, Bi.” Ucapnya seraya melepas cincin dari jari manisnya dan memberikan kepada ku. Harusnya ia mengerti dan mungkin sebagai seorang wanita akan bertanya – tanya ada apa, mengapa dan sebagainya. Namun istriku berbeda, tak membantah sedikit pun ketika aku menyuruh melepas cincin pernikahan kita.
“Tolong tangan Umi sebelah kiri diletakkan di atas meja!” Pintaku.
“Boleh. Memang ini ada apa toh, Abi?”
“Sudahlah, nanti Umi akan mengerti.” Ucapku dengan sedikit menghibur.
***
Dag dig dug, jantung ini semakin menjadi jadi saat aku memulai kata pertama. Oh Gusti, ini seperti muda kembali. Ini tak seperti biasanya. Ini seperti bukan diriku pada umumnya. Ah biarlah, mungkin ini efek hari pernikahan. Bisa jadi itu.
“U..Umi. Cincin ini memang bukan beli baru, mungkin ini tak seperti yang diharapkan, Umi. Di sini Abi ingin menyematkan cincin ini ke jari Umi layaknya orang menikah. Apakah Umi mau menerimanya?” Hati begitu plong ketika kata demi kata telah terucap. Seketika itu hening menghampiri keadaan di sekitar. Aku tak mendengar kata yang terucap dari bibirnya. Aku menerima sebuah tetesan air mata yang menandakan bahwa ia terharu akan semua ini.
“Apapun yang Abi berikan asal itu tak membuat hati dan pearasaanku terluka, Umi akan menerimanya dengan senang hati.”
“Terima kasih banyak, Umi. I love you.” Ucapan terakhir dengan bisikan halus.
Usaha Yang Tak Sia-Sia
Alhamdulillah usaha yang kulakukan yang mana membuat haru istriku tak berujung sia – sia. Awalnya memang bingung, apa yang harus aku berikan untuknya sebagai surprise. Sejenak aku teringat akan hal yang kita miliki di rumah, yah dia adalah anak kami. Mengabaikan waktu hingga larut malam di tempat seperti ini tidak baik. Kami berdua bergegas pulang karena masih ada tanggungan yang harus kami selesaikan.
Sesampainya di rumah istriku masih senyum – senyum sendiri. Entah apa yang membuatnya hingga seperti itu. Peristiwa tadi atau ada hal lain, tetapi sudahlah. Hati mengatakan bahwa ia tersenyum – senyum sendiri atas peristiwa tadi. Kami berdua melihat seisi kamar putra kami, dia sudah terlelap begitu nyenyaknya.
***
“Umi, ayo bangun. Kita shalat Tahajud dulu.” Aku membangunkan istriku perlahan – lahan dengan suara lirih.
“Abi saja yah yang shalat. Badan umi terasa capek. Maaf ya abi.” Ucapnya sembari mengucek matanya.
“ya sudah. Umi tidur saja lagi.” Suruhku.
Tolakkan istriku kali ini seolah – olah menyayat hati. Keesokan harinya ia pun tak bangun seperti biasanya. Yang seharusnya sudah berpakaian rapi dan menyajikan sarapan untuk kami, namun ia masih tertidur pulas di tempat tidur. Akupun mencoba untuk membangunkannya. Oh gusti, keningnya demam begitu pula tangan dan kakinya. Mungkin ini penyebab istriku terlihat aneh.
Tidak peduli dengan keadaan sekitar aku langsung menelpon seorang dokter untuk datang ke rumah. Mukanya pucat sampai aku tak tega melihatnya.
Istri yang selama ini kukenal selalu nampak sehat, tegar namun jika keadaannya seperti ini aku jauh lebih memahami bahwa wanita akan kehilangan cerianya saat tak berdaya menahan sakit.
Hari ini pula aku memutuskan untuk ijin tidak bekerja. Aku ingin menemani istriku, jika bukan diriku siapa lagi meskipun ada pembantu di rumah. Namun itu masih kurang bagiku. Menyuapinya, menemaninya, mengajaknya tersenyum betul – betul hadiah dari Allah yang lebih indah. Terima kasih atas karuniMu, maafkan aku Umi yang telah berburuk sangka kepadamu. Tak ada yang lebih indah selain istri sholehah. (End)
Editor : Amanat Solikah
Pembelajar yang masih haus akan tulisan fiksi
