f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
linuhung

Linuhung

Dia tampak sibuk mengenakan pakaian khususnya. Dress panjang, wajahnya dihiasi eye-shadow dan beberapa jenis cat wajah lainnya. Siska membelinya khusus, untuk momentum ini. Kami berdua berkencan, untuk ulang tahunnya kali ini, kami selenggarakan sebuah acara khusus. Aku akan merekam suaraku dalam pengajian Al-Quran, di kamarnya, sedang dia menemaniku dengan pakaian khusus itu.

Di sudut ruangan, ada tape recorder, aku duduk di sebelahnya. Tampaknya dia telah mempersiapkannya sebelum aku datang. Sejujurnya, aku sedikit merasa tegang. Di samping karena aku orangnya demam mike rekaman, juga aku sudah cukup lama tidak mengaji Al-Quran. Ditambah nanti aku harus melagukannya. Itu adalah masa silamku yang kini nyaris seutuhnya terkubur. Apabila hal ini aku lakukan untuk menghormati ulang tahunnya, itu karena sekelebat ide hebat muncul mendadak yang tidak pernah aku mengerti. Mungkin saja karena hal-hal baca Quran yang merupakan tulusku ke Siska yang terungkap ke situ. Atau bisa jadi karena aku tidak punya apa-apa untuk membelikannya suvenir.

“Udah siap, Siska?”                  

“Waa, belum, Mas.”

Ya beginilah orang bersolek. Sejak tadi Siska tidak berpakaian karena dia sengaja kalau dia akan berpakaian jika ada aku di dalam kamarnya. Toh, padahal aku dilarang untuk menyaksikan.

Aku membolak-balik Al-Quran. Sengaja aku pilih surat An-Nur. Tentang Tuhan adalah cahaya. Bagi langit dan bumi. Cahaya itu menyala sebelum dinyalakan…

“Oke, Mas!”

Siska muncul di belakangku. Langsung aku menolehnya.

“Fantastis!”

Dia tersipu. Sontak memegang bagian dadanya, melenggokkan tubuhnya ke arah samping. Wajahnya seperti perawan yang baru menerima lamaran. Siska terlihat bahagia sekali.

Sama sekali tidak ada orang lain di rumah. Hanya ada beberapa mahasiswa indekos di sebelah sana. Siska menempati rumah ini sendirian. Dia warisi dari orangtuanya. Sedang kakak-kakaknya telah berkeluarga dan punya rumah sendiri-sendiri.

Ada perasaan malu yang besar juga dalam diriku, tapi aku tidak peduli. Aku hanya akan mengaji.

Baca Juga  Ayahku Seorang Abdi Negara: Memaksa Anaknya Kuat Sebelum Masanya

“Oke ya, Siska?”

“Ya, Mas…”

Siska mulai dengan hati-hati duduk di kursi sebelahku. Aku berdebar-debar.

Tombol rekam dan play kutekan. Aku menarik napas panjang dan berkonsentrasi. Napas Siska kudengar mulai tersengal.

“Audzubillahiminasyaithonirrojiem.”

Dengan sedikit tegang, aku lampaui ayat demi ayat. Hatiku berdebar dan terasa aneh. Selesai beberapa ayat, sambil kulirik Siska, berjingkatlah dia. Dia berdiri dari kursi, perlahan-lahan sekali dan tidak menimbulkan suara, kemudian (tidak kusangka-sangka) dia bersimpuh di lantai. Kuteruskan mengaji.

Wajahnya bagaikan histeris. Perasaan entah apa itu seperti berkecamuk di dalam dirinya. Tiba-tiba saja di tengah ayat, Siska menaruh perlahan-lahan keningnya di lututku. Sontak darahku tersirap. Dalam diriku, tumbuh perasaan khawatir dan takut yang menyebar besar sekali, tapi ngaji tetap kuteruskan. Beberapa lama aku hanya bisa membiarkan kepalanya di lututku, namun kemudian secara tidak sengaja kakiku bergerak. Alhamdulillah Siska peka menangkap isi perasaan dari gerakku itu, sehingga setelah itu dia mendongak. Lalu kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Betapa ibanya aku.

Akhirnya, setelah kuselesaikan mengaji, “shodaqollohuladhiem…” Aku merasa terlepas dari mulut harimau. Aku lega dan menarik napas amat panjang.

Sekilas Siska memandangku tapi kemudian menunduk lagi.

“Maafkan, Mas,” katanya.

Sekali lagi aku hanya mengempaskan napas panjang.

Siska bersikap bak menyembah menyesali perbuatannya. Dia kelihatan begitu takut padaku.

“Tidak apa-apa, Siska,” kataku. “Kita tetap bersahabat baik. Tidak ada perubahan apa-apa dalam hubungan kita.”

“Aku hampir tidak bisa membendung niat burukku. Aku terlalu merasa terharu dan bahagia. Mas terlalu baik padaku…”

“Tidak apa-apa. Itu lumrah sekali. Silakan duduk.”

Perlahan-lahan Siska bangkit. Duduk di kursi.

“Semuanya akan terjaga jika kita memelihara batas. Seperti yang pernah aku ceritakan dulu di pesantren kalau aku pernah berkelahi melawan seniorku yang coba-coba mau menggauliku. Entah seperti apa, tapi aku tidak bisa diperlakukan sebagai perempuan dan atau memperlakukan yang bukan perempuan sebagai perempuan. Aku tidak bisa mengubah diriku untuk hanya bisa berhubungan seperti itu dengan perempuan. Tapi itu bukan halangan bagi hubungan kita. Kita tetap bersahabat akrab dengan memahami diri masing-masing.”

Baca Juga  Riuh yang Bersembunyi

“Mas mau memaafkan aku?”

“Kenapa tidak? Tuhan saja Maha Pemaaf.”

Siska ini memang jatuh cinta sama aku. Ini diutarakannya terus terang padaku. Aku juga mengutarakan terus terang tentang keadaanku. Marilah kita bercinta pada tempatnya. Kau mencintai dan bersedia menerima apa yang mampu aku berikan, sedang aku pun mencintai penderitaanmu.

Syukurlah Siska sudah semaksimal mungkin dapat bersikap dan berpikir rasionil. Ini agak mengurangi penderitaannya, di tengah lingkungan yang kerap mengejeknya, jijik dan meludahinya, juga tidak memberinya eksistensi sebagai manusia yang memiliki kondisi tersendiri.

Siska ini bekas hakim. Dia sarjana yang sebenarnya cukup cerdas. Namun dia berhenti dari statusnya itu karena merasa agak bertentangan dengan jiwanya. Setelah itu dia memutuskan di rumah saja, meneruskan usaha dagang orangtuanya. Maha Adil Tuhan, karena terhadap orang seperti Siska ini, Dia lebih memberikan kemurahan.

Aku telah berjanji akan ikut menemani hidupnya, dengan cara yang mampu kuberikan. Dia dalam hidupnya tidak akan memperoleh kebahagiaan yang orang lain dapat memperolehnya. Tapi tidak menutup kemungkinan dia bisa mendapatkan kebahagiaan yang lebih tinggi dari dirinya sendiri, dari keikhlasannya atas segala yang Tuhan takdirkan baginya.

Aku kenal Siska ketika nonton film. Setelah nonton, dia mentraktirku makan, sambil memanfaatkan waktu untuk menceritakan segala segi hidupnya. Setelah itu aku sering dolan ke rumahnya dan tentu saja para tetangga yang ada di sekeliling langsung berkesimpulan kalau aku adalah pacarnya Siska, dan selalu main dengan Siska.

Kemudian mereka merendahkanku. Jangankan mereka, kawan-kawanku sendiri saja tidak semuanya percaya tentang apa yang sesungguhnya aku lakukan. Mereka hanya tahu aku main dengan Siska. Dan aku dikasih duit sebagai upahnya. Ya, memang Siska ini punya pacar yang bersedia main dengannya. Itu hanya tergantung perjanjian, apakah seseorang mau atau tidak bermain dengannya. Kepada orang yang enggan, Siska tetap menghormatinya sebagai kawan. Siska tidak sekadar bergaul untuk seks.

Baca Juga  Sedih yang Diratapi

Yang paling berat bagi Siska adalah masa depannya yang tidak akan bisa dia isi dengan persuami-istrian. Karena siapa yang mau jadi suami atau istrinya secara total. Dan masyarakat umum yang tidak punya kesediaan untuk mengakui eksistensinya. Tapi, serba sedikit, pelan-pelan Siska berhasil mengatasi hal ini.

Aku sendiri menerimanya dengan batas yang kumampu. Aku bisa menemaninya dengan pikiran-pikiran yang menguatkannya. Tapi untuk berjalan, nonton, atau ke mana-mana bersamanya, terus terang memang masih ada cukup keberatan dalam perasaanku. Siska memahami kondisi ini. Persahabatan kami terbangun dengan pengertian bersama yang rasionil. Dan dengan kesediaan untuk berkorban. Baginya, ada satu orang saja yang memberikannya keleluasaan untuk menjadi dirinya sendiri, sudah merupakan kebahagiaan besar. Namun untuk itu, baik orang itu atau Siska sendiri, harus siap melawan alam stigma masyarakat.

Dan saat aku mengulangtahuninya dengan merekam ngaji ini pun, beban itu sebenarnya tetap ada. Tapi kecintaanku kepadanya sebagai manusia, tetap lebih besar.

“Tidak apa-apa, Siska. Kenapa musti sedih?”

“Sungguh, Mas…”

“Kenapa tidak?”

Air mata Siska mengalir. Make up di sekitar matanya tersapu. Lepas dari sosoknya, dia terlihat berbahagia dalam balutan pakaian putrinya itu.

Semoga Allah memberikan kekuatan pada Subadra, yakni Siska Andriani itu.

Bagikan
Post a Comment