Merasakan Berbagi Cinta
Belum mampu kulupakan kemarahan atas segala perih yang rasanya tak layak untuk dikenang. Marah pada Tuhan yang mengambil segala kemudahan dalam hidup. Mempersulit hidup aku, seorang bocah berumur sepuluh tahun. Tega benar, memberi cobaan sebesar ini.
Namaku Rahma, nama kampungan yang Ibu dan Ayah berikan dengan niat baik, mungkin. Sayangnya, arti baik tak berarti banyak. Harusnya nama menjadi serupa doa yang dilisankan berulang saat terlafalkan. Akan tetapi, faktanya rahma yang berarti diberi banyak keberkahan dan kesetiaan tak terjadi pada hidupku. Buktinya, kesetiaan yang paling setia membersamai hariku adalah kehilangan.
Kehilangan Cinta
Benar, aku kehilangan Ibu saat usia belum genap sepuluh tahun, menyusul kepergian Ayah yang hanya berselang enam jam saja. Janji menjadi sepasang kekasih, sehidup sesurga mereka tepati. Cinta terbukti dengan cara memilih hari kematian yang sama. Namun, mereka lalai, masih ada aku. Mengapa mereka sebengis ini? Pergi dengan cinta yang teramat besar, lupa membawaku ikut serta. Tega. Satu kata untuk mewakili kepergian mereka.
Selanjutnya, jangan tanya lagi. Hidupku penuh kesulitan. Yah, lagi dan lagi rahma terkabulkan. Kesetian paling setia adalah kesulitan hidup.
Menjadi anak yatim piatu bukan hal yang aku pilih, tetapi itulah takdir selalu punya garis yang tak pernah mampu kita bantah. Tak ada isak tangis mengiringi kepergian mereka. Mungkin, aku tak benar-benar paham makna kehilangan. Atau … entahlah.
Kupikir kehilangan ini merangkai iba di hati saudara. Tidak. Tidak ada iba yang tersisa, mereka sibuk berebut harta yang ditinggalkan Ayah. Kemudian menitipkan aku di sebuah panti asuhan. Berbagi rindu dekapan hangat orang tua dengan puluhan anak lainnya. Membungkam keinginan, menelan harapan. Aku tak memiliki ambisi lagi. Lupa arti senyuman.
Menemukan Cinta
Menjalani hari berdasarkan welas asih orang lain. Apa Ibu panti tak baik? Mereka baik, sangat baik. Namun, bukan milikku seutuhnya. Aku memilih mengalah, tak merengek minta pelukan meski acap petir yang singgah saat hujan tiba memercik ketakutan dalam diri. Mencoba memahami tangan Ibu panti hanya dua, aku tak punya kuasa memonopoli kasih sayang.
Rahma sungguh lupa makna air mata ataukah mata Rahma memang tak mampu memproduksinya lagi? Lantas dengan cara apa kuwakilkan semua rasa ini?
“Rahma, sini, Nak,” panggil Bu Asri lepas salat Zuhur.
Kemudian, Ia memelukku, mendudukkan aku di pangkuannya, menyisir rambutku dengan hangat. Ada mata yang penuh cinta di sana.
“Sekarang, Rahma jadi anak Ibu. Di sini Rahma punya Kakak dan Adek banyak.”
Bagaimana mungkin tiba-tiba ibuku berganti rupa? Kok bisa kamar yang biasa kuhuni sendiri dengan puluhan boneka kini harus berbagi dengan enam anak lainnya. Hanya ada bantal dan kasur saja.
Dari mana datangnya saudara-saudaraku yang banyak ini?
Meski begitu, belum mampu kucerna makna kehilangan dan berbagi. Aku hanya menjalani hari berdasarkan perintah saja. Jarang bersuara, memilih diam. Penurut, aku baik, bukan?
Ketulusan Bu Asri
Hari ini, hitungan satu tahun lebih dua minggu aku menjadi penghuni panti. Aku mulai terbiasa berbagi. Mulai paham, ada cinta tulus dari Bu Asri. Meski, kekurangan acap singgah, tetapi sesekali kami mampu tertawa senang.
Kami tetap bersekolah, tetap mengaji. Perlahan kemarahan terkikis. Aku senang.
Sore ini, selepas mengaji, Bu Asri memanggilku. Seperti yang sudah-sudah, aku mendekat tanpa bantah. Lantas menghentikan jejak kaki tepat di hadapannya. Aku melihat, Bu Asri turun dari tempat duduknya, berjongkok menghadap ke arahku. Lantas memegang pundakku dengan mata sembap.
Panggilan itu nyatanya adalah sebuah perpisahan. Sepasang keluarga kaya tanpa anak memilihku sebagai anak adopsi mereka.
Dalam pikiran kanak-kanakku saat itu, aku tak pernah tahu harus bagaimana. Menangis karena perpisahan ataukah berlompat girang sebab tak harus berbagi pelukan Ibu dengan puluhan anak lainnya.
Keluarga Baru
Mama dan Papa nyatanya baik. Mencintaiku tanpa tapi. Apakah ini bukti bahwa rahma yang tersemat dalam namaku menjadi kenyataan? Sudah berpihakkah waktu telah berpihak padaku? Apakah keberkahan ini memang milikku?
Aku tak pernah paham, tetapi aku tahu Allah tetapkan kesulitan bersama kemudahan. Kehilangan, siapa yang tak pernah mengalami itu? Semua pasti pernah. Selalu ada pengganti.
Mama dan Papa baik, dalam keheningan hidup tanpa keturunan, kehadiranku adalah penghapus sunyi bagi mereka. Aku adalah keberkahan.
“Rahma, besok kamu wisuda. Mau minta hadiah apa?”
Aku mengangguk dengan cepat. Melihat wajah Mama dengan penuh harap.
“Rahma ingin mengabdi pada panti, Ma. Apa boleh?”
Mama menoleh ke arahku, dengan alis bertaut bertanya, “Kenapa?”
Aku hanya ingin berbagi kebahagiaan dengan Ibu Asri dan adik-adik yang entah berapa jumlah mereka kini. Mengucapkan terima kasih yang dulu belum sempat aku lisankan. Mungkin, kehadiranku bisa menjadi pengharapan bagi mereka. Bahwa kelak, mereka pun bisa menjadi sepertiku, Dokter Rahma.
Aku mau menjadi seperti Bu Asri, berbagi cinta dengan tulus. Tak ingin menjadi pelupa yang lalai asal-usul. Masa laluku adalah luka yang tak terlisankan. Mencintai mereka, anak-anak panti adalah sebuah keberanian yang kukumpulkan selama bertahun.
Dyajeng
Bumi Seribu Masjid, 24 Januari 2021


Irawati
masyaAllah
keren mba👍