f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
cabai

Ulekan Cabai Terakhir

Aku berlari terus menembus belukar, mataku selalu tertuju ke arah depan. Dunia hanya seperti sebuah ruang kosang, aku tidak menemukan apa pun.

Hanya sesekali, memang, awan-awan berarak, debur ombak, angin kemarau seperti bertiup sepanjang pelarian.

Aku terus berlari, di belakang seperti seekor anjing pelacak yang sudah terlatih mengintai jejak langkahku. Aku terpaksa mengerahkan seluruh kekuatan. Sepenuhnya. Sekuatnya.

Apa kau menganggap ini tidak pantas? Tentu tidak, ini sangat pantas dan wajar-wajar saja.

***

Wajahku merah, kukatupkan mulut, gigi atas dan bawahku besentuhan begitu kuat. Aku tidak pernah berani berkata-kata, apalagi sampai balas membentak. Tetapi lama-lama ketika ia terus didiamkan akan semakin menjadi-jadi.

Ketika sudah waktu-waktu begitu, aku lebih memilih menghindar. Ini jalan terakhir, menurutku. Meski sesungguhnya, hanya dilakukan seorang pengecut menghindar dari permasalahan. Bagiku, itu tidak masalah, sekadar mendinginkan suasana yang sudah terlalu panas.

Sementara kau tidak pernah ada di rumah, atau kau memang jarang-jarang pulang. Sekali pulang kau sudah jarang mengecup keningku dan memelukku barang sebentar. Dengan begitu aku akan sangat dengan senang hati, membuatkanmu kopi atau sekadar teh hangat.

Tapi tampaknya, kau sangat kelelahan sampai lupa untuk memberikan kehangatan pada diriku. Semula aku tidak pernah merisaukan itu, itu sudah biasa. Aku akan menganggapnya sebuah kejenuhan yang banyak ditemukan setelah perkawinan.

Lama-lama sikapmu semakin berlebihan, kau mulai tidak segan untuk melukiskan jari-jari di pipiku. Sekali lagi, aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Meski aku mengakui itu bukan hal yang layak dilakukan seorang suami. Tetapi sebagai istri—yang barangkali penurut—diperlakukan begitu bukan sebuah hal kecil. Itu terlampau kesalahan besar, meski tidak sebesar kebodohkanku ini.

Sementara dia akan menjadi-jadi jika kebetulan kau tidak ada di rumah. Dia tidak akan pernah segan-segan melemparkan umpatan kepadaku. Memang dari awal dia tidak pernah segan kepadaku, tidak pernah. Lagi pula memang, keributan kecil ini sering terjadi di ruang kecil yang sejak awal perkawinan; kita sudah dijadikan dapur.

Baca Juga  Sengkuni : Kupilih Jalan Takdirku Sendiri

“Gitu saja tidak tahu.”

“Terlanjur goblok, jadi perempuan.”

“Beruntung kamu masih bisa makan.”

 Begitulah, dia sering mengatai-ngataiku.

Aku sedikit banyak selalu menyalahkan diriku, itu manusiawi. Selain karena memang aku tidak tahu apa-apa. Sejujurnya aku juga tidak suka dengan orang yang tidak tahu banyak. Yang hanya sedikit mengetahui tentang bumbu di dapur, apalagi sepertiku yang tidak tahu sama sekali. Bodoh itu memang menyakitkan, menyedihkan.

***

Awal menikah, kau tidak pernah berbuat sesuatu yang menusuk seluruh permukaan dada. Setelah lima tahun dan kita belum juga dikarunia buah hati, perkataanmu selalu tajam. Setajam pisau di dapur, yang sering mengenani tanganku. Apalagi kau memang tahu, bahwa aku adalah orang yang paling awam (di seluruh kampung kita) tentang urusan dapur. Itu kuakui padamu sejak sebelum kita menikah, tapi kau menanggapi dengan biasa saja. Seolah-olah tidak pernah ada masalah.

Setelah kata dokter aku tidak bisa punya anak, kau perlahan berubah. Sebagaimana yang kusebutkan di awal tadi, kau tidak segan untuk melukiskan jari-jari di pipiku. Mendaratkan tendangan di punggung dan betisku. Sambil sekali-kali memaki.

“Apa susahnya sih belajar memasak.”

“Tapi aku memang tidak tahu.”

“Kalau tidak pernah belajar mana mungkin tahu.”

Kau membentak setelah nasi yang kumasak masih mentah dan berwujud beras, sementara ikan yang kugoreng sudah setengah gosong dan asin. Mukamu merah, seperti pada sebuah senja di langit barat. Aku memang pasrah jika kau memang ingin mendaratkan pukulan—yang entah sudah keberapa—di tubuhku.

Kita tidak tahu apa yang terjadi setiap kau memukuliku berkali-kali. Barangkali dia akan mendengar pertengkaran kita dari balik pintu kamar sambil senyum-senyum. Dan setelah pertengkaran berlalu dan kau beranjak dari kamarku, ia akan menemuimu sambil memanas-manasi kupingmu. Tapi itu hanya sangkaanku, tidak lebih.

Baca Juga  Bukan Anggota Tim Pacaran atau Tim Taaruf, Lalu?

“Makanya jadi perempuan jangan hanya soal dandan.”

***

Aku menunduk, dia akan semakin menjadi-jadi menyumpahiku dengan kata yang bukan-bukan. Sementara kau tidak pernah pulang secepat yang kuinginkan, agar dia berhenti memakiku. Dengan begitu aku bisa seperti orang merdeka, meski kemerdekaan hanyalah perpindahan dari sebuah keterjajahan ke terjajahan lain. Dengan kata lain, datangmu juga membuat aku dijajah di bawah tanganmu. Namun aku lebih menerima, kau suamiku, lantas aku sungguh mencintaimu.

Tapi kau hanya akan pulang larut malam, saat sunyi sudah mencekam sampai di ubun-ubun pohonan. Saat gelap sudah menaiki bukit di ujung timur rumah kita. Aku dengan senang hati menunggumu, dia tidur duluan di kamarnya. Meski setelah itu kau tidak pernah masuk ke kamarku, tapi berpaling ke kamar dia.

“Sudah, kamu tidur sana.”

“Aku masih menunggumu.”

“Aku lelah.”

Kau tidak segan membentak.

Lalu kau benar-benar masuk ke kamarnya, aku masuk ke kamarku dengan air mata berderaian.

***

Coba kau ingat-ingat, betapa aku tidak pernah menangis ketika kau meminta untuk menikah dengan dia. Hatiku yang lembut dan mudah retak tentu berkeping mendengar permintaanmu. Tapi aku menahan untuk menangis hanya menjaga-jaga takut kalau aku dianggap cengeng olehmu.

Maka dengan berat hati, kuberi izin kau menikahinya. Sebab aku juga malu untuk tidak membiarkankmu, aku perempuan yang tidak banyak tahu tentang dapur. Selain karena aku memang tidak bisa mempunyai anak.    

Kau menikah dengan dia hanya dihadiri penghulu dan beberapa orang saksi. Aku juga turut menjadi saksi dengan mata kepala sendiri. Kulihat kebahagiaan itu timbul di wajahmu, sementara kesedihan itu memilih berteduh di wajahku.

Dari awal kalian menikah, dia juga tidak pernah melempar senyum padaku. Matanya akan menatap tajam, seperti memberi kesan mengejek. Apalagi mungkin dia tidak butuh waktu lama untuk mengetahui bahwa aku perempuan yang paling tidak tahu dengan hal-hal di dapur.

Baca Juga  Kisah Para Pria Bersarung (2)

“Goreng ikan saja gosong.”

“Menanak nasi saja masih mentah.”

***

Setiap kau memarahiku, kau tidak melihat bagaimana senyum di wajah dia tersimpul begitu jelas. Tentu dia akan menertawakanku dengan keras dalam hati. Lebih-lebih ketika kau memuji masakannya pada suatu pagi. Hatiku seperti diserbu ratusan bala tentara.

“Sungguh masakanmu memang tiada tandingannya” kau memujinya di depanku.

Aku tidak berbicara apa-apa, hanya diam. Sesekali memang senyum kubuat-kubuat di bibirku. Aku hanya ingin kamu tidak mengetahui apa yang terjadi di rumpang dadaku, lebih-lebih ketika kau benyak mendaratkan pukulan di tubuhku.

Di suatu siang, dia menyuruhku dengan kasar untuk mengulek cabai buat makan siang kita. Aku melakukannya dengan senang hati, sangat senang hati. Tidak disangkai ia justru tidak menyukai caraku mengulek cabai yang lambat.

“Mengulek cabai saja kaku” katanya.

“Kamu kan tahu sendiri bagaimana aku” jawabku pelan.

“Kamu perempuan apa jadi-jadian?”

Wajahku merah, kukatupkan mulut, gigi atas dan bawahku besentuhan begitu kuat. Aku tidak pernah berani berkata-kata, apalagi sampai balas membentak. Pelan-pelan kuberhenti mengulek cabai yang sudah setengah halus itu. Kupungut semua cabai di bibir cobek itu, lalu kuusap cabai ke wajahnya. Dia terkejut dan tidak menyangka, dia mengatupkan matanya seraya berteriak.

Aku berlari lewat pintu belakang, aku berlari sangat kencang sampai lupa lewat jalan mana, namun jalan itu sangat asing bagiku. Melewati belukar dan ratusan duri-duri rukam. Setalah ratusan langkah kuberlari dia seperti ikut berlari di belakangku. Meski sesungguhnya tidak. Semua tiba-tiba sepi, aku sendiri berlari. Sesekali memang, kutemukan pohonan yang lebih rindang dari biasanya. Tubuhku benar-benar di gerogoti sepi, sendiri, sunyi menjadi-jadi.

Bagikan
Post a Comment