Di-Follow Orang Tua Adalah Cobaan Remaja Gaul Sosial Media
“Anak2 makin lama kok makin gak sopan??? Astagfirullahalazim…sdh dekatkah kt dgn hr akhir..”
Sebuah komentar twitter masuk ke notifikasi ponsel saya. Saya terkejut karena user name dan foto profilnya sangat tidak asing bagi saya. Astaga, itu kan ibu saya. OMG, ibu baru saja mengomentari cuitan saya. Oh, apa yang sedang terjadi pada dunia saat ini?
***
Kisah ini dimulai sejak ibu sering melihat saya tertawa setelah membaca cuitan-cuitan di twitter. Sejak saat itu, ibu aktif bermain twitter, dan tentu saja mem-follow akun saya.
Cobaan yang menimpa saya (dan anak-anak lain yang bernasib seperti saya) sepertinya terlalu berat untuk diterima. Media sosial yang menjadi tempat pelampiasan penatnya hidup; alias buku diary yang bisa dibaca seluruh umat, akhirnya menjadi tempat yang update sedikit, dikomentari ibu.
Ibu, dengan tik-an khas orang tuanya, mengomentari cuitan sambatan yang saya buat. Itu hanya cuitan biasa, yang membuat tidak biasa adalah komentar teman yang suka misuh-misuh di cuitan saya.
Ibu sepertinya tidak tahu bahasan anak-anak muda yang setiap kalimatnya pasti mengandung pisuhan. Setelah membaca komentar “jorok” yang nangkring di cuitan saya, ibu berulang kali menasihati saya untuk tidak boleh mengikuti perilaku teman-teman nakal itu. “Ibu, maaf, justru mereka yang terpengaruh anakmu”.
Sejak ibu berdakwah di cuitan saya, ibu tidak pernah berhenti untuk mencari tahu apa yang sedang saya lakukan ketika tidak berada di rumah.
“Katanya mau belajar kelompok, kok malah foto-foto”
Begitu komentar ibu pada foto yang baru dua menit yang lalu saya unggah.
Ada rasa yang bercampur ketika membaca komentar ibu. Sedikit heran, apakah siswa yang belajar kelompok hanya melakukan aktivitas belajar? Sedikit rasa malu juga, apa yang teman-teman pikirkan setelah membaca komentar ibu saya ini.
Benar saja, teman-teman mulai menyadari kehadiran komentar ibu di setiap unggahan saya. Dan resmilah saya menjadi manusia yang di blacklist cuitannya untuk dikomentari mereka.
Bagi saya, menjadi manusia mandiri di media sosial memang bukan hal yang menyenangkan. Rasanya seperti keberadaan saya di dunia maya tidak terlihat oleh siapa pun, kecuali oleh ibu.
***
Hari demi hari saya lewati kehidupan dunia maya dengan penuh hati-hati. Pasalnya, salah tik langsung dapat amukan dari warganet bernama ibu. Menyadari bahwa buku diary online saya sudah tidak aman lagi, akhirnya saya memberanikan diri untuk bertindak (durhaka) yang ternyata sudah dilakukan oleh teman-teman. Ya. Memblokir akun media sosial orang tua.
Bisikan-bisikan setan dari kanan dan kiri menginginkan saya untuk memblokir akun ibu yang sedikit membuat saya risih. Setelah memikirkan berulang kali tentang tindakan ini (dan juga atas saran teman-teman nakal saya) akhirnya dengan berat hati saya memblokir akun twitter ibu.
Setidaknya, hikmah yang dapat saya ambil setelah memblokir akun ibu adalah tidak ada lagi sindiran kalau saya mengunggah cuitan galau. Sebelum tindakan blokir itu saya lakukan, ibu kerap menyindir saya kalau saya ketahuan menulis cuitan galau ala anak remaja. Sindiran ibu membuat saya sedikit kesal karena merasa bahwa privasi saya telah dicoreng –sebenarnya ini salah saya karena menulis cuitan galau ke media sosial–
Tapi tidak dimungkiri lagi, menurut saya yang mempunyai ibu cukup cerewet dan pandai bermain gawai, dunia maya saya memang harus terpisah dengan dunia maya ibu.
***
Dua hari sejak saya memblokir akun ibu, saya menjadi manusia liar yang tiap menit menuang cuitan ke media sosial. Rasanya seperti tidak ada lagi polisi yang memergoki saya melakukan tindak kriminal.
Teman-teman yang sebelumnya enggan berkomentar, akhirnya menyadari hilangnya ibu di setiap cuitan saya. Akhirnya, kami kembali membahas dunia keremajaan dengan senang hati di sana.
Dua hari pula sejak saya memblokir akun ibu, beliau mulai curiga karena tiba-tiba tidak ada saya di timeline media sosialnya.
“Kok kamu nggak pernah update lagi, dek?”
Begitu tanya ibu di suatu sore yang sedang hujan lebat.
Ketakutan saya terjadi, ibu bertanya tentang hilangnya keeksistensian saya di dunia sana. Saya dengan sigap menjawab bahwa sepertinya saya akan hiatus main media sosial untuk sementara, ada kewajiban yang harus saya lakukan. Beliau pun manggut-manggut paham dengan keadaan. Saya menghela napas lega.
***
Jika ada anak-anak di luar sana (dan tentu saja saya termasuk) yang memblokir akun orang tuanya, mungkin itu adalah tindakan menyenangkan sementara. Tapi bukankah itu mengakibatkan dosa karena termasuk durhaka pada orang tua?
Suatu saat nanti, malaikat Malik akan menjelaskan pada segerombolan remaja sebelum masuk ke sebuah pintu,
“Kalian dihukum karena.. memblokir akun orang tua”
Bayangkan, kita akan mendapat siksaan panasnya api hanya karena menekan tombol blokir. Mengenaskan bukan?
Oleh karena itu, saya membuka blokir akun ibu saya.
Dan membuat akun baru.
Sedang menempuh semester akhir di pendidikan S1 di Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Sebelas Maret. Beberapa karya cerita pendeknya pernah dimuat di media seperti Solopos, Radar Banyuwangi, dan Jejak Langkah.
