f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
personal branding

Membangun Personal Branding di Mata Allah

Grup WhatsApp kembali berbunyi. Kabar duka datang silih berganti. Ada setidaknya enam atau tujuh orang terdekat saya telah berpulang di awal tahun 2021. Begitupun hari ini. Beberapa jiwa mulai bergantian menemui sang penguasa langit dan bumi. Pernah dalam hati tiba-tiba tersirat “Ya Allah, apakah waktuku juga sudah dekat? Apakah kematianku bahkan datang lebih dulu daripada jodoh yang selama ini menjadi fokus dalam doaku? Bagaimana jika besok namaku yang tertulis di Grup WhatsApp setelah kata innalillahi?”

Ada yang datang, ada pula yang berpulang. Firman Allah sudah mengingatkan, “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa’ : 78). Ayat ini menjelaskan, manusia tinggal menunggu giliran untuk dipanggil. Cepat atau lambat, tidak ada tempat yang tidak dapat dijangkau oleh-Nya.

Saya sering merenung, saat tiba giliran berpulang, akan seperti apa kenangan yang tertinggal di mata manusia? Bisakah kita memilih cara pandang orang terhadap kita setelah mati? Nampaknya, hal tersebut bisa diusahakan. Sebab, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk memberikan kenangan baik pada orang yang ditinggalkan.

Dalam dunia komunikasi, sering disebut dengan istilah Personal Branding.

Sulitkah membentuk personal branding? Saya rasa tidak. Hal tersebut bisa diupayakan dengan membentuk kebiasaan baik yang penuh dengan ketulusan dan kesungguhan. Sebab, cara berucap dan memperlakukan orang lain adalah hal-hal yang dapat membentuk personal branding. Orang lain akan menerjemahkan diri kita sebagai seorang humoris, antagonis, dermawan, pendiam, dan lain sebagainya tergantung dengan perbuatan yang sering kita lakukan di hadapan mereka.

Mengupayakan Syafaat dengan membangun Personal Branding.

Buku berjudul Personal Branding for Dummies yang karya Susan Chritton, menjelaskan bahwa personal branding adalah reputasi diri yang menggambarkan tentang karakter seseorang. Tujuan pembentukan personal branding ini untuk menunjukkan diri yang penuh potensi positif guna mendapatkan kepercayaan, membangun kredibilitas, dan membangun koneksi dengan orang lain.

Baca Juga  Melawan Ketertindasan Kaum Perempuan; Perspektif Maqashid Syariah

Seseorang yang berhasil membangun personal branding dengan baik tentunya akan lebih mudah dikenal dan dikenang dengan positif. Sehingga, sudah merupakan suatu keharusan bagi kita untuk menciptakan personal branding yang dapat mengupayakan kita agar semakin bersinar.

Membangun personal branding di mata orang lain selama hidup di dunia mungkin tidak sulit. Hanya butuh konsistensi dalam kebaikan yang dilakukan pada orang lain. Namun, bagaimana dengan cara pandang Allah? Apakah kita sudah cukup menampilkan citra positif di hadapan-Nya?

Saya meyakini, sebagai umat beragama yang mengimani hari akhir, membentuk personal Branding di mata Allah menjadi sebuah kewajiban. Sebab, firman Allah dalam Surat An-Najm (53:26) mengingatkan “Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai(Nya)”.

Jika dianalogikan, saat mendapat pertanyaan “Man Rabbuka?”, apakah kita mampu untuk menjawab “Allahu Rabbi?” Padahal selama hidup di dunia kita tidak pernah menganggap Allah sebagai Tuhan kita. Pada posisi ini, adalah penting untuk membangun personal branding di mata Allah demi keridhoan dan pertolongan-Nya di hari akhir.

Langkah Membangun Personal Branding di Mata Allah

Saya percaya bahwa Allah adalah zat yang maha mengetahui dan maha mendengar. Tentu saja manusia tidak bisa berpura-pura taat dalam beribadah kepada-Nya. Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk membangun personal branding di hadapan Allah?

Ada empat cara yang juga bisa diupayakan sesuai dengan konsep Personal Branding yang dijelaskan oleh Susan Chritton. Pertama, mengenali dan memahami diri sendiri. Mengenali diri sendiri menjadi poin awal yang cukup penting agar kita tidak berbohong dan berpura-pura dalam bersikap. Mampu mengenali dan memahami diri sendiri serta bermuhasabah atas segala perbuatan yang dilakukan, adalah cara yang paling baik. Setelah itu, memohon ampun kepada Allah atas segala perbuatan buruk di masa lalu dan mengupayakan kebaikan di kehidupan selanjutnya.

Baca Juga  Utsman bin Affan : Langganan Berjual-beli dengan Allah Swt

Kedua, mempertimbangkan seperti apa kita ingin dikenali. Sebenarnya, seseorang dapat memilih, seperti apa dia ingin dikenali sebagai hamba-Nya. Jika ingin dikenali Allah sebagai hamba yang taat, dapat dimulai dengan selalu berupaya untuk beribadah kepada dan karena Allah semata. Iman yang seringkali naik turun harus tetap dijaga agar tidak keluar dari jalur aman.

***

Ketiga, memahami “kompetitor”. Ada milyaran manusia yang setiap hari memohon kepada Allah. Belajar untuk memahami kebiasaan baik dan keteguhan dari “kompetitor” dalam beribadah adalah motivasi terbaik agar terus bisa berlomba-lomba dalam kebaikan. Hal ini tidak digunakan untuk merasa rendah saat ibadah kita tidak sebaik orang lain, atau justru menyombongkan diri dan merasa lebih taat daripada orang lain. Melainkan, sebagai pengingat bahwa harus ada peningkatan dalam beribadah kepada Allah setiap harinya.

Terakhir, menciptakan persona. Poin paling penting dalam membangun personal branding adalah dengan senantiasa istiqomah berada di jalan Allah untuk membangun persona di hadapan-Nya. Kata orang, menjadi istiqomah adalah bagian tersulit dalam hal apapun termasuk beribadah. Kita dapat mengupayakan dengan  berdoa agar Allah memudahkan seluruh partikel dalam tubuh kita untuk ikhlas beribadah kepada-Nya.

Mari berharap agar kelak meninggalkan dunia bukan hanya dikenang memiliki citra baik di mata orang yang ditinggalkan, tetapi juga berhasil menciptakan personal branding yang baik di mata Allah SWT.

Bagikan
Comments
  • Qurota A'yunin

    MasyaAllah, terima kasih untuk tulisan yang luar biasa ini. Selain mengenali diri sendiri kita juga wajib mengenal baik siapa Tuhan kita, itu juga penting dalam menciptakan personal branding yang baik dimata Allah. Semakin kita mengenal Tuhan kita semakin kita ingin merasa dekat denganNya. Semakin kita mengenal Allah semakin besar rasa ikhlas dalam beribadah kepadaNya. Wallahualam bissawab.

    Februari 8, 2021
Post a Comment