Telaah Term Al-Islam : Membawa Kebajikan
Perbedaan pandangan memang menjadi sebuah keniscayaan pada setiap manusia, walaupun dalam realitas faktanya sama. Namun akan sedikit kurang etis ketika umat Islam berbeda pandangan dalam memaknai term al-Islam itu sendiri. Kata Islam pada hakikatnya berasal dari bahasa arab yang mempunyai makna luhur dan memiliki nilai yang tinggi yakni “berserah diri”.
Namun seiring waktu mulai memiliki banyak makna, tidak hanya berserah diri kepada Allah tetapi juga menunjukan pada sifat, perbuatan, agama, institusi bahkan identitas negara. Islam berasal dari kata salima-yaslamu-salaman, yang artinya selamat, damai dan dikembangkan dalam 4 akar kata aslama, yuslimu, aslaman, yang artinya mendamaikan.
Dilihat dari sini saja seharusnya Islam sudah jelas memberikan arahan kepada muslim dalam persatuan dan menyelesaikan berbagai problem. Namun mengapa secara realitas umatnya masih belum mencapai pada hal tersebut. Maka di sinilah penulis akan mengungkap makna Islam itu sendiri serta hubungan antara kata Islam dengan kata setelahnya.
Sayyid Qutb : Penafsiran Kata Al-Islam dalam Al-Qur’an
Sayyid Qutb memaknai kata Al-Islam sebagai ketauhidan kepada Allah. Bentuk ketauhidan yang dimaksud yaitu mengakui “Keesaan Allah” dan menyakini hanya ada satu akidah yang diterima oleh Allah yakni Islam. Selain itu Islam bukanlah sekedar pengakuan dalam hati atau persaksian dalam bentuk syahadat. Akan tetapi Islam yang dimaksud Qutb adalah istislam yakni seseorang harus tunduk, patuh kepada kedaulatan Allah, dan hanya melaksanakan manhaj Allah semata.
Qutb juga memaknai kata Al-Islam sebagai sebuah agama yang sempurna dan menyeluruh (Q.S Al-Maidah(5):3). Dalam artian sesungguhnya Islam sebagai agama terakhir yang dibawa oleh Nabi Muhammad merupakan risalah yang sempurna yang tidak memerlukan penambahan atau pengurangan. Selain itu Islam adalah agama yang memuat segala tata aturan yang lengkap, meliputi semua segi kehidupan, sehingga umat tidak perlu mengambil sistem lain selain apa yang terdapat dalam islam.
Argumen Dr. Ahmad Sastra Terkait Term Setelah Kata Al-Islam
Ahmad Sastra adalah dosen filsafat pascasarjana UIKA Bogor. Pada hari sabtu, 11 juli 2020 dalam acara FGD “Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa” Ahmad Sastra mengatakan bahwa kata Islam itu berasal dari Al-Qur’an.
Nah, ketika ingin menambahkan kata sifat setelahnya kita juga harus mengambilnya pada Al-Quran pula. Contoh dalam (Q.S Al-Baqarah[2]: 208 di sana ada term Kaffah dan sebelumnya menggunakan term as-silmi. Al-Aufi meriwayatkan dari ibnu abbas, mujahid, Tawus, Ad-Dahhak, Ikrimah, Qatadah, As-Saddi, dan Ibnu Zaid sehubungan dengan firman tersebut bahwa yang dimaksud kata silmi ialah agama Islam.
Maka Ahmad Sastra mengatakan nama Islam Kaffah bisa dijadikan contoh istilah karena keduanya ada dalam Al-Qur’an. Tetapi sering kita temui juga seperti Islam Radikal, Islam Moderat, dan masih banyak lagi nama-nama sifat dalam Islam tersebut. Lantas pertanyaanya apakah moderat, radikal, itu ada dalam Al-Quran? Istilah-istilah tersebut berasal dari barat. Inilah yang membuat semakin rumit, dan banyak perbedaan pendapat terkait makna Islam itu sendiri.
Wawasan Al-Qur’an Tentang Islam
Term Islam sendiri diungkapkan di dalam Al-Qur’an terdapat 23 ayat yang ada pada 13 surah. Dan ungkapan-ungkapanya mengandung makna yang berbeda-beda di antaranya yaitu: berserah diri, perdamaian, menundukan wajah, suci bersih, dan lainya. Sedangkan kedudukan Islam dalam Al-Qur’an diantaranya, sebagai wahyu ilahi, sebagai agama nabi dan rasul, sebagai hukum-hukum Allah, sebagai jalan yang lurus.
Di antara surahnya itu yakni :
Q.S Al-Baqarah[2]:132, (208),(256).
Q.S Ali-Imran[3]: 19,(20),(80),(83),(84),(85), dan (102)
Q.S Al-Maidah[5]:3, dan (5)
Q.S Al-An’am[6]:125
Q.S At-Taubah[9]:74 dan (100)
Q.S Yunus (10):25
Q.S Yusuf [12]: 101
Q.S Qaf [50]:17
Q.S As-Shaf[61]:7
Q.S Al-Qalam[68]:35
Q.S As -Syua’ra[26]: 89
Q.S Al-An’am[6]:53
Q.S Muhammad[47]:35
Contoh ayatnya QS Ali-Imran[3]:19 yang artinya “Sesungguhnya agama (yang diridha’i ) disisi allah hanyalah islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) diantara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”
Islam adalah Penyerahan Diri
Islam dalam arti penyerahan diri adalah hakikat yang ditetapkan Allah dan diajarkan oleh para nabi sejak Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad Saw. Ayat ini menurut ibn katsir, sebagaimana dipetik oleh Quraisy Shihab, bahwa tiada agama di sisi-Nya, dan yang diterima-Nya, dari seorang pun kecuali Islam, yaitu mengikuti rasul-rasul yang diutus-Nya setiap saat sehinga berakhir dengan Nabi Muhammad saw.
Di ayat lain Q.S Ali-Imran[3]:85 yang artinya: “Barang siapa mencari agama selain agama islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seorang laki-laki dari kaum Anshar murtad setelah masuk Islam, dan ia menyesal atas kemurtadannya. Ia meminta kepada kaumnya untuk mengutus seseorang menghadap kepada Rasulullah saw. untuk menanyakan apakah diterima taubatnya.
Maka turunlah ayat tersebut di atas, dan disampaikan oleh utusan itu kepadanya sehingga ia Islam kembali. Sedangkan dalam riwayat yang lain dikemukakan bahwa al-Harts bin Suwaid menghadap kepada Nabi saw. dan masuk Islam. Kemudian dia pulang kepada kaumnya dan kemudian kufur kembali.
Maka turunlah ayat di atas, kemudian ayat tersebut dibacakan kepada al-Harts oleh salah seorang kaumnya. Maka berkata al-Harts: “Sesungguhnya engkau benar, dan rasulullah saw lebih benar daripadamu,dan sesungguhnya Allah yang paling benar di antara tiga”. Kemudian ia kembali masuk Islam dan menjadi muslim yang sangat patuh.
Setelah mengetahui semua term Islam di dalam Al-Qur’an maka diketahui bahwa term tersebut selalu pada pujian maupun membawa pada kebajikan. Dalam menanggapi makna Islam sendiri memang tidak pernah selesai karena kandunganya sangat luas sekali. Sehingga kajian tentang term Islam sendiri patut untuk selalu dibicarakan pada forum-forum intelektual.
Mahasiswa S1 yang sedang menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Semester 4 Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Aktif di Ikatan MahasiswaMuhammadiyah Cabang Ciputat, Sekretaris Bidang Senbura Asrama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Ciputat, Sekretaris Bidang RPK Pimpinan Komisariat UshuluddinCabang Ciputat.
