f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
calling visa

KH. Ahmad Dahlan: Sudahkah Kita Ber-Tauhid?

Oleh : Helmi Rizkih*

“Dalam pembahasaan ini, penulis mencoba mengkaji terkait pemikiran KH. Ahmad Dahlan tentang hakikat tauhid dalam kehidupan. Bagaimanakah esensi tauhid kita pada Allah? Sudahkah melekat pada kehidupan kita?”

KH. Ahmad Dahlan salah satu sosok ulama yang karismatik. Sang pembawa teologi kemajuan yang  mendobrak segala tradisi dan pola pikir umat Islam yang jumud dan sempit. Ia berhasil membawa Islam ke arah yang elegan dan berkemajuan. Selain dikenal dengan sebutan kiai Al-Ma’un, ia juga dijuluki dengan kiai Wal-‘Ashri.

Dalam perjalanannya, teologi Al-Ma’un menjadi kajian besar organisasinya, Muhammadiyah. Sedangkan kajian tentang teologi Wal-‘Asri masih sedikit dijumpai. Walaupun eksplorasi dan elaborasi gagasan Kiai Dahlan lebih banyak dalam pemikiran Al-Ma’un, dan juga teologi Al-ma’un lebih dulu daripada Al-‘Asri. Akan tetapi, dalam teologi Al-‘Ashri banyak juga mengandung nilai-nilai atau hikmah positif yang relevan diterapkan dalam berkehidupan diera sekarang ini.

Al-Ma’un biasa dikenal dengan ideologi liberasi, yaitu gerakan untuk membebaskan umat dari keterbelakangan, kebodohan, dan ketidakberdayaan. Karena itu, Muhammadiyah sejak lama telah melakukan pembangunan dalam bidang pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan, dan pemberdayaan umat.

Sedangkan Wal-‘Asri sendiri, bermuatan hablum minaAllah, mengajarkan agar umat Islam menjadi Muslim sejati yang berakidah Islam secara kaffah. Dan, menjadikan manusia sebagai mahluk yang ber-insan kamil sebagaimana yang didambakan dalam  Alquran. Istilah tauhid menurut Kiai Dahlan ialah iman. Merujuk pada kalimat Alquran “wa shaddaqa bi al-husnâ” yang artinya adalah orang yang percaya dengan sungguh-sungguh perbedaan antara keutamaan dan kenistaan, dan percaya bahwa dirinya, alam semesta, semuanya ada yang mencipta dan memelihara. Yang di mana puncak dari tauhid/iman tersebut berdampak pada amal shaleh. Sebaliknya, amal shaleh baik disebabkan oleh iman yang baik pula.

Baca Juga  Prinsip Integralistik Manhaj Tarjih dalam Memandang Hadis Misoginis

Beramal Tapi Tidak Beriman

Di era sekarang, kita sudah seharusnya menekankan kembali penerapan amalan teologi Wal-‘Asri. Sebab, fenomena yang terjadi, umat Islam sekarang, banyak yang beramal tapi tidak beriman dan banyak yang beriman tapi tidak beramal. Sebagai contoh, ia melaksanakan syariat Islam tapi tidak dilandasi dengan keyakinan (iman). Sebesar dan sebanyak apapun amal kebaikannya, semanfaat apapun karyanya bagi khalayak namun jika kebaikannya, jasanya, perjuangannya, dan pengorbanannya tidak disertai dengan iman kepada Allah, maka semua itu hanyalah hal yang sia-sia belaka dan hanya menjadi penghargaan dimata manusia tetapi dimata Allah tidak ada nilainya.

Dalam Alquran dijelaskan, “Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah datar, yang disangka air  oleh orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu lalu  ia tidak mendapati sesuatu apa pun. Dan didapatinya (ketetapan ) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (An-Nur:39 ).

Penjelasan Quraish Shihab tentang ayat ini, yaitu orang-orang kafir dan ingkar mengira bahwa mereka telah berbuat baik. Mereka juga menduga bahwa perbuatan baik mereka itu akan mendatangkan manfaat bagi mereka di hari kiamat. Tetapi dugaan mereka itu meleset. Perumpamaan perbuatan mereka yang salah dan tidak berarti itu adalah seperti kilauan yang muncul akibat jatuhnya sinar matahari pada siang hari di permukaan tanah yang rata (fatamorgana).

Orang yang kehausan mengira itu adalah air, sehingga ketika dia mendatanginya, dia tidak mendapatkan sesuatu yang bermanfaat seperti yang dia kira. Demikianlah pada hari kiamat, amal perbuatan orang kafir akan menjadi seperti debu yang beterbangan. Orang kafir itu akan ditunggu oleh siksa Allah yang terjadi tanpa dikurangi sedikit pun. Tidak diragukan lagi, pembalasan Allah pasti datang. Perhitungan Allah amatlah cepat, tidak dilambatkan dan tidak pula salah. 

Baca Juga  Poligami (2): Memuliakan Janda -Janda dan Keadilan Anak-Anak Yatim

Keimanan, Syarat Diterimanya Amal

Dalam ayat lainnya juga, “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al -Furqan : 23 ). Yang maksudnya, pada hari kiamat Allah sendiri akan menunjukkan perbuatan mereka yang berbentuk kebaikan dan kebaktian di dunia. Kemudian Allah hapuskan semua itu dan mereka tidak diberi pahala sedikitpun. Sebabnya mereka tidak beriman. Padahal keimanan itulah yang membuat suatu amal perbuatan dapat diterima.

Sebaliknya, banyak yang mengaku beriman tapi tidak disertai dengan amal (syariat). Seseorang belum dikatakan Muslim sejati jika ia belum kaffahkan imannya terhadap Allah. Iman itu ialah pengakuan sedangkan amal merupakan hasil dari pengakuan. Mempercayai dan meyakini akan keesaan Allah, adanya Allah, Allah sang khalik, Allah pencipta langit dan bumi, maka ia harus menindaklanjuti pengakuannya tersebut dengan pembuktian; menyembah Allah, taat akan syariat Allah, tidak menduakan Allah, tidak membuat tandingan terhadap-Nya dalam penyembahan.

Tapi faktanya, sekarang ini, pengakuan itu hanya terbesit dalam lisan mereka dan enggan untuk menjalankan syariat Allah Swt. Padahal iman dan amal merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Karena apabila salah satunya hilang, seorang dalam menjalankan Islam tidaklah sempurna. Sebagaimana dalam hadis Nabi, “Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman.” (HR ath- Thab rani).

Itulah mengapa Kiai Dahlan menciptakan teologi Wal-‘Ashri ini pada pilar ketauhidan, sebab bertujuan untuk membangun peradaban Islam kearah yang lebih baik dalam ranah duniawi dan ukrawi, memurnikan ketauhidan, membasmi kemunafikan dan kekufuran, membangun karakter umat Islam yang paripurna sebagimana disebutkan dalam Alquran, “Manusia diciptakan paling sempurna (QS. At-Tin: 4) dan satu-satunya makhluk yang diciptakan dengan “dua tangan” Tuhan (QS. Shad: 75), dan diajari langsung oleh Allah semua nama-nama (QS. Al-Baqarah: 31).

Baca Juga  Perjalanan Spritual Ibrahim Alaihissalam (1)

Janji Allah Kepada Manusia Paripurna

Orang-orang yang berpegang teguh dari agama Allah, mereka beriman dan dari keimanannya ia merevitalisasikan ke dalam amal saleh, maka tidaklah Allah melihat kecuali Allah menyediakan surga untuknya, “Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (QS. Albaqarah:82).

Selain itu, mereka selalu mendapatkan ampunan dari Allah, “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al-Maidah ayat:9). Itulah sebenarnya hakikat tauhid, yang pada intinya umat Muslim jika sudah menerapkan ketauhidan kepada Allah secara menyeluruh pasti akan berdampak pada amal shalehnya, dan dari amal shalehnya tersebut, ia merivitalisasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebenarnya, dalam ideologi Wal-‘Ashri ini sendiri tidak hanya pilar ketauhidan, akan tetapi ada juga empat pilar yang berbekas dalam memajukan Islam ke arah modernis, di antaranya pilar tauhid; pilar keilmuan, teknologi atau iptek; pilar kerja keras (produktif); dan pilar moralitas atau ahlak (wa tawâshau bi al-shabr).

*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammdiyah Malang, Jurusan Hukum Keluarga Islam


Bagikan
Comments
  • Moh. Zaini

    Belum tampak essensial tauhid dlm pandangan KH.Ahmad Dahlan

    Maret 26, 2023
Post a Comment