Nur Aisyah Haifani, Warisi Usaha KH Ahmad Dahlan
Namanya Nur Aisyah Haifani, ST. Terlahir dari bagian keluarga besar Muhammadiyah karena merupakan putri dari cucu KH Ahmad Dahlan. Putri pasangan H Haifani Hilal (alm) dan Hj Istinaroh Hanad ini merupakan founder halal cooking school dan pemilik salon dan spa muslimah di Yogyakarta.
Dalam sebuah pertemuan yang terlaksana setelah melalui sebuah “kangsenan” atau janjian itu, Nur Aisyah lantas ngobrol panjang-lebar tentang leluhurnya dan juga bisnis yang telah dirintisnya itu.
Mewarisi Usaha KH Ahmad Dahlan
Ayahnya Haifani Hilal adalah putra dari Siti Aisyah, putri dari KH Ahmad Dahlan dan Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan). Sementara itu ibunya Hj Istinaroh, putri dari H Hanad bin KH Lurah Noor, di mana KH Lurah Noor adalah kakak dari Nyai Ahmad Dahlan. Dan Nyai Lurah Noor sendiri adalah kakak dari KH Ahmad Dahlan.
Kisah hidup tokoh KH Ahmad Dahlan telah banyak tertulis dalam buku-buku biografi maupun sejarah perkembangan Muhammadiyah.
KH Ahmad Dahlan memang tidak pernah bisa lepas dari Muhammadiyah, gerakan pembaharuan dan pemikiran Islam modern. Beberapa kisah heroik telah dilalui KH Ahmad Dahlan, mulai dari perobohan langgarnya, upaya membenarkan arah kiblat, pelarangan ziarah kubur, pendirian sekolah dan amal usaha lainnya. Selain itu dialog dengan kaum non-muslim, pandangannya tentang anak muda sampai pada pendirian organisasi Muhammadiyah.
Apa yang dilakukan KH Ahmad Dahlan diwarisi Nur Aisyah. Utamanya usaha warisan KH Ahmad Dahlan dalam hal usaha batik.
Kini, ibu dari tiga anak ini merupakan owner batik tulis halus dengan pola pakem Yogyakarta: yang dibatik dengan titik-titik halus.
“Batik itu dibuat antara satu batik dengan batik lainnya berbeda walaupun dengan motif yang sama,” terang Nur Aisyah.
Buka Salon dan Spa Muslimah
Selama ini, segudang kegiatan Nur Aisyah dijalaninya dengan enjoy. Terlebih lagi sebagai anggota Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) DIY sangat menguras tenaga dan pikirannya.
Pada tahun 2004 lalu, Nur Aisyah mendirikan Az-Zahra salon dan spa Muslimah. Salon ini menawarkan jasa perawatan rambut, badan dan perawatan pranikah bagi para muslimah. Dan atas izin Allah SWT, kini telah hadir dua cabang lainnya. Tak puas dengan capaian tersebut, Nur Aisyah juga membuka lembaga kursus dan pelatihan. Bergerak di bidang pendidikan kecantikan kulit dan rambut, kepribadian muslimah dan modelling muslimah.
“Sebenarnya tidak hanya bidang kecantikan saja yang saya kejar, namun yang lebih utama adalah akhirat yang harus dikejar,” kata Nur Aisyah yang menambahkan masalah akhirat itu berurusan langsung dengan Allah SWT.
Bagi Nur Aisyah jilbab, hijab ataupun kerudung, merupakan busana yang wajib dikenakan para perempuan muslim. “Sayangnya, lantaran ketidaktahuan, banyak perempuan berjilbab yang mengeluhkan kerusakan rambut lantaran mengenakan jilbab,” paparnya.
Karena alasan itulah, Nur Aisyah lantas membuka salon dan spa bagi Muslimah. Dan ide tersebut berawal dari pengalaman hidupnya dan kewajiban umat Muslim — khususnya perempuan — untuk tidak membuka auratnya di hadapan perempuan non-muslim seperti yang tercantum dalam surat an-Nur ayat 31.
Alasan lain dibukanya bisnis “Salon Spa dan Muslim” ini adalah begitu pentingnya bagi muslimah untuk menutup aurat mereka dan pentingnya memakai kosmetik yang halal.
Pimpinan Az-Zahra Corporation menuturkan bahwa kerusakan rambut pada perempuan berjilbab sebenarnya disebabkan karena ketidaktahuan ataupun ketidakmauan mereka untuk merawat rambutnya. “Lantaran tertutup, mereka cenderung tidak terlalu memperdulikan perawatannya,” kelakarnya.
Bagi Nur Aisyah, kosmetik merupakan kebutuhan yang harus ada di dalam kehidupan perempuan. “Namun dengan semakin meningkatnya kebutuhan kosmetik bagi perempuan masih terdapat oknum yang tidak bertanggung jawab,” paparnya.
Oleh karena itu, katanya, sebagai muslimah untuk lebih berhati-hati dalam memilih produk kosmetik. Seperti yang telah diketahui, produk kosmetik yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia, memiliki bahan yang mengandung unsur babi, seperti lemak babi, bulu babi dan minyak babi.
“Dengan adanya unsur babi yang terkandung dalam kosmetik, secara otomatis haram untuk digunakan oleh muslimah,” tukasnya.
Dan dengan adanya permasalahan tersebut, kata Nur Aisyah, sebaiknya muslimah menggunakan produk kosmetik yang sudah jelas kehalalannya dan terdaftar dalam lembaga BPOM.
Dirikan LPK Az-Zahra
Selama ini, Nur Aisyah juga mengajarkan kepada kaum perempuan untuk tidak hanya kecantikan saja yang dikejar. Namun yang lebih utama adalah akhirat. Berkaitan dengan hal tersebut, Nur Aisyah juga dirikan LPK Az-Zahra pada 1 Februari 2010 yang beroperasi di bidang pendidikan non-formal.
Suatu lembaga pendidikan kecantikan yang dibangun berdasarkan kebutuhan untuk menciptakan tenaga yang profesional dan berkualitas terbaik di bidang kecantikan. Berdasarkan pengalamannya dalam mengelola salon dan spa muslimah Az-Zahra, lantas menimbulkan inisiatifnya untuk mendirikan lembaga pendidikan kecantikan yang berbasis pada syar’i agama Islam.
Adapun bidang pendidikan non-formal Az-Zahra ini meliputi bidang tata kecantikan dan bidang pendidikan kepribadian. “Di setiap sub bidang itu akan dibekali dengan materi entrepreneur,” terang Nur Aisyah.
Menyinggung soal entrepreneur, Nur Aisyah menjelaskan ada hubungannya dengan tata kecantikan dan kepribadian. Untuk kelas kecantikan rambut meliputi gunting dan cuci blow, creambath, masker rambut, rebonding, toning, coloring. Sedangkan untuk kelas kecantikan wajah, tangan, kaki dan tubuh meliputi facial, manicure-pedicure, make up, hands spa dan foots spa, body message dan lulur.
Adapun di bidang kepribadian ada kelas aktualisasi diri dan modelling class. Kelas aktualisasi diri meliputi public speaking, pengembangan potensi diri dan table manner. Dan untuk modelling class ada basic, terampil dan advance.
Selalu Berinovasi
Nur Aisyah melalui Az-Zahra yang didirikannya selalu berinovasi dan berimprovisasi. Khususnya dalam membangun satu pusat pendidikan beauties treatment of woman’s moslem, yang memperkenalkan dan sekaligus mengembangkan serta melestarikan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.
Selain itu, Nur Aisyah dengan semaksimal selalu berusaha unggul dalam mutu dan mampu memberikan bekal, pengetahuan, ketrampilan, kecakapan hidup dan sikap untuk mengembangkan diri, profesi, bekerja dan usaha mandiri. Prinsipnya, Nur Aisyah sebagai pioneer pendidikan kecantikan dan kepribadian dengan fasilitas lengkap dan menyeluruh serta menyentuh dalam pengembangan kepribadian yang profesional.
Tak kalah pentingnya, ke depan Nur Aisyah akan menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang profesional, bermutu dan terbaik. “Melalui lembaga yang saya didirikan ini semoga mereka bisa berprestasi, berkarya dan bermakna,” katanya singkat.
Makin Sibuk
Selama pandemi Korona atau Covid-19, kegiatan sehari-hari sarjana teknik pertambangan ini menjadi makin sibuk. Selain menangani bidang bisnis toko online, webinar, kerjasama bisnis dengan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, perempuan ini juga aktif di Majelis Ekonomi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Selain itu saya juga ikut kegiatan sosial bersama organisasi persaudaraan mak-mak Indonesia yang saat ini dilakukan secara online,” terang Nur Aisyah.
Soal aktifnya di PPMI (Persaudaraan Mak-Mak Indonesia), dijelaskannya kalau itu bisnis corner, yang selama ini dikumpulkan dalam wadah WhatsApp (WA) grup. “Kegiatannya berupa transaksi jual-beli dan jualan online,” tukas Nur Aisyah. Selama ini PMMI berikan bantuan donasi bagi masyarakat yang membutuhkan.
Dalam sebuah obrolan siang itu, Nur Aisyah juga menyinggung generasi M. “Generasi M merupakan istilah lain dari generasi X, Y dan Z yang diciptakan oleh budaya Barat,” kata isteri M Syalthut Aridlai.
Istilah lain dari generasi M, menurut Nur Aisyah, adalah populasi muslim muda yang terus bertumbuh dan percaya dengan adanya iman dan modernitas.
*) Affan Safani Adham : penulis, jurnalis dan pimpinan wilayah Muhammadiyah DIY

Anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY Periode 2010-2015/2015-2020
