f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tangan kanan

Berkah Tangan Kanan

Pada zaman dahulu, hidup kakak beradik yang tinggal di sebuah desa di tepi sungai Bogowonto. Mereka bernama Simal dan Yamin. Ibunya adalah seorang petani dan ayahnya seorang pedagang sehingga jarang berada di rumah.

Simal dan Yamin mempunyai cita-cita yang sama. Menjadi prajurit kerajaan. Oleh karena itu, sejak kecil mereka berdua selalu berlatih olah tubuh. Berenang, berkuda, dan memanah adalah makanan sehari-harinya. Hingga suatu ketika datanglah serombongan pasukan kerajaan ke desa.

“Kami akan menyelenggarakan adu ketangkasan,” kata pemimpin pasukan itu. “Barang siapa yang mampu menyeberangi sungai Bogowonto dengan hanya menggunakan egrang bambu, maka ia akan diangkat menjadi prajurit kerajaan.”

***

Simal dan Yamin bersorak gembira. Dibawanya kabar itu kepada ibu mereka.

“Kalian boleh mengikutinya. Ayah pun pasti mengizinkan.”

Simal dan Yamin pun meningkatkan porsi latihan mereka. Pagi-pagi sekali mereka telah masuk ke dalam hutan untuk berlatih tanpa kenal lelah. Barulah ketika matahari sudah tepat di atas kepala, mereka beristirahat.

“Ini bekalmu, Kak,” ujar Yamin sambil menyodorkan bekal makanan kepada kakaknya.

Simal yang kelaparan langsung membuka bekalnya dan makan dengan tergesa-gesa.  Saking terburu-burunya, dia menggunakan tangan kanan untuk menyuap nasi sedangkan tangan kiri untuk menggenggam paha ayam. Yamin yang melihat hal itu pun menegur kakaknya.

“Kak, kata Ibu kita tidak boleh makan dengan tangan kiri.”

“Ahh kau ini! Ibu kan sedang tidak disini,” jawab Simal. Mulutnya penuh dengan makanan. “Lagi pula kita harus segera kembali berlatih bukan?”

Yamin tahu mereka tidak boleh membuang-buang waktu, namun tetap saja ia  tidak mau makan seperti kakaknya. Sekalipun dikejar waktu untuk  berlatih, ia memilih untuk makan sewajarnya. Tangan kanan masuk ke mulut, tangan kiri berdiam diri. Itu yang dicontohkan orang tuanya.

Baca Juga  Pendidikan Kespro dalam Islam

Ibunya pernah berpesan, “Makanlah dengan tangan kanan maka semua yang kamu makan akan menjadi berkah. Dan jangan pernah makan dengan tangan kirimu karena semua yang kamu makan akan menjadi musibah.”

Hari yang ditunggu tiba. Gelanggang adu ketangkasan sudah penuh sesak dengan para peserta lomba dan para pendukungnya. Prajurit kerajaan yang hadir pun bertambah banyak dari hari sebelumnya.

Ketika seluruh peserta sudah bersiap di tepi sungai, sebuah panah berapi ditembakkan ke udara. Semua peserta beradu cepat meloncat ke atas egrangnya masing-masing. Di saat yang lain kesulitan untuk menyeimbangkan diri, Simal dan Yamin telah melewati separuh jalan. Simal yang berada berada sedikit di depan Yamin menambah laju kecepatannya. Kedua tangannya menggenggam batang egrang erat-erat. Penonton bersorak. Yamin menyusul dibelakangnya tak kalah cepat.

***

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Kaki egrang sebelah kiri milik Simal menancap terlalu dalam ke dasar sungai. Ia berusaha mati-matian untuk mencabutnya.  Dikerahkannya seluruh tenaga, namun egrang itu tetap bergeming.  Semakin kuat Simal menariknya, semakin egrang itu melesak lebih dalam. Kaki bambu itu seperti tersedot ke dasar sungai. Simal pun mau tak mau harus melepaskan salah satu egrangnya. Kini ia bertahan hanya dengan batang yang lain. Tak lama kemudian, batang egrang itu pun ikut melesak masuk.

 “Ulurkan tanganmu, Kak!”  teriak Yamin yang datang mendekati kakaknya.

Simal menolak. Ia takut  keseimbangannya akan goyah. Yamin melakukan gerakan menyilang dengan tagkas. Kini ia berada persis di samping kakaknya. Dengan tangan kanan, ia menarik kuat -kuat egrang yang dinaiki Simal. Penonton bersorak-sorai.

“Naik ke punggungku, Kak! Ayo kita selesaikan ini bersama-sama.”

Baca Juga  Urgensi Perempuan Muslim dalam Literasi Digital

Karena tidak punya pilihan lain, Simal pun naik ke punggung adiknya. Pelan tetapi pasti, Yamin membawa egrangnya melangkah ke tepian. Mereka berdua  berhasil tiba di ujung sungai. Orang-orang berlarian mengerumuni mereka. Diantara mereka ada pimpinan pasukan kerajaan.

“Kamu memiliki tangan kanan yang sakti. Latihan seperti apa yang kamu lakukan hingga tanganmu bisa sebegitu kuat?” tanyanya kepada Yamin.

“Latihan yang sama jalani sama seperti yang orang lain lakukan,” jawab Yamin pendek.

“Lalu, kenapa tangan kananmu bisa sekuat itu? Kau pasti menyimpan rahasia,” cecar pemimpin pasukan kerajaan semakin penasaran.

“Aku tidak memiliki rahasia, Paman. Yang kulakukan adalah selalu makan dengan tangan kanan. Dan saat tangan kananku menyuap makanan, tangan kiriku diam,” ungkap Yamin.

Semenjak kejadian itu seluruh orang tua mengajarkan anak-anaknya untuk selalu makan dengan tangan kanan seperti yang dilakukan oleh Yamin.

Bagikan
Post a Comment