f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Poligami (4): Poligami Tidak Harus Kaya

Oleh: Azaki Khoirudin

Rahmania, simak ulasan lanjutan serial poligami yang terakhir.

Walaupun demikian, dalam An-Nisa: 127 Allah swt memberikan kemudahan untuk poligami (mengawini ibu dari anak-anak yatim), maka Allah swt memaafkan seorang laki-laki yang tidak memberikan maskawin dan mahar pernikahan dengan maksud mencari ridha Allah swt.

Sebagian ada pendapat bahwa yataamaa an-nisaa’i dalam an-Nisa’ ayat 127 tersebut berarti “perempuan-perempuan yatim”. Akan tetapi, kata yataamaa  dan an-nisaa’ ada hubungan merupakan mudlaf dan mudlaf ilaih, sehingga berarti: “anak yatim dari (atau milik) perempuan-perempuan”.

Kalau dilihat dari hubungan bahasa di antara kedua itu adalah sifah (sifat) dan maushuf (yang disifati), sehingga bermakna “perempuan-perempuan (yang) yatim”, yang ini berbeda dengan makna sebelumnya.

Di sini kata an-nisaa’ adalah bentuk plural dari kata imra’ah, dan al-mar’ah adalah perempuan yang sudah mencapai usia nikah, dan sifat yatimnya hilang secara hukum bersamaan dengan sampainya usia nikah.

Berdasarkan ayat 6, “dan ujilah (didiklah) anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin…”, maka tidak ada nisaa’ yatiimaat (perempuan-perempuan yatim), karena kalau tidak demikian, maka aka nada juga rijal aytam (laki-laki yatim).

Logikanya, bagaimana mungkin Allah memerintahkan agar berbuat baik dan berlaku adil pada anak-anak yatim, kemudian Allah memperbolehkan untuk tidak memberikan mereka mahar? Artinya mahar diberikan kepada perempuan-perempuan  janda yang memiliki anak yatim.

Masalah poligami itu sebenarnya sebagai jalan keluar bagi persoalan kemasyarakatan, yang mungkin terjadi dan mungkin tidak. Maksudnya kita harus melaksanakan perintah tersebut tatkala telah “terjadi problem” dan sebaliknya kita harus meninggalkannya: jika tidak terjadi problem.

Jika terjadi problem sosial, lelaki boleh menikah lebih dari satu, dengan syarat kepada “janda yang memiliki anak-anak yatim”. Karena begitu mulianya ajaran ini, maka Allah pun meringankan mahar untuk mengawini janda-janda. Artinya poligami tidak harus menuggu kaya.

Bagikan
Baca Juga  Melihat Ke-Rahmatan Lil ‘Alamin-nya Islam, Apa Yang Salah?
Post a Comment