f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tauhid sosial

Spirit Humanisme Ketauhidan

Agama Islam merupakan agama yang diyakini sebagai agama tauhid. Yakni agama yang berkeyakinan bahwa tiada sesuatu yang bisa menggantikan keimanan kepada Allah Swt.

Ajaran tauhid ini telah melekat pada diri setiap orang muslim. Tidak memandang apakah keyakinan bertauhid tersebut didapatkan lewat perjalanan spiritualitas atau karena warisan. Dan inilah yang membedakan Islam dengan agama-agama non-tauhid lainya

Pancasila pun menguatan konsep ketauhidan. Sila pertama ketuhanan yang maha Esa, apabila dipahami itu murni mengandung ajaran monoteisme. Dan Islam menjadi agama yang sesuai dengan semangat monoteisme. Pada mulanya setiap agama samawi itu kiblatnya tauhid/monoteisme, sebab agama tersebut diwahyukan kepada Nabi dan Rasul sebagai perantara yang akan mengajarkannya kepada segenap manusia. Artinya kehadiran agama samawi/tauhid tidak lahir dari ide maupun gagasan manusia, melainkan datangnya langsung dari Tuhan.

Makna dan Konsekuensi Tauhid

Secara etimologis tauhid bermula dari kata wahhada, yuwahhidu, tauhidan yeng memiliki makna mengesakan ataupun meyakini bahwa yang disembah hanyalah satu. Tauhid adalah keyakinan bahwa tiada yang berhak disembah oleh segenap manusia selain Allah Swt.

Rumusan tauhid yang paling jelas terdapat dalam kalimat la ilaha illallah. Kemudian kalimat Muhammadur Rasulullah merupakan suatu konsekuensi logis bagi kita sebagai umat Nabi Muhammad Saw.

Islam memiliki keunggulan luar biasa dalam hal tauhid ini. Jadi kata-kata la ilaha illallah Muhammadur Rasulullah merupakan kalimat tahuid secara sempurna.

Jika seseorang berkeyakinan bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah, maka pada saat yang sama dia sudah mengikrarkan diri untuk tetap berpegang teguh pada agama hanif.

Memaknai tauhid memang sulit, sulit mengkonkretkanya dalam bentuk praktek nyata. Berapa banyak yang mengaku menjalankan/mengamalkan amalan tauhid, namun ternyata apa yang dikerjakan sungguh tidak berdasar sama sekali.

Baca Juga  KH. Ahmad Dahlan: Sudahkah Kita Ber-Tauhid?

Menyelami lebih dalam makna tauhid merupakan langkah awal yang harus dilakukan guna menemukan korelasi maupun konsekuensi tauhid dalam kehidupan ber-sosial. Sungguhlah naïf apabila ajaran tauhid tidak disandingkan dengan kehidupan sosial. Masyarakat luas menjadi sasaran dakwah, serta lingkungan tempat tinggal merupakan lahan menyebarkan kebaikan.

Formula Bertauhid

Berkaitan dengan apa yang menjadi konsekuensi dari tauhid dalam kehidupan sosial, Prof Amien Rais dengan sangat gamblang menjelaskan dalam bukunya berjudul “Tauhid Sosial: formula menggempur kesenjangan”. Dalam bukunya tersebut, Beliau menyebutkan bahwa ada 5 (lima) konsekuensi bertauhid, yaitu :

Pertama-tama, la ilaha illallah. Memiliki arti, setiap muslim harus berani mengatakan tidak terhadap segala fenomena, sumber kekuatan serta segala sumber kekuatan yang sifatnya non-illahiah.

Jadi kepada setiap apapun yang tidak ilahiah merupakan keharusan untuk ditolak. Sehingga kita akan berkeyakinan tidak ada kekuatan melainkan atas ijin Allah, la haula wala quwwata illa billah.

Kedua, terhadap setiap hal yang tidak sesuai dengan nilai ketauhidan maka harus meniadakanya/menghilangkanya. Segala hal yang tidak ada kaitanya dengan agama, serta tidak berdasar pada Al-Qur’an dan as-Sunnah bisa dipastikan hal tersebut merupakan perbuatan yang menyeleweng yakni keluar dari koridor agama.

Ketiga, bahwasanya setiap muslim harus mempunyai proclamation atau declaration of life. Siapapun itu, muslim harus mengkampanyekan keimananya agar iman tersebut dapat menyebar luas. Sebagaimana terdapat dalam firman Allah yang berbunyi “qul inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil ‘alamiin.

Keempat, selanjutnya kita harus mengkonkretkan nilai ketahuidan tersebut dalam kehidupan nyata. Inilah makna keterkaitan antara iman dan amal sholeh. Dalam islam, iman tidaklah berarti apa, bila tetangga dan saudara seiman masih merengek karena kelaparan. Bahkan dikatakan sungguhlah sebuah kebiadaban ketika makanan yang kita masak tercium baunya oleh tetangga namun kita tidak membagikanya juga.

Baca Juga  Mengikat Nikmat Allah, Bersyukurlah!

Kelima, konsekuensi terakhir dari tauhid adalah ketika seseorang yang bertauhid mengambil ukuran ataupun standar kebaikan harus bersandar pada nilai Illahiah. Ungkapan man is the measure of all things (manusia adalah ukuran segalanya), tidak berlaku sementah itu sebab yang maha benar hanyalah Allah itu sendiri. Manusia terkadang menyeleweng, maka dari itu, agama lah tempat terbaik untuk bersandar.

Menyebarkan Nilai Ketauhidan

Sedini mungkin nilai ketauhidan harus disebarluaskan dan diperkuat dalam prakteknya. Mengawali itu semua, tauhid harus diajari kepada setiap generasi. Pembentukan masyarakat berkemajuan dan berkeadaban harus dimulai dengan membentuk masyarakat yang mencintai agamanya sendiri. Islam dengan spirit liberasi humanisnya, mebutuhkan pondasi sebagai tolakan dalam bergerak dan tauhid adalah dasar tersebut.

Setiap oranng menginginkan hidup yang damai dan sejahtera. Perilaku hidup yang mencerminkan nilai tauhid telah membuktikan bagaimana sebuah negara bisa bangkit bersaing menuju kebangkitan ketika agama dijalankan dengan baik oleh pemeluknya.

Sejarah Islam pun mengatakan demikian, perbudakan serta perenggutan martabat kemanusiaan sirna ketika islam datang. Mari bahu-membahu menerapkan kehidupan yang bertauhid dalam kehidupan sehari-hari, fastabiqul khairat.

Bagikan
Post a Comment