f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Etika Berteman dalam Al-Qur’an

Hidup adalah pilihan sedangkan mati adalah ketetapan, begitulah kata orang. Dari kalimat itu saya menyimpulkan bahwasanya jika kita ingin hidup, maka jangan takut untuk memilih. Memilih dalam banyak hal misalnya pasangan hidup, teman akrab, dan lain sebagainya. Hidup itu menghidupkan, hidup itu bergerak, dan hidup itu ada. Tentunya dalam menjalani kehidupan, ada banyak rambu yang harus kita taati termasuk etika berteman.

Manusia selaku makhluk sosial yang diciptakan untuk saling melengkapi sudah sepatutnya memperhatikan rambu-rambu tersebut. Agar terciptanya keharmonisan dalam berteman ataupun berkeluarga.

Pandai-Pandailah Memilih Teman

Berangkat dari sebuah diskusi kecil, yang tidak lain karena keresahan. Saya menyimpulkan beberapa hal mengenai etika berteman yakni hubungan pertemanan atau sering disebut dengan “Ukhuwah”. Pada saat itu ada seorang teman saya menyampaikan sebuah ayat Al-Qur’an yang sangat erat kaitannya dengan Ukhuwah; yaitu surah Al-Hujurat ayat 13. Apabila diterjemahkan, dan kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Seketika saya tersadar sebegitu indahnya firman Allah.

Meskipun dari segi keilmuan, saya tidak pantas untuk menafsirkan Al-Qur’an. Saya hanya menggaris bawahi poin penting dalam ayat ini yang bisa dijadikan pegangan pribadi dalam menjalani kehidupan. Saya beranggapan bahwa ayat ini mengajarkan untuk berteman dengan siapa saja tanpa mengenal suku, bangsa bahkan agama sekalipun.

Alih-alih ingin menyudahi kesimpulan tersebut, timbul lagi pertanyaan saya mengenai ayat ini. Jika memang kita harus berteman dengan siapa saja tanpa mengenal suku, bangsa bahkan agama sekalipun. Lantas bagaimana dengan hadis nabi yang mengumpamakan pertemanan antara pandai besi dan penjual parfum, bukankah itu isyarat untuk memilih-milih teman?.

Kemudian salah satu dari kami memberikan jawaban yang menurut saya itu adalah jawaban yang sangat bijak. Dari jawabannya saya menyimpulkan bahwa QS Al-Hujurat mengajarkan bagaimana kita bisa memperbanyak relasi pertemanan. Karena kita adalah orang yang saling membutuhkan.

Sedangkan hadis nabi diatas adalah bagaimana kita memilih siapa saja yang ingin kita jadikan teman baik. Tentunya dalam hal ini yang bisa membawa kita pada ketaatan dan ketakwaan. Karena yang membedakan umat manusia bukan terletak pada kasta, pangkat ataupun jabatan, melainkan ketakwaan kepada Allah Swt.

Memakan Bangkai Saudara Sendiri

Berbicara etika berteman tentu yang sering kita dengar yakni memakan bangkai saudara sendiri. Sudah saatnya kita merenung dan menyadari bahwa perbuatan memakan bangkai sangat tidak etis, apalagi memakan bangkai saudara sendiri, sungguh biadab!. Allah Swt berfirman mengenai si pemakan bangkai saudaranya dalam QS Al Hujurat ayat 12.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Dari ayat ini kita belajar bagaimana etika berteman. Salah satunya tidak berprasangka buruk, sebab banyak masalah besar timbul bahkan sampai adanya pertumpahan darah hanya karena suuzan. Perbuatan ini hanya dapat memperkeruh keadaan, sehingga dari prasangka buruk inilah timbul kemudian mencari-cari kesalahan.

Melihat kesalahan orang lain pada dasarnya tidak masalah bahkan punya manfaat bagi diri sendiri. Dapat kita jadikan bahan muhasabah untuk bersikap lebih baik lagi. Karena memang kita harus banyak belajar dari kesalahan, bukankah manusia adalah tempatnya salah? Salah tapi tidak saling menyalahkan.

Sering kali yang menjadi permasalahan adalah bagaimana kemudian kesalahan orang lain kita jadikan bahan gunjingan. Kemudian diumbar sana-sini seperti undangan walimah, dan merasa diri paling benar, paling baik. Sehingga mempangaruhi bahkan menghasut orang lain untuk saling membenci. Jadi orang yang suka memakan bangkai saudaranya adalah mereka yang mencari-cari kesalahan, berprasangka buruk dan menggunjing.

Dewasa Dalam Berteman

Usia dewasa adalah fase individu mencapai kematangan kognisi dan perilaku. Menjadi dewasa memang merupakan suatu proses yang akan dialami seseorang, terutama dewasa secara fisik. Sejalan dengan pendewasaan fisik, diharapkan juga terjadinya pendewasaan psikis atau mental dan sosial.

Akan tetapi sangat sedikit yang mengalami kedewasaan fisik dan psikis secara serentak. Sehingga muncul istilah “Masih kecil tapi sudah dewasa” ataupun sebaliknya “sudah dewasa namun pikirannya masih kekanak-kanakan.

Ada tujuh ciri kedewasaan menurut Anderson yaitu; beroroentasi pada tugas, bukan pada diri atau ego, mempunyai tujuan yang jelas dan kebiasaan kerja yang efisien, dapat mengendalikan kebiasan pribadi, mempunyai sikap yang obyektif, menerima kritik dan saran, bertanggung jawab dan yang terakhir adalah dapat menyesuaikan diri dengan keadaan-keadaan yang realistis dan baru.

Akhir-akhir ini banyak beredar video di media sosial tentang perkelahian remaja yang disebabkan banyak faktor, salah satunya faktor kekasih. Hanya karena hal sepeleh pertemanan pun dihancurkan. Coba kita belajar etika dalam berteman dari kartun spongebob, yang dalam pertemanannya sangat terlihat indah, santai dan tidak kaku. Karena sudah saling memahami bahkan sering bertingkah konyol.

Tapi apakah seperti itu kedewasaan dalam berteman? Ya, menurut hemat penulis itulah kedewasaan dalam berteman, karena mampu bertanggung jawab atas langgengnya pertemanan.

Cakupan Teman Makin Luas

Di zaman serba canggih ini, cakupan pertemanan makin luas skalanya. Tidak heran, karena dengan modal kuota internet, dalam waktu satu jam saja kita bisa memiliki ratusan bahkan ribuan teman. Hingga dibuatlah satu forum pertemanan online entah di whatsapp ataupun grup chat lainya.

Dari grup chat inilah muncul tolak ukur kedewasaan yang baru, yang mana apabila keluar dari grup, itu dianggap tidak dewasa. Tentunya itu adalah hal yang keliru menurut saya, justru anggapan yang seperti itu adalah anggapan yang kekanak-kanakan.

Tiap orang pasti punya kebutuhan dan keperluan masing-masing, apalagi dalam persoalan sumber pengetahuan. Banyak yang memilih untuk keluar dari grup chat bukan karena ingin memutus pertemanan. Melainkan melihat ada grup yang lebih penting untuk dipertahankan, grup literasi misalnya. Secara sadar bisa kita pahami bahwa orang yang seperti itu adalah mereka yang menginginkan pengetahuan lebih, bukan hanya sekedar basa-basi saja.

“Bertemanlah dengan siapa saja, hingga kau sadar seberapa besar egomu dalam menghadapi perbedaan”

Bagikan
Post a Comment