f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
membangun relasi

Membangun Relasi dengan Lawan Jenis: Begini Caranya Biar Nggak Toxic!

Rahmania, kamu nggak mau kan hubungan (cinta) kamu jadi toxic? Gak jelas. Bukan malah bikin happy, eh malah ganggu kehidupan kamu yang lain. Ganggu hari-harimu, ganggu cita-citamu, ganggu relasi kamu dengan teman-teman dan keluargamu. Apalagi sampai ganggu psikologismu. Hmm.

Jadi, kemarin itu, di acara Ngobrol Bareng Rahma.id tentang “Bucin Bikin Tambah Sayang Apa Jadi Malang?” (17/7), aku dapat banyak insights nih soal gimana sih bagusnya membangun relasi dengan lawan jenis, supaya harmoni, gak malah menguras emosi. Apalagi bikin repot hati. Uhuk~

Nah, ini catatan dari redaksi rahma.id kemarin…

Membangun Cinta itu Sama Halnya Membangun Relasi

So, jatuh cinta itu nggak salah ya Rahmania, itu fitrah dan bikin kamu banyak ide untuk ngembangin karyamu. Berperasaan juga perlu, kalau nggak, berarti perasaan Rahmania perlu dipertanyakan. Maksudnya, kita perlu mengelola perasaan dengan tidak penuh perasaan. Bedakan ya, berperasaan dan penuh perasaan. Ehehehe~

Nah tinggal kamu mau gimana nih dengan perasaan jatuh cintamu? Mau nungguin, mendoakan, atau menyatakan? However, kita nggak bisa terus menutup diri dan hati ya.. seiring meningkatnya usia, kapan atau kapan Rahmania tetap akan menghadapi kehidupan untuk membangun cinta.

Nah, dalam membangun cinta tentu ada relasi yang dibangun.  Kemudian, dalam membangun relasi, hal yang penting adalah komunikasi. Itu penting banget. Tadi ya, biar nggak bikin repot hati, maka komunikasi yang dilakukan itu harus terang dan gamblang. Misalnya dalam menyampaikan maksud dan tujuan hubungan. Hubungan itu maunya gimana? Mau dibawa kemana hubungan kita? Eh kok mirip judul lagu ya, kok jadi pingin nyanyi ya.

Oke, fokus ya. Jadi, intinya komunikasi itu jangan abu-abu. Emang sih, yang abu-abu gitu bikin deg-degan perasaan, bahkan kadang bikin gemes juga. Tapi kalau bikin kamu sampai over kepikiran, agenda harian terbengkalai, ya jangan juga dong!

Baca Juga  Kau itu Sufi

Pada prinsipnya, membangun relasi itu bagus. Nggak ada yang salah dalam membangun relasi dengan lawan jenis.  Sebab sisi positif dengan kita membangun relasi, kita bisa memperkaya emosi dan empati. Asal, harus sehat! Iya sehat  komunikasinya, juga sehat hubungannya. Nah, sebelum membangun komunikasi, ada setidaknya tiga hal yang perlu diketahui.

3 Hal Penting dalam Membangun Relasi

Pertama, mengenal diri sendiri. First thing first, sebelum mengenal pasangan, kamu harus mengenal diri kamu sendiri. Misalnya, kamu menanyakan ke diri kamu. Kekuranganku, kelebihanku, dan lainnya yang berkaitan dengan identifikasi dirimu sendiri. Sehingga Rahmania bisa refleksi nih sebenernya pasangan seperti apa yang kita inginkan, karakter seperti apa yang bisa melengkapi karakter kita.

Oleh karenanya, di sini juga penting untuk membangun konsep diri yang jelas agar memiliki pola pikir yang sehat. Sehingga, ketika akan membangun hubungan, cita-citamu, mimpimu, hobbymu, bakatmu, hingga hal hal yang kamu tekuni dapat tetap kamu lakukan. Meski sudah menikah.

Ketika sudah masuk dalam sebuah hubungan dengan si doi, perlu dicek lagi juga. Apakah dia yang benar-benar kamu inginkan untuk membangun kesalingan? Atau jangan-jangan justru menyebabkan ketimpangan nantinya. Hubungan itu harus meningkatkan kualitas diri, jangan sampai malah merusak diri.

Kedua, meningkatkan self-esteem. Hubungan seringkali menjadi tidak sehat, apalagi sampai bikin bucin, salah satu gara-garanya karena self-esteem kamu rendah. Kamu tidak percaya diri dan insecure sehingga memiliki ketergantungan lebih pada si dia. Ketergantungan emosi misalnya.

Dalam berbagai kasus, korban bucin umumnya karena dia memandang diri​ terlampau rendah. Dia merasa insecurity-nya hanya bisa dilengkapi oleh pemenuhan perasaan dari si doi. Padahal, kalau self-esteem-nya bagus, nggak bakal sampai kayak gitu kan. Self-esteem menekankan bahwa harga diri, sekalipun dipengaruhi faktor eksternal, tapi tetap saja, penentu utamanya diri ya diri kamu sendiri.

Baca Juga  Merawat Fitrah Bercinta di Era Pandemi

Ketiga, membangun keluarga harmonis-demokratis. Seringkali korban bucin adalah mereka yang karakternya dibentuk oleh pola asuh keluarga yang diwarnai ketakutan. Karakter itu lalu membentuk inner child ketika dewasa, sehingga dalam membangun hubungan senantiasa diwarnai kekhawatiran, ketakutan, dan keinginan berlebih.

Membangun Relasi Sejak dari Keluarga

Dengan relasi keluarga yang demokratis, maka perkembangan pribadi anak akan lebih sehat dan membuat tumbuh kembangnya saat dewasa diiringi dengan sifat-sifat yang positif. Sehingga dalam membangun hubungan dengan pasangan pun bisa tercipta kesalingan yang sehat, bukan ketergantungan yang menguras emosi dan perasaan.

Membangun hubungan yang sehat memang tidak mudah. Perlu saling belajar, saling mendengar, saling mengisi. Sehingga, tidak ada istilah khilaf dalam membangun hubungan. Jika hubungan itu sudah terjadi, ya sudah evaluasi aja. Utamakan diskusi, komunikasi dan relasi yang setara.​

Komunikasi asertif juga jadi salah satu kunci untuk membangun relasi yang baik. Apa itu komunikasi asertif? Yaitu komunikasi yang jelas dan tidak ambigu. Tidak abu-abu. Tidak banyak kode-kode dan salah tafsir. Komunikasi asertif adalah bagaimana kita bisa mengutarakan pendapat, tanpa menyerang atau menyakiti. Tegas, jelas, tapi dengan tetap berempati dan tak menguras emosi.​ ​

Walau begitu, ada beberapa pesan yang disampaikan oleh pembicara sebelum membangun relasi:

“Cinta itu anugerah, tapi kita maknai cinta itu dengan benar bahwa cinta itu bukan kepemilikan, bukan penunudukan terhadap seseorang. Tapi cinta itu adalah menumbuhkan, mensupport pasangan agar ia dan kita sama-sama berkembang menjadi lebih baik, lebih setara.
Cinta itu tidak menyakiti, cinta itu tidak mematikan.
” Siti Aminah Tardi (Komnas Perempuan)

“Mau taaruf atau pacaran sebenarnya tujuannya sama, ingin saling mengenal. Maka ingat substansinya. Bahwa baik pacaran atau taaruf pergunakan untuk menggali pasangan itu seperti apa tapi ada hal yang jauh lebih penting, sebelum kita mengenal pasangan, kita harus mengenali diri sendiri dulu. Jika belum, maka jangan taaruf, jangan pacaran juga jangan menikah dulu” Lya Fahmi (Psikologi Muda). (tati)

Bagikan
Post a Comment