f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
queen of tears

Queen of Tears dan Seni Penyelesaian Masalah Berkeluarga

Salah satu genre film favorit saya adalah drama korea (drakor). Dan karena nonton film ini saya pernah dibilang kayak anak kecil oleh seorang kawan.

Saat duduk di bangku Aliyah (setingkat SMA) adalah momen pertama saya berjumpa film drakor. Kalau tidak salah judul filmnya “My Girl Friend is A Gu Mi-Ho”. Sekitar tahun 2010 saat itu.

Gumiho adalah serial drama dengan 16 episode. Semua episode itu saya lahap dua hari dua malam. Saya tertawa sendiri mengingat masa muda yang bringas seperti itu. Kini, meski tak sebringas dulu, saya masih suka nonton drakor. Tidak membabi buta seperti muda dulu, saya lebih selektif. Apalagi film drakor sekarang melimpah ruah.

Saya sedang menikmati Queen of Tears. Drakor yang diperankan oleh Kim Ji Won (Hae-in) dan Kim Soo Hyun (Hyun-woo). Sebuah film yang menceritakan problematika pernikahan dan rumah tangga.

Drakor selalu punya inti cerita menarik meski dengan bumbu drama yang agak berlebihan. Tapi setelah saya pikir, ya namanya juga genre drama, ya pasti banyak dramanya donk! Ya sudahlah.

Dulu drakor sering membuat saya menangis tersedu-sedu. Tapi tangisan itu selalu saya tahan agar tak terdengar kawan-kawan. Rasanya malu kalau lelaki “sejati” seperti saya ini harus menangis karena nonton drakor.

Queen of Tears yang tayang di Netflix membuat saya nonton drakor lagi. Kenapa? Karena ada problem keluarga yang menurut saya unik. Hyun-woo dan Hae-in yang menjadi sorotannya.

Mereka berdua adalah suami-istri yang mulanya bahagia lalu menderita. Khususnya Hyun-woo. Dia ingin bercerai dengan Hae-in tapi itu tidak mudah. Dia harus siap hancur ketika bercerai karena keluarga Hae-in tidak mentolerir siapa saja yang menghianati keluarganya. Apalagi keluarga Hae-in adalah konglomerat terkemuka di Korea.

Seni Menikmati Drakor

Saya ingin menikmati susbstansi drakor ini dengan memahami problematika keluarga mereka. Dari sudut pandang hukum keluarga. Jelek-jelek begini, saya adalah sarjana Hukum Keluarga yang domain kompetensinya di bidang pernikahan, perceraian, dan sejenisnya.

Ya meski kadang fokus itu hilang karena tergoda drama cinta yang mengharu biru antara dua pemeran utama itu. Selalu ada ilmu kehidupan unik yang saya dapat dari drakor. Dan terkadang ilmu itu saya gunakan untuk menganalisa suatu masalah dalam berkeluarga dan mencoba memecahkannya.

Baca Juga  Menyuarakan Kemerdekaan Ibu: Memberi ASI Tanpa Mengorbankan Karir

Film ini bisa menambah koleksi pisau analisa dan memperkaya sudut pandang dalam penyelesaian problematika keluarga.

Kita bisa belajar banyak hal dari film ini dengan santai dan gembira. Juga terkadang menahan tangis. Catatannya satu, fokus pada benang merah cerita untuk menemukan pisau analisa. Bukan pada dramanya.

Sisakan sedikit saja fokus kita untuk memahami drama. Jangan banyak-banyak, nanti malah baper dan lupa kalau sedang belajar memahami problematika kehidupan berkeluarga.

Bagaimanapun dari drakor kita bisa mempelajari seni merayu kekasih, seni meminta maaf, dan seni menciptakan konflik, seni berbicara pada kawan dan lawan, dan hal lain yg bisa tetap menjaga indahnya cinta dalam keluarga.

Pertengkaran dalam hidup berkeluarga adalah bumbu kehidupan. Begitu kata banyak orang. Akan selalu ada pertengkaran banyak atau sedikit. Tapi sedikit dari kita mampu mencairkan suasana tegang itu dengan seni. Bahkan saat sudah bercerai sekalipun.

Contoh saja, dalam film Queen of Tears, saat Hyun-woo dan Hae-in yang sudah bercerai namun bisa kembali bersatu karena Hyun Woo memilah daun untuk menentukan apakah Hae-in masih mencintainya atau tidak.

Lalu, tepat di depan kamar Hae in, Hyun-woo mengatakan cinta padanya. Padahal Hae in di dalam kamar. Tanpa diketahui Hyun-woo, ternyata Hae-in belum tidur dan mengetahui ungkapan cintanya.

Dari momen itu, tentu tidak semua bisa terjadi di dunia nyata. Tapi, karena momen yang tidak disengaja dan didengar oleh Hae-in, kondisi berbalik. Hyun-woo dan Hae-in kembali bersatu.

Suasana indah dalam berkeluarga harus banyak diciptakan potensi-potensinya. Semakin banyak semakin bagus, tapi jangan berlebihan. Dan belajar dari drakor, kita bisa menciptakan drama kita sendiri. Secukupnya saja, agar tetap ada sentuhan alami dari cinta.

Trauma Menikah dan Seni Berkomunikasi

Generasi sekarang punya kecendrungan untuk tidak menikah karena melihat kompleksnya masalah dalam berumah tangga. Banyaknya perceraian dan konflik rumah tangga seperti memberi efek trauma bagi generasi saat ini. Terbukti statistik pernikahan akhir-akhir ini turun drastis dan angka perceraian melonjak tinggi.

Baca Juga  Peran Perempuan dalam Mencegah Penyakit Reproduksi Perempuan

Survei dari Populix bertajuk Indonesian Gen Z & Millennial Marriage Planning & Wedding Preparation Maret 2023. Sebanyak 1.087 responden terlibat dalam survei tersebut dengan persentase Gen Z 69%, Generasi Milenial 30%, dan Gen X 1%.

Sebanyak 26% generasi milenial belum atau tidak berencana untuk menikah. Angka tersebut lebih besar daripada Gen Z yang mencapai 21%. Tren untuk menunda atau bahkan tidak berencana menikah menurut Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022, menunjukkan persentase pemuda yang belum menikah lima tahun terakhir selalu bertambah.

Traumatik itu didukung oleh kawanan nongkrong saya. Setiap kali nongkrong pembahasan seputar ribetnya berumah tangga menjadi topik paling asik dibahas. Dari sekian banyak masalah yang disampaikan oleh kawan-kawan saya, mayoritas adalah tentang bagaimana bisa menemukan titik temu problem sekaligus memuaskan hati masing-masing pasangan.

Contoh saja, seorang kawan semasa bujang bebas nongkrong ngopi sesuka hatinya. Namun pasca menikah hal itu serasa sulit dilakukan. Padahal ngopi adalah momen refreshingnya untuk melepas penat dan lelah. Tak ayal, teman saya ini setiap akan ngopi harus memberikan “sogokan” kepada istrinya terlebih dahulu. Tak tanggung-tanggung, nominalnya bisa puluhan juta jika ditotal dalam kurun waktu tiga bulan pasca menikah.

Iseng saya tanyakan kenapa bisa begitu? Dia bilang, itu upaya cepat dan mudah agar bisa segera ngopi. Saya lanjut bertanya, apakah sudah coba dikomunikasikan terkait hakikat ngopi itu adalah pelepasan penat agar esok bisa lebih semangat dalam bekerja? Katanya, belum, nanti malah panjang pembahasannya. Mending keluar uang daripada harus bicara banyak hal.

Keluar uang yang tidak sedikit itu akan memunculkan problem baru di ekonomi keluarga. Dan bukan menjadi solusi melainkan seperti bius sementara. Oleh sebab itu, komunikasi adalah kunci penyelesainnya. Saya kira masalahnya bukan di ngopinya tapi bagaimana kita mencoba mendamaikan kegiatan ngopi dan keengganan istri ditinggal ngopi.

Baca Juga  Paradigma Bencana dalam Rumah Tangga

Itu masih satu masalah. Masih ada banyak masalah lain seperti kecemburuan istri karena sang suami lebih sering menghabiskan weekend-nya bersama teman-temannya. Lalu ada istri yang mempercayai dirinya ditempeli jin sehingga mudah marah setiap diajak ngobrol suaminya.

Ada lagi, kawan yang hampir setiap hari ngopi lalu istrinya protes. Dan kawan saya ini memberikan pilihan. Bahwa kegiatan ngopinya adalah bagian dari kerja. Dia bisa saja tidak ngopi sama sekali dan seharian penuh di rumah. Tapi jangan salahkan bila pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari menurun drastis. Akhirnya si istri mengalah dan mengizinkan.

Apapun masalahnya kita harus berupaya mengkomunikasikannya. Bentuk komunikasinya bisa disesuaikan dengan kondisi setiap masing-masing pasangan. Bisa meminta maaf dan membagi jadwal weekend antara teman dan keluarga. Atau dirukyah sendiri bila memang ditempeli jin. Atau bahkan memberi ketegasan dengan memberi pilihan.

Tidak ada patokan teknis komunikasi untuk penyelesaian masalah bagi setiap keluarga. Sesuaikan saja dengan kondisi yang ada. Benang merahnya adalah selalu coba komunikasikan dan cari titik temunya. Bentuk komunikasinya seperti apa? Apa saja. Bahkan bertengkar juga bagian dari komunikasi. Asal, tidak sampai main fisik dan kata talak.

Toh, komunikasi ini adalah bagian dari upaya untuk menyelesaikan konflik keluarga. Agar keluarga bisa terus berjalan. Bukan untuk membubarkan rumah tangga. Bahwa berbeda itu boleh, yang dilarang adalah perpecahan.

Saya ingat kata orang tua dulu, katanya resep untuk tidak mudah bercerai adalah buka saja komunikasi pertengkaran selebar-lebarnya asal tidak terjadi perceraian. Tapi buka juga seluas-luasnya pintu maaf bagi pasangannya. Sulit memang, tapi resep itu bisa dicoba jika kondisi keluarga mendukung.  

Bagikan
Post a Comment