f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
digital

‘Aisyiyah Mengajak Kita Memahami Pentingnya Literasi Digital

Sebagai organisasi yang bergerak dalam ranah sosial, pendidikan, kesehatan, dan keagamaan, ‘Aisyiyah juga turut merespons dan mengkatalisasi transformasi teknologi yang kini menjadi acuan masyarakat dalam mengaplikasikan daily activity termasuk komunikasi masyarakat dengan literasi digital.

‘Aisyiyah, sebagai inisiator dalam Webinar yang bertajuk “Literasi Digital dalam Kerangka Kewargaan Digital”, mengajak kita untuk memahami tranformatif teknologi yang impact-nya kian meluas dalam fungsi praktis kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dilakukan agar masyarakat pada umumnya diharapkan memahami teknologi beserta kebaharuannya serta mampu menggunakannya demi orientasi yang produktif dan kreatif.

Ismail Fahmi, selaku Director PT.Media Kernels Indonesia (Drone Emprit) dan Dosen Universitas Islam Indonesia, dalam webinar tersebut menyampaikan bahwa tools dalam teknologi saat ini mengalami perkembangan yang luar biasa, dan aksesnya terbuka lebar sehingga masyarakat umum bisa mengaksesnya dengan mudah. Misalnya dengan maraknya tools AI seperti ChatGPT.

Fenomena ChatGPT

Fenomena ChatGPT akhir-akhir ini seperti menjadi alternatif solutif ketika seseorang ingin mencari jawaban naratif dalam berbagai urusan dalam waktu singkat. Misalnya ketika kita ingin sesegera mungkin mencari referensi atau pendapat para tokoh untuk bab II skripsi kita. Maka solusinya bisa mencari melalui ChatGPT, dan ChatGPT tersebut dengan cepat mengakumulasi referensi dari berbagai sumber secara cepat dan terukur. Bahkan ChatGPT mampu memberikan analisanya kepada kita terkait nuansa implisit dalam bahasa kritik seseorang. Sesuatu yang menyenangkan dan layak untuk kita pertimbangkan agar mengetahui netralitas pikiran atau bahasa seseorang dalam dunia digital. Kendati proses yang instan tersebut, Ismail Fahmi mengutip bahasa visionernya Elon Musk, bahwa bertaburnya AI dalam beberapa situs justru membahayakan manusia, tepatnya membuat manusia menjadi mindless.

Dalam merespons kaitannya dengan fitur-fitur AI dan risiko negatifnya ke depan serta algoritma teknologi secara umum, Ismail Fahmi menjabar tiga level kecerdasan digital supaya masyarakat—baik itu mulai dari anak-anak yang kini sudah bias tabiat teknologinya, hingga masyarakat dewasa secara umum—memiliki tingkat manajerial yang tepat dalam penggunaan teknologi.

Baca Juga  Nikah Nggak Cuma Bareng KTP, Tapi Juga Bareng Etika
Tiga Level Kecerdasan Digital

Digital Citizenship, adalah tentang bagaimana kita menjadi warga digital yang bisa menggunakan internet atau teknologi pada umumnya. Bisa menggunakan dalam arti penggunaan praktikal yang outputnya menghasilkan sesuatu yang baik dan produktif. Produktif dan baik itu dua elemen untuk membentuk value, dan dua-duanya harus berjalan secara dialektis. Produktif saja, tapi tidak baik, tidak ada gunanya. Misalnya, produktif “main slot”, what’s for? Sebaliknya, kalau latihan design di internet kalau tidak produktif, maka value tersebut masih bersifat relatif.

Selain itu, kebijaksanaan dalam penggunaan teknologi sangat penting dalam entitas sosial digital. Misalnya, bagaimana kita harus bijak mengelola antara ruang privat dan ruang publik, sehingga aktivasi keduanya tidak mengalami polarisasi. Kebanyakan pengguna media digital sekarang, khususnya di Indonesia, tidak bisa membedakan antara ruang privat dan ruang publik. Substansi obrolan privat antara keluarga atau percakapan suami dan istri itu sama sakralnya dengan dokumen rahasia Badan Intelijen Negara yang lazimnya tidak boleh untuk diumbar di ruang media sosial yang memiliki jangkauan publik yang luas, bahkan tidak terbatas.

Digital Creativity, yaitu tahap di mana daya eksplorasi kita sudah mulai meluas dan mendalam dalam memahami seluk-beluk teknologi. Sehingga kita sudah tidak pada tahap pengenalan dan pembedaan baik dan buruk terhadap anasir teknologi, tapi sudah pada tahap mengkreasikan teknologi demi menghasilkan suatu karya, atau istilahnya “turn ideas into reality”. Misalnya, content creator atau para developer teknologi, mereka adalah aplikator yang sudah berada pada tahap digital creativity.

Digital Competitiveness, yakni level di mana “the ability to solve global challenges, to innovate, and to create new opportunities in the digital economy by driving entrepreneurship, jobs, growth, and impact”. Sederhananya, kita menggunakan teknologi dengan orientasi untuk mendapatkan uang.

Baca Juga  Lima Tahun IBTimes.ID Rancang Strategi Baru Narasi Islam Digital

Ismail Fahmi mengatakan bahwa upaya mengelaborasi literasi digital harus jelas tujuannya. Kalau masih sekadar untuk mencapai digital citizenship, itu sebetulnya bukan termasuk sebagai tujuan, tapi sebagai input dasar. Jadi, kalau input dasarnya sudah beres, maka outputnya adalah kreativitas dan potensial sampai kompetitif.

Belajar dari Negara-Negara Skandinavia

Melihat bagaimana negara-negara Skandinavia yang menduduki peringkat atas dalam literasi digitalnya, membuat kita merasa perlu untuk meniru metode-metode mereka. Misalnya Negara Finlandia yang berada pada peringkat paling atas, disusul dengan Denmark, Belanda dan Swedia yang berada di bawahnya.

Kenapa mereka menduduki peringkat teratas? Menurut Ismail Fahmi, karena ada serangan disinformasi dari Rusia. Bahwa karena merasa ada tekanan dari luar, maka mereka menciptakan metode defensive dalam penguatan literasi digital salah satunya melalui sekolah. Dan metode paling bagus adalah bagaimana menciptakan kesadaran yang berujung pada kecanduan akademik secara kolektif. Tidak hanya elemen tertentu yang punya otoritas dan kapasitas dalam mengelola informasi faktual atau fiktif. Melainkan seluruh masyarakat secara mandiri juga harus bisa secerdas mungkin dalam segi literasi.

Dan satu satire pamungkas dari Ismail Fahmi, Ia mengatakan bahwa dalam mewujudkan literasi digital sehingga masyarakat Indonesia mencapai level digital creative hingga competitive, tidak bisa jika hanya dilakukan satu kali-dua kali webinar saja, melainkan kontinuatif dan terstruktur.

Reporter : Roy Widya

Bagikan
Post a Comment