Kritik Hadis Misoginis Fetima Mernissi (Part 1)
Membicarakan feminisme Islam, maka tidak lepas dari nama Fetima Mernissi. Seorang kritikus hadis, yang sanad dan matannya bermuatan misoginis (mengandung pemahaman membenci perempuan). Misoginis sangat berbahaya, karena dapat menyudutkan perempuan dengan dalih agama.
Hadis yang di kritik oleh Mernissi, kebanyakan adalah hadis yang berkaitan dengan perempuan dalam ranah kepemimpinan atau politik. Dari kiritk hadis misoginis Fetima Mernissi, lahirlah banyak pemahaman dan teori terkait relasi gender antara laki-laki dan perempuan yang equal.
Pendekatan Hermeneutik
Pendekatan yang dipakai oleh Fetima Mernissi dalam menelaah kembali hadis-hadis misoginis adalah pendekatan hermeneutika hadis. Menurutnya, teks-teks agama menempatkan posisi laki-laki dan perempuan secara proporsional, tidak menimbulkan bias dan ketidakadilan gender.
Namun penafsiran para ulama klasiklah yang menyebabkan adanya kesenjangan antara tujuan mula teks agama dengan mendominasinya penafsiran maskulin. Dominasi penafsiran yang maskulin itulah yang kemudian melahirkan dehumanisasi terhadap perempuan dengan dalih doktrin agama.
Dalam kajian kritik matan dan sanad hadis, Mernissi menggunakan kerangka berfikir fenomenologi. Dimana wacana kritik hadis diperoleh dari penggabungan (merger) setiap pengalaman sehingga mendapatkan pemahaman yang utuh dan kontekstual.
Rekontruksi Hadis Misoginis
Hadis-hadis misoginis, banyak diperdebatkan walaupun dianggap shahih oleh Bukhari dan lainnya. Padahal para Fuqaha tidak sepakat terhadap pemakaian hadismisoginis dikaitkan dengan politik.
Al-Thabari salah satunya, yang menentang penggusuran perempuan dari proses pengambilan keputusan politik. Karena dianggapnya, tidak berdasar untuk merampas hak perempuan dan pengucilan darikegiatan politik.
Menurut Mernissi, sebuah argumen dalam menggunakan hadis misoginis sebagai kebenaran fundamental harus diwaspadai. Dalam periwayatan hadis misoginis,terkandung pengkhianatan aspek risalah Rasulullah, para Fakih segera mengoreksi dengan melakukan penyelidikan terhadap hadis-hadis misoginis dengan mengoreksi laporan kebiasaan Rasulullah pada isteri-isterinya, dalam hal ini sebagai sumber utama danterpercaya.
Ibnu Sa’ad mempersembahkan salah satu bab dari bukunya untuk membahas tata letak kediaman Rasulullah. Bab ini sangat penting untuk menjelaskan suatu dimensi kunci dari Islam: revolusi total yang dipersembahkannya vis a vis tradisi Yahudi-Kristen dan tradisi Pra-Islam mengenai kaum perempuan.
Kecenderungan Misoginis
Namun kecenderungan misoginistik tetap mendominasi kalangan ahli fikih, yang sebenarnya justru hendak dibasmi oleh Rasulullah. Sebagai contoh, dalam shahih Bukhari, terdapat hadis berikut:
“Ada tiga hal yangmembawa bencana: rumah, perempuan dan kuda”
Menurut Mernissi, Bukharisama sekali tidak memasukkan versi lain mengenai hadis ini, bahkan mencatat hadisini sebanyak tiga kali dengan sanad dan perawi berbeda-beda, padahal ada bantahanAisyah terhadap hadis tersebut: Mereka berkata kepada Aisyah, bahwa Abu Hurairah mengatakan Rasulullah Sawbersabda:
“Ada tiga hal yang membawa bencana : rumah, perempuan dan kuda”
Aisyah menjawab: “Abu Hurairah mempelajari soal ini dengan sangat buruk. Ia datang memasuki rumah kami ketika Rasulullah di tengah-tengah kalimatnya. Ia hanya sempat mendengar bagian akhir dari kalimat Rasulullah. Rasulullah sebenarnya berkata: “Semoga Allah mebuktikan kesalahan kaum Yahudi; mereka mengatakan, ada tiga hal yang membawa bencana : rumah, perempuan dan kuda”. (Imam Zarkashi, al-Ijaba. H.113 dalam Charlez Khurzman (ed) Fetimah Mernissi. Penafsiran feminis tentang hak-hak perempuan dalam Islam).
Menurut pendapat Imam Malik, dalam hadis tentang perempuan, penafsirannya harus ditelaah dan diteliti terlebih dahulu meskipun hadis itu berstatus shahih. Dan hal itu adalah hak kita semua.
Oleh Fatimah Mernissi, hadis-hadis berkaitan dengan misoginis terhadap perempuan banyak diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Menurutnya Abu Hurairah, selama 3 tahun bersama Rasulullah telah meriwayatkan 5300 hadis.
Hadis Populer Lainnya
Hadis lain yang populer adalah “Suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka pada seorang perempuan tidak akan memperoleh kesejahteraan” terdapat dalam jilid ketiga kitab al-Asqalani, di mana ia mengutip Shahih Bukhari.
Hadis tersebut sering digunakan untuk mengucilkan kaum perempuan dari politik. Kita juga dapat menemukan hadis tersebut dalam karya otoritas lain seperti Ahmadbin Hanbal.
Hadis ini demikian penting dalam memperdebatkan terkait hak politik perempuan. Menurut Mernissi apabila konteks historis sebuah hadis telah jelas, evaluasi secara kritis terhadap hadis tersebut bisa dilakukan dengan menerapkan kaidah-kaidah metodologis yang telah didefinisikan oleh para fuqaha sebagai dasar-dasar proses verifikasi.
Menurut Imam Malik yang dikutip oleh Mernissi, orang yang pernah hidup bersama Rasulullah tidak memadai untuk menjadi sumber hadis, tetapi harus didukung dengan daya ingat yang sangat kuat, kapasitas intelektual dan moral.
Mernissi berpendapat mengutip Imam Malik, harus mengarahkan kecurigaan kepada Perawi, menekankan pentingnya seorang muslim menjadi pengawas mereka, bahkan menganjurkan kita untuk meneliti tingkah laku sehari-hari sang perawi, sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan tingkat kepercayaan mereka.
Terutama adalah perawi pertama, karena perawi pertama adalah orang yang paling bertanggungjawab terhadap matan hadis. Diterima dan tidaknya suatu hadis bergantung pada perawai pertama tersebut, nampaknya Mernissi tidak terpaku pada kaidah kull al-sahabah ‘udul yang dibuat oleh ulama klasik.
Selain itu, Mernissi sangat menekankan kepada aspek historis dari periwayatan hadis tersebut. Meneliti setiap sejarah para perawinya, sehingga apabila ditemukan cacatpada perawi hadis, maka hadis itupun ditolak oleh Mernissi walaupun ada dalamkitab Shahih Bukhari dan Muslim.
…….(bersambung di Part 2)

Imroatus Solihah adalah Staff/Instruktur di Lab. Syariah Prodi Hukum Keluarga Islam FAI-UMM.
