f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
wanita

Bahasa Perempuan dalam Dunia Kerja: Agresif atau Kooperatif?

Oleh: Achmad Santoso*

Semakin ke sini, sebetulnya peran perempuan dalam dunia kerja sudah semakin diperhitungkan. Bukan hanya dunia kerja, bahkan. Kaum hawa juga sudah berani tampil di panggung politik dan kepemimpinan. Kisah Megawati Soekarnoputri bisa jadi refleksi. 

Sembilan belas tahun lalu, nasib mujur menghampiri Megawati Soekarnoputri. Megawati yang kala itu menjadi wapres naik jabatan sebagai presiden setelah Gus Dur jatuh. Ia pun ditahbiskan sebagai presiden perempuan pertama dan masih satu-satunya di Indonesia. Bahkan, di era demokrasi belum ada satu perempuan pun, selain Megawati pada 2004, yang turut andil dalam kontestasi pilpres.

Selama menjabat presiden, ada beberapa hal yang melekat dalam diri Megawati. Antara lain, pertama, Megawati berpenampilan tenang dan tampak kurang acuh dalam menghadapi persoalan. Kedua, gaya kepemimpinan Megawati anti-kekerasan. Ketiga, cukup demokratis sehingga disebut sebagai peletak dasar pemerintahan demokrasi. Keempat, Megawati menjalankan roda kepemimpinan dengan menonjolkan budaya ketimuran. Kelima, ia dikenal cukup lama dalam menimbang-nimbang sesuatu keputusan yang akan diambil.

Esther Kuntjara dalam buku Gender, Bahasa, dan Kekuasaan mengatakan banyak kasus dalam dunia kerja di ranah publik yang menunjukkan betapa tidak mudahnya perempuan berada di dunia kerja yang biasanya diduduki kaum laki-laki. Begitu pula barangkali yang dulu dihadapi Megawati. Megawati ibarat ”liliput” dalam lingkaran elite pria macam Gus Dur, Amien Rais, Habibie, Akbar Tandjung, bahkan Soeharto.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Taufik Kiemas-lah, sang suami, yang ada di balik perjuangan Megawati. Ia mengawal perjalanan karier politik Mega sejak bergabung dengan PDI, menjadi anggota DPR, melawan rezim otoriter Soeharto, mendirikan PDI Perjuangan, hingga menjadi wapres dan presiden.

Dengan faktor-faktor itu, ditambah beban Mega sebagai seorang perempuan (juga ibu), tak heran kalau langgam kepemimpinan yang dipilih adalah tenang, anti-kekerasan, dan demokratis. Ditambah menonjolkan budaya ketimuran yang kita tahu ewuh pekewuh.

Baca Juga  Refleksi Hardiknas: Langkah Interpretatif dan Integratif Tingkatkan Literasi Anak

Menghadapi dunia kerja atau politik sekalipun, perempuan kadang kala memang, meminjam istilah Esther Kuntjara, terjepit di antara dua sisi (double blind). Sisi pertama, perempuan diharapkan mampu mengadopsi gaya laki-laki yang asertif, keras, tegas, dan berani. Di sisi lain, perempuan yang berlaku seperti gaya laki-laki tersebut akan dilabeli ”perempuan kok agresif dan menentang”.

Seperti apa sebenarnya bahasa perempuan dalam dunia kerja?

Bertanya

Esther Kuntjara yang merupakan pakar linguistik dari UK Petra Surabaya, masih dalam buku yang sama, menjelaskan bahwa orang yang lebih berkuasa biasanya lebih sering bertanya daripada yang tidak berkuasa. Hakim, contohnya.

Hakim           : Apakah Anda pernah memberikan uang kepadanya?
Tersangka  : Tidak pernah, Pak. Saya tidak berani, Pak.
Hakim           : Saya bertanya Anda pernah memberi uang atau tidak, bukan berani atau tidak. Apakah Anda pernah memberi uang kepadanya?
Tersangka   : Tidak pernah, Pak.

Dalam dunia kerja, perempuan yang diharapkan mampu mengubah kebiasaan lama hanya menjawab bila ditanya. Sebab, masih banyak di dunia kerja ini, yang barangkali Rahmania temui, perempuan yang lebih nyaman dengan percakapan yang bersifat pertemanan. Sedangkan pertanyaan mereka lebih sering diajukan sebagai strategi untuk mengisi percakapan ketimbang benar-benar untuk menggali informasi anyar.

Maka, jangan biarkan laki-laki mendominasi ruang-ruang diskusi! Perempuan juga mesti mencari (bukan diberi) ruang untuk berekspresi, tak sekadar bertanya, tetapi bahkan juga mengkritik secara independen. Bergeminglah jika dilabeli ”perempuan kok agresif dan menentang” sehingga kayak laki-laki. Seperti yang pernah saya singgung di tulisan sebelumnya perihal ”cewek dilarang ngomong kasar”.

Memerintah

Perintah biasanya diberikan agar seseorang melaksanakan apa yang diperintahkan. Banyak cara yang dilakukan untuk memberi perintah. Bisa secara gamblang seperti ”Ambilkan sepatuku!”; secara lebih halus dengan meminta tolong mempersilakan dan mencoba, ”Tolong bukakan pintu!”, ”Coba tunjukkan mana hidung jerapah!”; serta menambahkan beberapa alasan seperti ”Jika masih ada masalah, telepon saya saja!”. Ada pula yang berbentuk sindiran: ”Seandainya saja tempat ini lebih tenang, kerja kita akan lebih cepat selesai.”

Baca Juga  Perbanyak Ruang untuk Perempuan Penulis, Saatnya Kolaborasi dan Membangun Jejaring

Rahmania, ini fakta yang sulit dibantah: Semakin perintah itu diberikan secara jelas, semakin kita merasakan orang yang memberi perintah lebih berkuasa daripada yang diperintah. Hakim tadi, contohnya. Juga, dokter.

Perintah yang sifatnya tidak jelas atau berupa sindiran bisa berefek ganda. Yang pro mengatakan bahwa pemberi perintah adalah orang yang hati-hati dan tidak mau menyinggung lawan tutur. Yang kontra menuding bahwa pernyataan seperti itu agak tidak sopan karena tidak berterus terang. Nah, dalam dunia kerja, seorang pemimpin harus dapat memberi perintah dengan jelas, tetapi juga tidak kasar.

Bagaimana cara perempuan memberi perintah? Goodwin pernah melakukan penelitian bahwa laki-laki lebih sering menggunakan kata-kata kasar kepada temannya. Contohnya, ”You shut up you big lips” (Tutup mulutmu, hai bibir tebal). Nah, perempuan lebih halus dengan menggunakan kata, ”Let’s…” (Ayo kita…).

Saat kita sekolah dulu, olahraga yang dimainkan laki-laki juga cenderung agresif dan mengandung banyak gesekan. Sepak bola, misalnya. Sedangkan perempuan lebih memilih olahraga yang minim friksi: lompat tali dan paling banter voli.

Dari situ bisa kita lihat bahwa sejak kecil laki-laki akrab dengan kata-kata dan kebiasaan yang cenderung agresif dan menentang, sedangkan perempuan menunjukkan rasa kebersamaan dan selalu ingin mengajak bermain. Apakah kebiasaan demikian itu yang dibawa hingga dewasa dan akhirnya menjadi karakter di dunia kerja?

Menginterupsi

Tatkala kaum hawa masuk ke dunia kerja, kata Esther Kuntjara, mereka sering mengalami pembicaraan yang lebih bersifat kompetitif seperti pada percakapan jenis overlapping. Overlapping bermakna dua orang atau lebih yang sama-sama berbicara, tapi masing-masing menyatakan pendapat yang tidak sama. Padahal, sifat perempuan adalah saling mendukung, sesuai pada kasus memerintah yang lebih mengandung unsur kebersamaan. Di dunia yang kompetitif seperti dunia kerja dan politiklah perempuan akan berhadapan dengan masalah.

Baca Juga  Ikhtiarkan Kontributor Berprespektif Perlindungan Anak dan Adil Gender, UHAMKA dan Rahma.ID Helat Pelatihan Menulis Esai

Dus, dunia kerja dan panggung politik yang kompetitif, keras, dan agresif itu lumrah saja bagi laki-laki, tapi perlu perjuangan ekstra bagi perempuan untuk ”menaklukkannya”. Di sinilah double blind bersemayam, dilema menyeruak. Sisi yang satu menghendaki perempuan berlaku tegas dan kompetitif, sisi yang lain akan melabeli perempuan seperti itu menyerupai laki-laki.

Pertanyaan selanjutnya: Apakah naluri perempuan yang kooperatif dan saling mendukung tidak cocok untuk dunia kerja, lebih-lebih di panggung politik?

*Penulis adalah Editor Jawa Pos, Pegiat JIMM.

Bagikan
Post a Comment