f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
usia

Menjadi Perempuan itu Bukan Soal Usia !

Terlahir sebagai seorang perempuan adalah sebuah anugrah. Perempuan dibekali sepaket kelebihan berserta energi yang tak kenal padam, meskipun juga tidak bisa lepas dengan segenap kekurangannya. Setiap manusia yang bernyawa baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berlomba menebar kebaikan dan manfaat di muka bumi.

Namun entah mengapa, lingkungan masyarakat masih saja memberikan perempuan batasan-batasan, salah satunya batasan usia. Beberapa hal yang dibatasi oleh usia misalnya: perempuan harus cepat sekolah. Nanti kalau sudah sekolah, lulusnya yang cepat, biar cepet kerja. Eh, kalau udah bekerja, kerjanya jangan kelamaan, ingat harus segera menikah.

Udah nemu pasangan? Cepet menikah ya! Habis gitu cepet punya anak. Nah, syukurlah anak pertama sudah lahir! Ayo buruan program hamil anak selanjutnya, ingat keburu 35 tahun ke atas, nanti lahirannya susah. Aduh kok belum hamil anak berikutnya? keburu “tua” kasian ya!.

Jika dikejar Pertanyaan, Bagaimana Seharusnya Perempuan?

Seolah perempuan bekerjaran dengan waktu dan berlomba mencapai garis finish yang satu, agar segera mencapai garis finish berikutnya. Memenuhi keinginan lingkungan sosial hingga lupa memaknai setiap hal yang telah didapatkan. Padahal ada hal yang lebih penting, yaitu bersyukur dan memaknai apa yang telah didapatkan.

Usia sesungguhnya akan selalu berkurang setiap harinya. Tetapi bagaimana cara setiap orang memanfaatkan usia,  itulah hal yang harus terus dibahas dan diperbaiki. Kita akan menjadi tua dan keriput, tetapi masih memiliki pilihan untuk tetap berkarya, bersemangat, dan bergairah,  sebagaimana yang selalu tampak pada anak-anak muda.

Jika semua orang punya jatah usia yang berkurang setiap harinya. Maka, laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berlomba-lomba meraih dan menebar kebaikan. Bukankah selama ini, kitalah yang sibuk membuat batasan untuk meraih mimpi, berkarya, dan menebar kebajikan?

Baca Juga  DPR Belum Peduli Korban Kekerasan Seksual

Sebagai perempuan tidak perlu terlalu cemas akan usia. Jika kita percaya segala hal bisa kita raih dengan usaha dan doa, maka usia tidak lagi membuat kita cemas. Siapun bisa mewujudkan mimpi-mimpi, misalnya: bersekolah hingga pendidikan tinggi, membangun bisnis, belajar mengembangakan diri, menambah pengetahuan, dan mengasah beragam skill.

Perempuan tidak perlu cemas kalau tidak ada yang mau menjadi pasanganmu. Pun tidak usah gelisah ketika calon pasangan kamu merasa minder dan rendah diri. Sebab, seorang seorang perempuan seharusnya memiliki mimpi agar kelak memberi inspirasi bagi keluarga dan berkontribusi untuk bangsa lewat cara-cara yang dapat diupayakan.

Ingatlah bahwa ketika pasangan kamu merasa minder atau lingkungan nyinyirin:

“kok perempuan posisinya tinggi banget? Nggak takut pasangannya nggak bisa ngimbangin?”

Itu hanya sebuah nyinyiran yang dilantunkan dari orang iri, oleh orang yang dengki, dan ditujukkan untuk mereka yang takut posisinya terancam.

Sekali lagi bukankah kita dianjurkan untuk berlomba-lomba bahkan berlari dalam urusan kebaikan?
Apalagi urusan mencari ilmu yang tinggi dan menebarkan manfaat. Jelas baik laki-laki atau perempuan, tua dan muda, semua punya kesempatan yang sama.

Perempuan dan Laki-laki itu Sama

Bukan salah dan masalah perempuan ketika pasangan protes karena merasa minder tanpa mau melakukan evalusi diri. Mengapa ia harus merasa minder? Bukankah setiap orang punya potensinya masing-masing?

Kenyataanya, baik laki-laki dan perempuan memiliki perannya masing-masing. Seluruh perbedaan yang muncul adalah anugrah. Jika perempuan unggul di bidang A, belum tentu ia akan unggul di bidang lainnya. Ketidakungulan itu adalah celah untuk diisi dengan kelebihan pasangan.

Tugas setiap indivdu adalah menggali dan melakukan optimalisasi terhadap kelebihan diri, serta mengevaluasi kekurangan diri. Pasangan perlu mencari tahu kelebihan dirinya dan fokus untuk mengembangkan sehingga dengan cara itulah ia tidak perlu merasa minder.

Seorang perempuan juga tidak perlu merasa dirinya tidak layak, tidak berharga, atau telah mengambil keputusan yang salah, hanya karena memilih untuk mewujudukan impiannya. Itulah cara kita memaksimalkan segala hal baik untuk menjadi bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Perempuan juga tidak perlu cemas ketika tanda penuaan muncul disana-sini, padahal hal itu  adalah bagian perjalan hidup. Bukan hanya perempuan, tetapi laki-laki pun juga akan menua pada saatnya. Kalaupun ingin memakai skincare pastikan hal itu adalah wujud rasa syukur pada anugrah Tuhan yang kita wujudkan dengan merawatnya.

Baca Juga  Tipe Istri Idaman Kamu Seperti Apa?

Semakin kita menerima diri sendiri, kita akan semakin merasa aman dan bahagia. Sebagai perempuan tidak perlu merasa iri dengan para lelaki. Manusia memiliki tugas dan perannya masing-masing. Perempuan selalu memiliki daya yang besar untuk menebar manfaat, baik bagi diri sendiri, keluarga, ataupun lingkungan.

Peduli Peremuan

Tidak ada kata terlalu tua untuk mulai belajar hal baru atau memperbaiki diri dari kesalahan di hari kemarin. Sejatinya hidup adalah proses belajar yang tak mengenal kata usai. Ruang untuk mencoba dan belajar hal baru selalu terbuka setiap hari. Tugas kita adalah bergerak untuk membuka semua ruang itu.

Satu lagi tidak usah risau berlebihan jika memang berlum bertemu jodoh hingga usia tertentu. Setiap orang memiliki jalan hidup dan prosesnya masing-masing. Tidak ada label perawan tua, karena perempuan juga manusia. Tidak ada label kadaluarsa untuk bertemu dengan pasangan jiwa.

Begitupun untuk memiliki anak, tidak ada batas terlalu tua untuk memiliki anak. Sekalipun dianjurkan untuk memiliki anak sebelum usia tertentu karena pertimbangan kesehatan. Bukanlah suatu kesalahan seandainya memang baru dikaruniai anak di usia yang tidak lagi muda versi kebanyakan orang.

Anak adalah titipan, tidak seharusnya masyarakat menyudutkan para perempuan yang kebetulan jalan hidupnya berliku untuk dikarunai anak. Pertanyaannya, untuk apa orang melabeli rezeki dan garis hidup orang lain dengan kata “mandul”? Bukankah sekalipun seseorang belum dikaruniai anak, ia tetaplah seorang manusia yang patut dihargai?

Setiap orang berharga, dan setiap usia di hari-hari kita semoga selalu bermanfaat. Berhenti untuk memberikan label yang menyudutkan manusia lain. Mencemaskan sesuatu hanya karena usia, tidak akan membuat kita bergerak dan bertumbuh. Selama masih memiliki kesempatan bernafas, mengapa kita tidak mengupayakan apa yang bisa dilakukan? Misalnya: menjadi versi terbaik dari diri sendiri, atau menebar kebaikan dan manfaat sebaik-baiknya?

Bagikan
Post a Comment