Hidup : Antara Gratis dan Tidak Gratis ?
Pagi itu, pada tanggal 6 Oktober 2020, di tempat pos gerbang sekolah terjadi suatu perdebatan antara dua orang mengenai sesuatu hal yang gratis. Orang pertama menganggap bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis sedangkan orang kedua menganggap di dunia ini ada kok yang gratis.
Si orang pertama tadi bersikukuh mengenai pendapatnya dengan memberikan contoh biaya hidupnya kemudian ditanggapi oleh orang kedua bahwa kita hidup dengan menghirup oksigen itu sudah termasuk gratis loh walaupun si orang pertama sudah menduga jawaban ini.
***
Namun perdebatan ini tetap berlanjut hingga terdengar suara adzan dhuhur berkumandang, perdebatan yang tadinya panas mulai mencair dengan sendirinya.
Setelah selesai perdebatan, kemudian si orang kedua meninggalkan tempatnya dan kembali ke rumahnya. Namun tak disangka pendapat orang kedua ini langsung menjadi realita apa adanya bahwa ada kok di dunia ini yang benar-benar gratis.
Terbukti dari tempat perdebatan itu, dia mendapatkan panggilan untuk makan bakso bersama. Hidangan bakso yang lezat telah siap untuk disantap ditambah dengan kondisi perut yang memang lapar tak tertahankan, bakso tersebut terasa nikmat bin spesial. Seolah-olah makan di restoran bintang lima ,hehehe. Gratis lagi.
Dari sini jadi teringat suatu penggalan ayat al-Qur’an yang mengatakan bahwa pertolongan Allah itu bisa datang dari mana saja atau tidak disangka-sangka (Q.S At-Thalaq ayat 3). Tiba-tiba saja, setelah perdebatan yang cukup menguras isi otak sekaligus perut, datanglah bakso yang menghibur otak dan perut yang terkuras tadi dan ditambah dengan rasa bayar alias gratis lagi.
Sungguh baik sekali sang pencipta alam semesta ini, tahu mana yang dibutuhkan oleh hambanya bukan tahu yang diinginkan oleh hambanya. Bayangkan saja andai kata Sang Pencipta tahu tentang keinginan hambanya kemudian dikabulkan. Ttentu semua keinginan hambanya akan menjadi senjata makan tuan baik bagi hambanya sendiri ataupun kehidupan di sekitarnya.
Sehingga bukan hal yang mustahil lagi jikalau segala kerusakan dapat terjadi di bumi ini bukan tanpa sebab. bumi yang sebelumnya polos harus rela ternodai oleh ulah tangan jahil yang tak dapat diajak kompromi sebab terkuasai oleh akal dan nafsu birahi.
Seperti kejadian baru-baru ini mengenai pengesahan omnibus law, dimana kebijakan ini hanya akan menghadirkan kesengsaraan bagi kaum proletar dan semakin memakmurkan para kaum borjouis.
Tentu kita tidak ingin melihat bumi yang indah ini rusak akibat ulah kita sendiri. namun perlu di garis bawahi bahwa gratis di sini tidak bermaksud untuk dijadikan legitimasi sebagai alasan untuk meminta-minta karena jelas di dalam islam dilarang keras menjadi peminta-minta apalagi masih dalam kondisi sehat walafiat. karena tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. (H.R Bukhori No. 1427 dan Muslim No. 1053).
***
Gratis di sini dipandang sebagai alat untuk kita dapat merasakan nikmat sang pencipta semesta yang begitu luas. Kita bisa merasakan oksigen yang kita hirup setiap hari bahkan setiap detik secara gratis. Sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan. Dan hal itu hanyalah salah satu dari sekian juta nikmat gratis yang dibagikan Tuhan kepada hamba-hambanya. Jadi yang lain-lain masih banyak sekali, tinggal bagaimana kita mengambil sudut pandang dari setiap kejadian yang terjadi.
Kita hidup di dunia juga tidak hanya sembarangan semua bisa didapat secara gratis. Di dunia ini tidak ada yang gratis juga tidak sepenuhnya salah; karena kehidupan di dunia ini seperti kesuksesan harus diraih dengan perjuangan yang sungguh-sungguh.
Dunia ini adalah tempat bagi mereka yang berjuang secara sungguh-sungguh. Seperti ungkapan pada pelajaran mahfudzot bahwa barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkannya.
Ungkapan ini menjadi dasar sekaligus awal bahwa benar segala di dunia ini juga perlu diperjuangkan alias tidak gratis melulu; karena jika gratis melulu manusia tidak akan pernah mengamalkan apa itu ijtihad.
Tidak akan ada lagi perkembangan peradaban manusia yang luar biasa tanpa ijtihad ilmu terutama di samping ijtihad-ijtihad yang lain. Jika mereka hanya berhenti pada ilmu yang ada, maka tidak akan ada peradaban yang begitu maju seperti sekarang ini. Dunia sejatinya terus berputar dan waktu pun terus berjalan tanpa ada yang bisa menghentikannya kecuali mesin waktu doraemon yang dapat diputar-putar sesuai selera pikiran tentunya.
***
Jikalau hidup ini gratis maka bagaimana kita bisa merasakan indahnya cinta. Cinta yang penuh dengan pengorbanan tanpa meminta dan dipaksa. Cinta yang melahirkan banyak kenangan indah yang mana kenangan indah ini hanya dapat diraih dengan perjuangan dan pengorbanan.
Sekali lagi, hal yang demikian mempertegas kita bahwa memang hidup tidak soal gratis melulu. Adakalanya hidup ini soal berjuang karena bagaimana kita tahu rasanya kehilangan kalau kita tidak pernah menemukan. Maksudnya adalah dalam proses menemukan ini terdapat entah banyak atau sedikit pasti terdapat krikil-krikil gangguan. Namun dengannya kita menemukan suatu hal yang spesial karena diri kita terlibat langsung di dalamnya yang terikat oleh ruang dan waktu.
Jadi, antara gratis dan tidak gratis adalah persoalan yang pasti di kehidupan dunia ini. Karena dengan ini kita bisa membedakan kapan kita harus bersyukur dan kapan kita harus berusaha ataupun berjuang. Jangan sampai kita terlena dengan yang gratis-gratis saja. Sungguh hidup ini indah jika kita bisa memaknainya dan menemukan hikmahnya. Arigato.
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Al-ishlah Sendangagung Paciran Lamongan
