f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
poligami

Pasangan Berselingkuh, Cerai atau Bertahan?

“Ternyata suamiku mengkhianatiku. Sekarang aku nggak tau harus bagaimana lagi.”

Seorang kawan mengucap kata demi kata itu dihadapan saya dengan lirih dan terbata-bata disela isak tangisnya. Sesaat kemudian dilanjut dengan menceritakan bagaimana awal mulanya hingga pada akhirnya dia mengetahui perselingkuhan suaminya.

Saya tidak hendak menghakimi suaminya. Tidak juga akan menyalahkan perempuan yang tiba-tiba hadir menjadi orang ketiga di dalam pernikahannya. Saya hanya ingin memeluk kawan saya tadi, menepuk pelan pundaknya dan membiarkan dia menyelesaikan tangisnya. Karena hanya itulah yang dia butuhkan saat itu.

Allah mengampuni segala dosa bagi siapa saja yang dikehendakiNya, kecuali dosa syirik (menyekutukan Allah). Itu keyakinan dalam agama yang saya anut. Namun pada kenyataannya, seringkali manusia berperan dan memposisikan diri seolah menjadi Tuhan. Hingga dengan mudahnya menghukumi kesalahan orang lain seperti halnya perselingkuhan, sebagai suatu dosa yang tak terampuni. Begitu ketahuan selingkuh, biasanya langsung cerai. Tak ada ampun lagi.

Belajar Menerima Kenyataan

Menghadapi kenyataan bahwa pasangan kita berselingkuh, memang bukanlah suatu hal yang mudah. Tentu kita akan merasa sangat terpukul, sedih dan kecewa. Dalam kondisi seperti itu, keputusan yang hendak kita ambil terkait nasib pernikahan selanjutnya, akan cenderung tanpa didasari pertimbangan yang matang. Bahkan bisa jadi hanya mengedepankan sisi emosional semata.

Sebaiknya mengambil jeda waktu sejenak dan tidak terburu-buru membuat keputusan agar tidak menyisakan rasa sesal dikemudian hari. Setelah gemuruh di dalam dada sedikit mereda, lakukan langkah awal yakni berdialog dengan diri sendiri terlebih dahulu. Tanyakan bagaimana perasaan kita setelah dikhianati pasangan. Masih adakah rasa cinta yang tersisa walau sedikit berkurang kadarnya?

Sebab seperti halnya luka, goresan cinta pun pasti meninggalkan bekas. Dan seberapa dalam bekasnya, selalu berbanding lurus dengan seberapa dalam cinta yang pernah kita rasakan terhadap pasangan. Namun sayangnya, terkadang kita lebih fokus pada satu kesalahan pasangan saja. Sampai-sampai rela mengesampingkan banyak kebaikan yang pernah dia lakukan sebelumnya. Hal inilah yang sangat perlu untuk dipertimbangkan kembali.

Baca Juga  Catatan Pandemi: Agar Tidak Salah Langkah, Yuk Berubah!
Kuncinya Adalah Komunikasi

Langkah selanjutnya adalah berkomunikasi dengan pasangan. Proses komunikasi ini juga tidak mudah, namun tetap harus diupayakan. Tentu akan lebih terasa tidak begitu sulit jika kedua belah pihak sepakat untuk terlebih dahulu menanggalkan egonya masing-masing. Jika pasangan telah menyadari kesalahannya dan mau berkomitmen untuk memperbaiki hubungan, kenapa tidak?

Apalagi jika sudah ada kehadiran anak. Kondisi psikis anak tentu harus menjadi skala prioritas dalam proses pengambilan keputusan. Sebab bagaimanapun juga anak-anak akan lebih bahagia jika tumbuh dalam lingkup keluarga yang utuh.

Jika masih juga ragu untuk memutuskan, boleh saja meminta pertimbangan pihak lain. Namun upayakan memilih orang yang benar-benar tepat, yang sekiranya bisa lebih obyektif dalam memberikan nasehat pernikahan. Sebaiknya hindari berkonsultasi dengan pihak keluarga besar, supaya tidak berpotensi melahirkan konflik baru. Sekaligus untuk menjaga agar jangan sampai menambah beban psikologis keluarga.

Namun harus ada perlakuan yang berbeda jika kasusnya adalah pasangan melakukan kesalahan yang sama dan kerap berulang. Konon menurut penelitian, seseorang dengan riwayat perselingkuhan lebih dari tiga kali kasus yang serius, sangat memungkinkan untuk melakukan hal serupa dalam hubungan berikutnya. Jika terus menerus diberi toleransi, bisa jadi pasangan kita akan berpikir bahwa apapun yang dilakukannya nanti pasti akan selalu dimaafkan. Secara tidak langsung hal ini bisa mendorong dia mengulang pengkhianatannya karena merasa tidak ada konsekuensi negatif.

Dan jika tetap dipaksakan untuk terus berlanjut pada kondisi itu, niscaya biduk rumah tangga akan menjadi sangat rapuh. Sebab pasangan sudah tak lagi mampu menjalankan perannya sebagaimana yang seharusnya.

Pertimbangkan Tumbuh Kembang Anak

Di sisi lain, kondisi seseorang yang terus menerus merasa tersakiti akan sangat berpengaruh pada kesehatan mentalnya terkait dengan faktor pengelolaan emosi. Hal ini akan berdampak pada banyak pihak, terutama si buah hati. Seringkali anak menjadi sasaran luapan amarah ketika seseorang sedang kecewa terhadap pasangannya. Tentu ini akan terasa sangat mengganggu dalam proses tumbuh kembang anak.

Baca Juga  Setelah Berpisah dengan Ramadan

Lalu salahkah bila kita sampai gagal mempertahankan hubungan karena telah lelah hingga akhirnya berhenti berjuang? Lantas apakah kemudian bisa dikatakan bahwa yang sudah gagal itu tidak lebih baik jika dibandingkan dengan yang masih sanggup bertahan? Tentu masalahnya tidak sesederhana itu.

Berkaca pada Kisah Sahabat Rasul

Saya jadi teringat riwayat tentang Tsabit bin Qais, sahabat Rasul yang mulia. Dikisahkan bahwa istri Tsabit merasa khawatir akan tidak mampu memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Lantaran ia tidak sepenuhnya memiliki rasa cinta kepada Tsabit. Lalu si istri tersebut mendatangi Rasul dan menyampaikan khulu’ (permohonan cerai). Setelah melalui segala prosesnya, pada akhirnya Rasul pun meminta Tsabit menceraikan istrinya.

Riwayat lain tentang sahabat sekaligus putra angkat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yakni Zaid bin Haritsah. Rasul melamarkan Zainab binti Jahsyi untuk dipersunting Zaid. Namun pernikahan itu hanya bertahan dalam kisaran waktu satu tahun saja. Hingga kemudian Zaid mentalak Zainab lantaran sudah tak lagi mampu untuk mempertahankan mahligai cintanya.

Dua orang mulia sahabat Rasul tersebut pun akhirnya menyerah kepada takdir. Yang awalnya pernah Allah satukan dalam ikatan pernikahan, tanpa diduga pada akhirnya Allah pulalah yang menakdirkannya berpisah. Sungguh betapa rumitnya membaca takdir. Hanya Allah yang maha berkehendak atas jodoh kita. Dan Allah jugalah yang mengatur hingga berapa lama kita berjodoh dengan orang yang Dia kehendaki tersebut.

Bijak dalam Berkeputusan

Sesuatu yang diperbolehkan tetapi tidak Allah sukai adalah talak (cerai). Walau sanadnya lemah, namun sebagian ulama menshahihkan makna hadis tersebut. Yakni meskipun perceraian dihalalkan, tetapi sebaiknya dihindari. Dan perceraian yang diperbolehkan adalah perceraian yang berujung pada kemaslahatan (hal yang membawa kebaikan). Karena sesungguhnya pernikahan itu adalah miitsaaqan ghaliizaa (perjanjian suci yang agung).

Baca Juga  Ayah dan Anak Perempuannya

Proses komunikasi yang baik tentu sangat berperan untuk menentukan sikap apa yang nantinya akan diambil. Jika memang kenyataannya ada banyak hal yang mengikat dan itu lebih kuat, misalnya pertimbangan tentang anak dan dua hati yang masih ingin saling memiliki. Maka keputusan untuk bertahan tentu saja sangat layak untuk dipilih. Namun jika ternyata keputusasaan dan rasa trauma akibat dikhianati pasangan lebih dominan dibanding harapan untuk bisa bersatu kembali, maka perceraian juga bukan merupakan satu pilihan yang sepenuhnya buruk. (Laeli)

Bagikan
Post a Comment