f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bed procrustean

Bed-Procrustean

Rahmania, pernahkah membayangkan para siswa yang mendapatkan kesimpulan bahwa generasi Z adalah generasi yang tidak mudah termakan hoax. Saya penasaran dengan statemen ini lalu saya bertanya mengapa begitu? Dan mereka menjawab karena sumber informasi (baca= internet) ada di tangan mereka sehingga berita apapun akan mereka cross-check pada gawai mereka.

Saya menjadi teringat pada teman-teman saya yang suka kopi paste postingan atau tulisan orang lain tanpa re-check. Saya lalu membayangkan apa yang dipikirkan milenial ini pada perilaku kita yang masuk kategori generasi X dan Y? Bisakah anda membayangkannya? Mereka menertawai kita karena kita suka copy- paste pada berita-berita yang belum tentu benar. Hal ini saya dapatkan melalui ruang forum tempat saya berdiskusi di dalam ruang kelas virtual yang menggunakan platform Google Classroom. Saya mengangkat isu Millenial. Kalau dalam kategori memang siswa usia SMA saat ini terkategori paska milenial. Namun diksi milenial sudah menjadi icon yang mengacu pada sifat-sifat yang melekat pada native digital.

Forum ini juga menjadi tempat berceloteh tentang angan-angan mereka dan bagaimana mereka memandang diri mereka. Berikut ini kata-kata yang saya dapatkan: broad-mind, do things easily and quickly, technology adapted, innovative, creative, cooperative, net-working, open individual mind, respect new ideas, tolerant, good behavior dan masih banyak sifat-sifat yang mereka cantumkan.

Mereka juga tahu beda antara hard and soft skill yang akan menentukan fungsi mereka kelak dalam kompetisi profesional mereka. Sampai pada tahap ini, saya juga cukup surprise pada penjelasan tentang apa saja dan bagaimana soft-skill harus mereka persiapkan bagi masa depan mereka. Public speaking, communication, leadership, cooperation, adaptation, dan net-working adalah soft-skill yang harus mereka miliki sementara design operating software, foregn languages adalah bagian hard-skill yang perlu mereka persiapkan. Wow! I can’t believe it!

Eits, jangan menyanggah dulu..

Mungkin banyak yang berpikir, itu kalimat anak-anak pinter, dan bagaimana dengan anak-anak malas, suka bolos, suka cari perhatian dan hal merusa lain. Saya tidak pernah menggap anak tidak mampu memiliki daya imajinasi jika mereka di beri ruang dan kesempatan.

Saya sendiri mendesain forum ini tidak sekedar sebagai tugas biasa, namun ada harapan dan upaya self-reflection dan reconstruction. Saya mengurutkan mulai dengan pertanyaan, apakah milenial itu punya sifat buruk dan baik. Lalu jika kamu milenial, sifat seperti apa yang kamu harapkan untuk mencapai masa depan kamu.

Sanggahlah pendapat saya, pendapat temanmu dengan cara yang elegan, beri alasan yang kuat, jangan asal bicara tanpa data dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Bagi saya ini adalah agenda hidden curriculum yang sangat penting membantu mereka mengenali diri dan membuat upaya sistematis dengan melihat inside mereka.

Bagaimana sekolah kini?

Meminjam istilah yang digunakan Liasidou (2008) pada Jurnal of Education Policy, saya menggambarkan generasi Z seolah berada dalam bed procrustean dari mitologi Yunani dengan mengibaratkan sekolah sekarang seperti bed procrustean. Dalam kamus  bed-procrustean dimaknai sebagai a plan or scheme to produce uniformity or conformity by arbitrary or violent methods. Liasidou memberi kata ‘pemaksaan untuk beradaptasi’ dan ‘mono-dimensi’.

Visualisasi  istilah bed-procrustean adalah tempat tidur milik Procrustes, tempat dia memaksa para korbannya untuk berbohong. Dia akan memaksa korbannya untuk menyesuaikan diri dengan ukuran badannya dengan ukuran tempat tidur. Jika ukuran tubuh korban lebih panjang, dia akan  memotong kaki  dan jika lebih pendek, dia akan memalu untuk meregangkan kaki korbannya.

Hal ini digunakan oleh Liasidou untuk menggambarkan kesewenang-wenangan dengan memaksa seseorang atau sesuatu untuk menyesuaikan diri dengan skema atau pola yang tidak wajar. Sementara diksi mono-dimensi adalah sebuah gambaran pemaksaan pada skema tunggal yang membuat seseorang tak memiliki pilihan selain menerima.

Bayangkanlah habitus masa depan siswa ini di masa depan mereka adalah sebuah profesi di mana kualitas mendominasi dalam inovasi, kreasi, kerja sama, dan net-working. Namun sekolah masih menggunakan gaya tradisional di mana keseragaman lebih penting dari kreatifitas individu. Kurikulum masih melihat siswa dengan cara yang sama. Ruang belajar tidak didesain sebagai tempat berkreasi. Kritikan masih tabu, kadang dianggap pembelaan diri.

Saya menggunakan kata moderate untuk membuat saya benar-benar berfungsi sebagai fasilitator. Fasilitator bahkan pada titik tertentu hanya boleh mengarahkan, bukan menilai atau menjustifikasi. Memberi gambaran tentang effort siswa lebih bermakna dari sekedar memberi angka. Saya tak mampu membayangkan bagaimana siswa kita ini adalah pejuang yang harus keluar dari situasi mono-dimensi sementara mereka adalah generasi yang akan bertahan pada situasi multi-dimensi.  

Bagikan
Comments
  • Enry Raynaldi Pambudi

    Good

    Agustus 7, 2020
  • Enry Raynaldi Pambudi

    Mengandung pesan yang bagus yaitu jangan suka mengcopy paste berita karena berita tersebut belum tentu benar dan sebelum mengcopy paste berita tersebut harus di kroscek terlebih dahulu dicari kebenarannya

    Agustus 7, 2020
  • Osel Hita

    Mengenai pertanyaan yang ada di tulisan miss nazilah tentang “apakah milenial itu memiliki sifat buruk dan baik?” tentu saja milenial memiliki sifat buruk dan baik
    Sifat baiknya adalah milenial dapat menjadikan sosial media sebagai platform untuk menuangkan kekreatifan mereka, sosial media juga mereka jadikan platform untuk mencari uang jajan tambahan
    Sifat buruknya adalah terkadang milenial kurang bijak berpendapat di sosial media.

    Agustus 7, 2020
  • Tazkiah

    Good miss❤️❤️❤️

    Agustus 7, 2020
  • Rifadi

    Menurut saya ini memang ada benarnya akan tetapi jika generasi x dan y terus terusan begitu apakah generasi z jadi tidak mendengarkan dan percaya generasi diatasnya? Itu mungkin bisa terjadi dan untuk masalah seperti itu hanya bisa dikembalikan pada diri masing masing
    (Note: saya tidak bisa menjamin saya benar atau salah tapi jika benar maka datangnya dari tuhan dan jika salah maka itu datang dari diri saya sebagai manusia)

    Agustus 7, 2020
  • Fajar Putra N

    esai yang bagus menurut saya,seakan kita sebagai pembaca di dorong oleh penulis untuk berpikir secara kritis
    terhadap sistem atau pola dan skema yang ada di kehidupan sekitar kita yang bisa dikatakan tidak cocok atau
    kurang tepat

    Agustus 7, 2020
  • Shakira amarillis h

    Menurut saya jauh lebih baik kita mencari lebih dalam suatu informasi dibandingkan hanya sekedar mengcopy paste sebuah berita atau hal yang lain.menurut saya pula akan jauh labih baik jika lingkungan sekolah di hidupakan menjadi lebih menyenangkan karena sebelum masa pandemi ini terjadi siswa menghabiskan banyak waktunya di sekolah,serta tidak menutup kemungkinan hal tersebut malah membuat hasil prestasi siswa menjadi jauh lebih baik lagi.

    Agustus 7, 2020
  • Muhammad Heydar Al-hakim

    Ya saya setuju dengan pendapat mengenai sistem atau kurikulum sekarang yang hanya memandang siswa dari nilainya saja dan cenderung membebani siswa dengan tugas yang berat padahal siswa sudah terbebani dengan adanya full day dan kegiatan organisasi dan ya ketika siswa ingin menyuarakan pendapatnya kepada pihak sekolah, sekolah hanya menganggapnya angin lalu saja

    Agustus 7, 2020
  • Rohmatunnazilah

    Ya banget Enry Rainaldi Pambudi. Bijak bersosmed sangat penting. Thanks for your comment.
    Keep healthy

    Agustus 7, 2020
  • Nice article 😬👍

    Agustus 7, 2020
  • Nadia.y

    Saya sebagai siswa sangat setuju dengan penggambaran pendidikan sekarang berdasarkan standarisasi yang membuat siswa takut atau malu jika mereka berbeda dengan siswa lain…..good

    Agustus 7, 2020
  • Muhammad hafiedh asshidiqie

    Bagus sekali, ini membuktikan bahwa generasi Z tidak gampang percaya dengan berita yang tersebar luas namun mereka juga akan mencari kebenaran dari berita tersebut yang tentu menggunakan logika dan gawai mereka

    Agustus 7, 2020
  • Ismy

    Saya setuju dengan statement bahwa generasi z memang tidak mudah termakan hoax, tapi saya hanya ingin menyampaikan bahwa terkadang suatu hoax berkembang di sosial media yang notabene nyaa digunakan oleh generasi z. Terkait model sekolah yang sederhana serta lebih menuntut keseragaman dibandingkan kreatifitas individu, saya rasa tuntutan membuat pola pikir individu menjadi cenderung lebih sempit. Dalam hal ini adalah siswa sekolah. Jika siswa berada di lingkungan perkotaan modern maka pola pikir nya akan lebih terbuka. Tapi bagaimana dengan siswa di pelosok yang berbahasa indonesia saja masih terbata-bata?

    Agustus 7, 2020
  • menurut saya pembahasan yg sangat menarik apalagi dalam segi pengibaratan generasi Z sekarang seolah seperti bed procrustean, saya berfikir sekolah mengharuskan seorang siswa bisa menguasai berbagai materi tanpa tau dimana potensi mereka sebenarnya berada. Oke, mungkin beberapa ada yang mengajak siswa untuk mencari tau apa potensi dalam diri mereka, mengajak untuk menciptakan karya. Namun, sebagian orang masih menganggap bahwa tolak ukur kepintaran berarti jika dia bisa mencapai suatu bidang tertentu. Sehingga bisa menjadikan bidang lain terlihat rendah/remeh.

    Agustus 7, 2020
  • Ismy

    Saya setuju dengan statement bahwa generasi z memang tidak mudah termakan hoax, tapi saya hanya ingin menyampaikan bahwa terkadang suatu hoax berkembang di sosial media yang notabene nyaa digunakan oleh generasi z.

    Agustus 7, 2020
  • Fajar Putra N

    esai yang bagus menurut saya,seakan kita sebagai pembaca di dorong oleh penulis untuk berpikir secara kritis terhadap
    sistem atau pola dan skema yang ada di kehidupan sekitar kita yang bisa dikatakan tidak cocok , kurang tepat atau Old School

    Agustus 7, 2020
  • Ismy

    Pola pikir generasi z memang selalu menjadi hal menarik untuk di diskusikan. Lingkungan menjadi faktor penting dalam pembentukan pola pikir. Pola pikir terbuka cenderung dimiliki oleh generasi z di perkotaan. Dimana mereka memiliki sarana dan prasarana serta fasilitas yang memadai. Lantas bagaimana dengan generasi z di pelosok? Yang bahkan berbicara bahasa indonesia pun masih terbata-bata? Mereka memiliki pola pikir tertutup bahkan cenderung menyamai pola pikir generasi x maupun y.
    #generasi z
    #hoax
    #pendidikan anak
    #sekolah

    Agustus 7, 2020
  • Dunia milenial memang dilingkari dengan segala informasi dari pendapat seseorang, sehingga dari sana kita dapat membuat argumentasi dengan menambahkan pendapat dengan pengetahuan informasi dari data yg terpercaya sehingga kreativitas anak dalam mengelola informasi akan lebih terlatih dan hoaks tidak mudah diterima

    Agustus 7, 2020
  • Annisa Salsabilla

    menarik dan dapat diambil pesan bahwa intinya membaca sampai selesai berita sebelum menyebarkanya dan harus mencari akar beritanya dan lebih teliti dalam menanggapi.

    Agustus 7, 2020
  • Jorichsan Kaisatya Aydin

    Untuk menjadi generasi Z yang berkontribusi aktif dalam perkembangan zaman, kita harus menjadikan cross-check info sbg kebiasaan kita dalam menyikapi suatu informasi, sikon atau berita yang kita terima agar tidak terjadi salah paham.

    Agustus 7, 2020
  • Qurrota Ayunin

    Saya setuju dengan penggunaan istilah bed-procrustean untuk me-visualisasikan sekolah yang ada pada zaman milenial sekarang. Hal ini sangat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental siswa yang mungkin tidak diketahui oleh guru, orang tua, bahkan temannya sendiri. Jika adanya perbedaan zaman lalu kenapa bidang-bidang tertentu masih sama seperti dulu dengan menggunakan cara yang tradisional juga. Jika hal ini terus dilakukan lalu apa yang akan berubah. Zaman memang sudah berubah namun jika sekolah saja masih menerapkan cara tradisional apakah akan ada yang berubah? Saya rasa tidak, dunia ini hanya akan seperti kertas kosong, tidak ada yang istimewa.
    Saya juga ingin mengatakan kesehatan fisik memang lah penting, namun pernahkah kita diberi masukan bagaimana cara mengatasi gangguan mental? Penyakit gangguan mental juga sangat berpengaruh untuk kehidupan. Percuma jika kita memiliki fisik yang kuat namun mental kita tidak diperhatikan. Orang-orang mengira bahwa sakit hanya akan menyerang fisik manusia, mereka salah, kesehatan mental lebih sering sakit daripada fisik mereka. Mungkin saja orang yang terlihat fisiknya sangat kuat namun mentalnya berantakan dan tidak ada yang peduli karena mereka menganggap nya “sehat” menjadi rapuh dan mungkin terlintas dipikirannya untuk “suicide” ketika hanya memiliki kesalahan kecil. Tentu hal ini tidak ingin terjadi di kehidupan kita. Jadi itu saja yang ingin saya sampaikan semoga lebih mendapat perhatian dan juga kesadaran.

    Agustus 8, 2020
  • Valena Nadia

    Penjelasan yg sangat menarik terkait dengan topik milenial dan generasi Z, tapi saya ingin menambahkan pendapat saya mengenai pernyataan tentang anak malas. Saya setuju dengan pendapat Miss Nazilah, sebenarnya setiap anak memiliki keunggulannya masing masing. Anak terlihat malas di akademik mungkin karena mereka menanggap teori itu membosankan, jika seperti itu bisa jadi mereka lebih unggul dan lebih semangat jika dilibatkan dengan hal hal berbau praktek. Oleh karena itu penting untuk tidak membuat stereotipe yang jatuhnya malah mengganggu mental orang orang dan memaksakan mereka untuk mengikuti stereotipe yg ada

    Agustus 8, 2020
  • Menurut saya, gaya tradisional yang masih digunakan sekolah saat ini, dimana keseragaman menjadi tujuannya justru akan membunuh kreatifitas dan inovasi siswa yang nantinya akan sangat diperlukan di masa depan. Dengan adanya sumber informasi (internet) digenggaman mereka sudah semestinya kreatifitas dan inovasi tersebut dapat tumbuh dengan lebih baik dan berbeda di setiap tangan yang menggenggam. Dari hal tersebut sudah sangat dipastikan jika kurikulum yang diterapkan yang berfokus pada kesamarataan justru malah menjadi tombak yang membunuh kreatifitas siswa generasi saat ini (Gen Z)

    Agustus 9, 2020
  • Titania Malafaizafatah

    Artikel yang sangat menarik dan juga memang kebanyakan generasi millenial selalu mencari tau kebeneran dari suatu berita terlebih dahulu

    Agustus 10, 2020
  • Turizal Husein

    Tulisan Ibu Nazila sangat menarik untuk di diskusikan lebih lanjut. Ibu Nazila menggambarkan adanya pola pendidikan dengan rencana atau skema untuk menghasilkan keseragaman atau kesesuaian. Untuk mewujudkan itu banyak sekolah memilih cara tradisional dengan metode sewenang-wenang atau kekerasan.

    Cara sewenang wenang dengan menutup kreativitas murid dianggap jitu dalam mencetak lulusan yang berjiwa patuh dan disiplin. Namun mereka lupa kedisiplinan dan kepatuhan tidak cukup untuk menciptakan manusia manusia cerdas. Mereka harus pula memiliki sikap sikap yang telah disebutkan diatas yaitu berwawasan luas, melakukan sesuatu dengan mudah dan cepat, beradaptasi dengan teknologi, inovatif, kreatif, kooperatif, bekerja dengan jaringan, pikiran individu terbuka, menghargai ide-ide baru, toleran, perilaku yang baik.

    Sikap sikap tersebut hanya dapat diperoleh dalam kondisi belajar yang terbuka, menyenangkan dan menggembirakan. Bukan sebaliknya menggunakan metode kursi pesakitan yang digambarkan Ibu Nazila di atas.

    Wallahu a’lam bissawab

    Agustus 10, 2020
  • Maulida Gustie El-Aisy

    saya sangat tertarik dg apa yg miss.nazilah tulis.Disini saya hanya akan menyoroti tentang generasi Z, bahws utk mempersiapkan masa depan mereka,ada dua nnyang harus mereka kuasai yaitu soft skill dan hard skill

    Agustus 12, 2020
Post a Comment