f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Friend with Benefits

Eksistensi Tren FWB (Friend with Benefits) di Kalangan Gen-Z

Perkembangan zaman terasa begitu cepat dengan diiringi munculnya tren-tren terbaru. Tren-tren ini bisa menyebar dari individu ke individu lainnya dengan begitu mudah dan cepat karena canggihnya teknologi informasi dan komunikasi di zaman sekarang. Golongan orang-orang yang mudah dan aktif mengonsumsi tren-tren terbaru ini adalah Gen-Z. Karena mereka memiliki akses yang mudah dan cepat ke informasi melalui internet dan media sosial seperti Tik Tok, Instagram, Twitter, Telegram dan lain sebagainya.

Gen-Z atau Generasi Z adalah generasi yang lahir pada tahun 1997 sampai 2012 yang sekarang mereka berusia 12 sampai 27 tahun.[1] Pendapat lain mengatakan bahwa Gen-Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1995 atau setara dengan usia 29 tahun. Gen-Z juga dikenal dengan istilah pasca-milenial, karena generasi sebelumnya disebut dengan generasi milenial.[2] Perilaku Gen-Z dikelompokkan menjadi empat komponen. Pertama, Gen-Z dikenal sebagai the undefined ID (menghargai ekspresi setiap individu dengan tanpa memberi label tertentu kepada mereka). Kedua, the communaholic (memiliki sifat inklusif dan tertarik untuk ikut terlibat dalam komunitas tertentu dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi). Ketiga the dialoguer (mempercayai bahwa dengan komunikasi akan dapat menyelesaikan masalah). Dan keempat, the realistic (cenderung realistis dan analitis dalam mengambil keputusan).[3]

Dari keempat perilaku Gen-Z di atas, jelas bahwa merekalah yang aktif dalam menghadapi perkembangan zaman. Terlebih pada tren-tren yang muncul saat ini. Salah satu tren yang menimpa Gen-Z saat ini adalah tren hubungan FWB (Friend with Benefits). Jika diartikan secara harfiah ke dalam bahasa Indonesia maka FWB berarti “teman dengan manfaat”. FWB ini adalah model hubungan pertemanan yang dilakukan oleh orang-orang (perempuan dengan laki-laki) yang ingin memenuhi kebutuhan biologisnya/aktivitas seksual saja dengan pasangan tanpa adanya ikatan emosional atau perasaan suka/cinta.[4]

Hubungan FWB mulai disorot dan menjadi perbincangan di media populer setelah meluncurnya film yang diproduksi di Amerika tahun 2011 dengan judul Friends with Benefits. Beriringan dengan perkembangan globalisasi dan teknologi informasi serta komunikasi yang sangat pesat, istilah Friends with Benefits ini akhirnya menyebar luas secara global. Ada istilah lain yang kurang lebih memiliki makna yang sama dengan FWB dan telah menjadi tren di kalangan kaum muda di Indonesia yaitu TTM (Teman tapi Mesra). Namun pada praktiknya, hubungan TTM ini belum sampai mengarah kepada aktivitas seksual.[5]

Baca Juga  Berteman dengan Remaja Generasi Z

Pasangan FWB bukan berarti mencintai pasangan dengan apa adanya, melainkan melakukan hubungan dengan tanpa adanya ikatan komitmen. Dalam hubungan ini, antar pasangan tidak boleh terbawa perasaan atau baper, karena dapat merusak esensi FWB itu sendiri. Menurut penelitian, perempuan memiliki kecenderungan untuk memiliki hubungan FWB yang lebih romantis dan serius. Tetapi berbeda dengan laki-laki yang tidak menginginkan keseriusan dalam berhubungan. Ketika salah satu dari pasangan FWB mulai muncul perasaan suka, maka mereka harus menjauh sementara waktu dan kemudian kembali lagi jika sedang dibutuhkan. Dan ketika mereka akan melakukan hubungan intim layaknya pasangan sah suami istri, tidak boleh ada unsur pemaksaan dan harus dilakukan berdasarkan kesepakatan antara kedua belah pihak.[6]

Aktivitas dan pasangan FWB ini, tidak hanya dilakukan dan ditemukan secara langsung (offline). Seperti dengan teman sekelas, teman sekampus, rekan kerja atau yang lainnya. Tetapi juga dapat dilakukan dan ditemukan secara online yaitu dengan aplikasi kencan daring atau online dating apps. Aplikasi ini tidak hanya digunakan untuk mencari pasangan dalam konteks long-term partner tetapi juga digunakan untuk mencari pasangan dalam konteks short-term partner seperti FWB.[7] Aplikasi lain yang digunakan untuk mencari pasangan adalah Telegram dengan mengirimkan pesan melalui Bot Telegram yaitu Anonymous Chat. Melalui Bot ini, setiap orang disamarkan identitasnya sehingga membuatnya bebas berekspresi. Beberapa orang menggunakan Bot ini untuk melampiaskan kebutuhan seksnya secara online, melalui VCS (video call sex) misalnya.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada mahasiswa, menyebutkan bahwa ada beberapa faktor yang menjelaskan alasan seseorang memiliki hubungan FWB. Pertama, keinginan untuk memenuhi kebutuhan seksual yang tidak ia dapatkan dengan pasangannya sehingga ia melakukan hubungan FWB. Kedua, merasa kesepian sehingga menjadikan pasangan FWB sebagai teman ngobrol sampai kebutuhan aktivitas seksual. Ketiga, banyaknya tugas kuliah sehingga dengan memiliki pasangan FWB dan memintanya untuk membantu mengerjakan tugasnya.[8]

Menurut penelitian, manfaat daripada FWB ini adalah adanya kebebasan dan terpenuhinya kebutuhan seksual, tanpa adanya batasan-batasan asmara monogami. Orang yang memiliki hubungan FWB, mereka akan bebas bereksperimen dan bereksplorasi untuk menikmati seks konsensual tetapi dengan kebebasan emosional yang lebih besar.[9] Tentu, dalam Islam hal ini bukanlah termasuk dari manfaat. Sedangkan dampak dari FWB ini di antaranya. Pertama risiko penyakit menular seperti sifilis, gonore, HIV-Aids, dan herpes kelamin. Kedua, kehamilan yang tidak direncanakan. Ketiga, praktik aborsi yang tidak aman. Keempat, memicu masalah kesehatan mental seperti kecemasan, dan memiliki pengaruh pada harga diri pelakunya. Kelima, penekanan terhadap aspek fisik pada suatu hubungan.[10]

Baca Juga  57 Tahun IMM : Immawati sebagai Ujung Tombak Peradaban

Konsekuensi tren hubungan FWB ini di Indonesia memiliki konsekuensi yang lebih luas daripada negara Barat. Karena Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi norma dan nilai keagamaan sehingga menganggap isu seputar seksualitas ini sebagai sebuah hal yang tabu. Berbeda dengan negara Barat yang menganggap hal ini sebagai sebuah budaya mereka.[11] Tentu dalam kacamata agama, hubungan seperti ini adalah haram dan termasuk perbuatan zina. Zina adalah tindakan persetubuhan yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan tanpa adanya ikatan perkawinan yang sah.[12] Orang yang melakukan perbuatan zina mendapat ancaman dari Allah. Selain itu, akan mendapatkan hukuman sosial dari masyarakat yaitu nama baiknya akan tercemar.

Dalam Fathul Baari pada bab Hudud terdapat penjelasan mengenai hikmah dari sebuah hadis tentang larangan zina. Yang pada intinya menjelaskan bahwa pelarangan terhadap zina itu termasuk juga pelarangan terhadap seluruh syahwat. Jadi segala hal yang dapat memicu syahwat seseorang memuncak maka itu dilarang meskipun belum termasuk zina.

Demikianlah eksistensi hubungan FWB di kalangan Gen-Z. Hendaknya sebagai Gen-Z tetap berhati-hati dalam menghadapi perkembangan zaman ini, terlebih dalam berteman, menggunakan media sosial, dan aspek-aspek lainnya. Jangan sampai dengan adanya tantangan zaman ini, kita hanya mengikuti alirannya saja tanpa memilah dan memilih mana yang layak dan mana yang tidak.

Daftar Pustaka

Anonim, ‘“Friends with Benefits” Bisa Juga Bermanfaat – Apa Kata Terapis Seks Tentang Hubungan Ini?’, The Conversation, 2023 <https://theconversation.com/friends-with-benefits-bisa-juga-bermanfaat-apa-kata-terapis-seks-tentang-hubungan-ini-213260#:~:text=Manfaat FWB,ada dalam hubungan asmara monogami.> [accessed 3 February 2024]

Azzizah, Annisa Nur, ‘Friends with Benefits: Agensi Seksual Kaum Muda Dalam Kontestasi Nilai Dan Norma’ (Universitas Indonesia, 2020) <https://doi.org/10.13140/RG.2.2.12124.62080>

Kahar Muzakir, ‘Zina Dalam Perspektif Hukum Islam Dan Kitab Undang Undang Hukum Pidana’, Formosa Journal of Science and Technology, 1.1 (2022), 33–46 <https://doi.org/10.55927/fjst.v1i1.664>

Kristi, Andre Kurniawan, ‘FWB Adalah Hubungan Pertemanan Yang Intim Tanpa Keterlibatan Emosional, Ini Keuntungan Dan Kerugiannya’, Merdeka.Com, 2023 <https://www.merdeka.com/jabar/fwb-adalah-hubungan-pertemanan-yang-intim-tanpa-keterlibatan-emosional-ini-keuntungan-dan-kerugiannya-14888-mvk.html?screen=22> [accessed 3 February 2023]

Baca Juga  Keawetan Memori ‘Mantan’ Dibanding Pelajaran

Makarim, Fadhli Rizal, ‘Ini 5 Dampak Friends with Benefits Bagi Kesehatan Seksual Dan Mental Remaja’, Halodoc.Com, 2023 <https://www.halodoc.com/artikel/ini-5-dampak-friends-with-benefits-bagi-kesehatan-seksual-dan-mental-remaja> [accessed 3 February 2024]

Rosariana, Bernadeta, ‘Generasi “Milenial” Dan Generasi “Kolonial”’, Kementerian Keuangan Republik Indonesia, 2021 <https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-pontianak/baca-artikel/14262/Generasi-Milenial-Dan-Generasi-Kolonial.html#:~:text=Adapun Gen Z%2C merupakan generasi,berusia 24-39 tahun).> [accessed 3 February 2024]

Sakitri, Galih, ‘Selamat Datang Gen Z , Sang Penggerak Inovasi’, Forum Manajemen Prasetiya Mulya, 35.2 (2021), 1

Zafarani, Lintang Razita, and Megasari Noer Fatanti, ‘Konstruksi Makna Friend with Benefit (FWB) Di Kalangan Mahasiswa Kota Malang Dari Tinjauan Fenomenologi Sosial’, MUKADIMAH: Jurnal Pendidikan, Sejarah, Dan Ilmu-Ilmu Sosial, 7.2 (2023), 345–61 <https://doi.org/10.30743/mkd.v7i2.7586>


[1] Bernadeta Rosariana, ‘Generasi “Milenial” Dan Generasi “Kolonial”’, Kementerian Keuangan Republik Indonesia, 2021 <https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-pontianak/baca-artikel/14262/Generasi-Milenial-Dan-Generasi-Kolonial.html#:~:text=Adapun Gen Z%2C merupakan generasi,berusia 24-39 tahun).> [accessed 3 February 2024].

[2] Galih Sakitri, ‘Selamat Datang Gen Z , Sang Penggerak Inovasi’, Forum Manajemen Prasetiya Mulya, 35.2 (2021), hal. 1.

[3] Sakitri.

[4] Andre Kurniawan Kristi, ‘FWB Adalah Hubungan Pertemanan Yang Intim Tanpa Keterlibatan Emosional, Ini Keuntungan Dan Kerugiannya’, Merdeka.Com, 2023 <https://www.merdeka.com/jabar/fwb-adalah-hubungan-pertemanan-yang-intim-tanpa-keterlibatan-emosional-ini-keuntungan-dan-kerugiannya-14888-mvk.html?screen=22> [accessed 3 February 2023].

[5] Annisa Nur Azzizah, ‘Friends with Benefits: Agensi Seksual Kaum Muda Dalam Kontestasi Nilai Dan Norma’ (Universitas Indonesia, 2020) <https://doi.org/10.13140/RG.2.2.12124.62080>. hal. 2.

[6] Lintang Razita Zafarani dan Megasari Noer Fatanti, ‘Konstruksi Makna Friend with Benefit (FWB) Di Kalangan Mahasiswa Kota Malang Dari Tinjauan Fenomenologi Sosial’, MUKADIMAH: Jurnal Pendidikan, Sejarah, Dan Ilmu-Ilmu Sosial, 7.2 (2023), 345–61 <https://doi.org/10.30743/mkd.v7i2.7586>. hal. 347.

[7] Azzizah. hal, 22

[8] Zafarani and Fatanti. hal 351-352.

[9] Anonim, ‘“Friends with Benefits” Bisa Juga Bermanfaat – Apa Kata Terapis Seks Tentang Hubungan Ini?’, The Conversation, 2023 <https://theconversation.com/friends-with-benefits-bisa-juga-bermanfaat-apa-kata-terapis-seks-tentang-hubungan-ini-213260#:~:text=Manfaat FWB,ada dalam hubungan asmara monogami.> [accessed 3 February 2024].

[10] Fadhli Rizal Makarim, ‘Ini 5 Dampak Friends with Benefits Bagi Kesehatan Seksual Dan Mental Remaja’, Halodoc.Com, 2023 <https://www.halodoc.com/artikel/ini-5-dampak-friends-with-benefits-bagi-kesehatan-seksual-dan-mental-remaja> [accessed 3 February 2024].

[11] Azzizah. Hal. 3.

[12] Kahar Muzakir, ‘Zina Dalam Perspektif Hukum Islam Dan Kitab Undang Undang Hukum Pidana’, Formosa Journal of Science and Technology, 1.1 (2022), 33–46 <https://doi.org/10.55927/fjst.v1i1.664>. hal. 35.

Bagikan
Post a Comment