Teologi Pembebasan Memandang Penindasan terhadap Perempuan
Fenomena penindasan manusia seringkali disebabkan oleh suku, ras, warna kulit, agama, kekayaan, dan kekuasaan. Atas dasar tersebut perlu adanya perjuangan sosial yang dapat membebaskan manusia dari segala macam penindasan. Manusia seringkali menghadapi permasalahan kebebasan dalam hidupnya.
Hasan Hanafi seorang filsuf muslim melalui teologi pembebasannya membawakan cara pandang baru, agar manusia lebih humanis. Meskipun teologi pembebasan sendiri berasal dari barat yang dicetuskan oleh Gustavo Gutierrez, tidak menjadi masalah. Hasan Hanafi sendiri ingin mengembalikan Islam sebagai agama pembebasan yang peduli serta responsif terhadap permasalahan-permasalahan kemanusiaan
Islam sering dipandang ajarannya selalu berpusat kepada Tuhan (tauhid), yang dipahami sebagai simbol keesaan Tuhan. Hadirnya sosok hasan Hanafi dengan pemikirannya untuk memperluas cara pandang umat Islam bahwa Islam tidak hanya memandang tentang keesaan Tuhan saja, akan tetapi Islam juga memandang masalah-masalah kemanusiaan.
Cakupan tauhid tidak hanya berhubungan Tuhan, melainkan juga hubungan dengan manusia (habluminannas). Ajaran tauhid menepatkan manusia pada derajat yang sama dan menolak segala bentuk diskriminasi ras, suku, jenis kelamin, agama, serta kekuasaan. Pandangan teologi pembebasan memiliki corak humanis karena penuh empati kepada manusia.
Teologi Pembebasan Hasan Hanafi
Hasan Hanafi membawa teologi Islamnya kepada teologi pembebasan untuk menyelamatkan manusia dari ketertindasan atau ketidakadilan yang disebabkan oleh manusia lainya. Ia juga membawa teologi tauhid, namun lebih ditekankan melalui sisi kemanusiaan, bahwasanya sesama manusia dilarang menindas. Tuhan sendiri menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk (fii ahsani taqwim).
Tuhan memiliki hak prerogatif menciptakan manusia bersuku-suku, berbangsa-bangsa, berbagai macam warna kulit, agar sesama manusia saling mengenal. Bagi Tuhan sendiri bukan suatu masalah, justru ada maksud tersendiri Tuhan menciptakan manusia bermacam-macam ras, yakni agar manusia saling mengenal, bukan untuk saling menghina apalagi menindas.
Maksud dari teologi pembebasan Hasan Hanafi ialah untuk mengajak kepada seluruh manusia, khususnya umat Islam, bahwasanya setiap manusia memang memiliki takdir yang berbeda, namun memiliki hak yang sama yaitu hak hidup layak sebagai manusia. Melalui gagasan kemanusian Hasan Hanafi mencoba mendobrak bahwasanya Islam juga responsif memandang masalah kemanusiaan.
Mari kita lihat negeri kita sendiri. Berapa banyak manusia rela menindas manusia lainya untuk kepentingan pribadi dan disebabkan tidak memiliki daya yang kuat. Yang berkuasa di atas menindas yang di bawah, yang berkuasa menindas rakyat kecil yang miskin semakin tertindas. Selalu ada fenomena penindasan dari tahun ke tahun.
Penolakan Hasan Hanafi terhadap Penindasan Perempuan
Pandangan tauhid dalam kehidupan sosial, bahwasanya Tuhan Yang Maha Esa menolak segala bentuk diskriminasi yang bersumber dari ras, suku, jenis kelamin serta kekuasaan. Agama Islam sendiri memerintahkan kita untuk saling mengenal sesama manusia. meskipun berbeda-beda, sebagaimana Islam membawakan ketenteraman dan keadilan
Dari pernyataan firman Tuhan bahwa manusia diciptakan bermacam-macam bukan menjadi alasan manusia untuk menindas. Namun, dianjurkan untuk berperilaku adil, baik laki-laki maupun perempuan
Dalam Al-Qur’an sendiri kata “perempuan” diabadikan dalam firmannya yang begitu mulianya. Begitu diistimewakannya perempuan oleh Tuhan, laki-laki diperintahkan oleh-Nya untuk melindungi kaum perempuan, arrijalu qowamuna ‘ala(n) nisa, laki-laki adalah pelindung bagi wanita. Maksudnya, bahwa setiap laki-laki mempunyai tanggung jawab untuk melindungi wanitanya dari tindak kejahatan, serta jangan melakukan penindasan terhadap perempuan baik itu ibu, istri, bahkan semua perempuan. Karena sebelum Islam datang, perempuan sering kali dianggap lemah. Setiap bayi perempuan dibunuh, dan perempuan sering dianggap ‘hanya’ sebagai pemuas nafsu laki-laki.
Perempuan memiliki hak yang sama seperti laki-laki karena sesama manusia antara lain:
Pertama, perempuan berhak menjadi pemimpin di suatu kelompok, karena perempuan juga memiliki ide dan gagasan
Kedua, perempuan berhak merasakan kebebasan. Banyak sekali kekerasan rumah tangga dan korbannya adalah perempuan, pelakunya justru suami atau bahkan bapaknya sendiri. Berapa banyak anak/istri yang mempunyai ayah/suami tapi hanya secara fisik saja, tidak mendapatkan kasih sayang dan nafkah. Kadangkala malah mendapatkan ucapan/tindakan yang menyakiti hati, seakan-akan perempuan adalah tempat untuk meluapkan emosi para laki-laki
Ketiga, perempuan berhak mengenyam pendidikan. Sedikit banyak kecerdasan seorang anak merupakan buah dari kecerdasan orang tuanya, khususnya ibu. Maka perempuan berhak mengenyam pendidikan, bahkan pendidikan tinggi sekalipun.
Penulis mengajak para pembaca semuanya, khususnya laki-laki, agar selalu menjaga perempuan dengan sebaik-baiknya. Mari kita realisasikan perintah Tuhan bahwa laki-laki merupakan pelindung wanita.
Hadirnya sosok Muhammad Saw. di jazirah Arab, khususnya di suku Quraisy, salah satunya untuk menyelamatkan manusia dari kejahiliyahan. Agar tidak ada manusia yang tertindas akibat dari perilaku manusia lainya, terutama kepada kaum perempuan. Semenjak hadirnya Islam, perempuan diangkat derajatnya serta dijadikan ‘ratu’, karena perempuan sangatlah istimewa.
Penulis yang belum menikah akan terus belajar memahami perempuan sampai pada akhirnya siap untuk menjadi pelindung bagi perempuan, serta melaksanakan ibadah yang Rasulullah Saw. anjurkan, yakni menikah.
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Instagram : reychan_a.
