f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
manusia punya rencana

Pelaku Kekerasan Seksual dalam Perspektif Akhlak

Akhir-akhir ini saya banyak menemukan pamflet kajian virtual yang bertemakan pelecehan seksual. Bukan tanpa alasan, melainkan hal itu memang disebabkan oleh meningkatnya kasus kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia. Sehingga, beberapa komunitas dan lembaga termasuk lembaga kampus berinisiatif untuk mengangkat pembahasan tersebut.

Dari wacana kekerasan seksual yang diangkat oleh lembaga ataupun komunitas merupakan bagian dari upaya edukasi penyadaran bagi masyarakat. Kekerasan seksual jika dipahami secara radikal merupakan perkara serius. Karena, korbannya menyasar ke kelompok rentan, termasuk di dalamnya perempuan dan anak. Yang bahkan dalam beberapa kasus, penyintas atau korban yang seharusnya dilindungi, justru kerap dijadikan objek.

Dilansir dari catatan tahunan Komnas Perempuan 2008-2019, kasus pelecehan seksual terhadap perempuan di Indonesia terus mengalami peningkatan. Dengan jumlah kasus yang paling tinggi terjadi pada tahun 2019 yakni sejumlah 431.471 kasus. Bahkan, dari data tersebut, Komnas Perempuan mengatakan bahwa “setiap dua jam sekali setidaknya ada tiga perempuan di Indonesia yang mengalami kekerasan seksual”

Berangkat dari informasi yang beredar di berbagai media, kekerasan seksual bisa kita temukan di mana saja. Baik itu di tempat kerja, sekolah, kampus, bahkan di tempat-tempat publik lainnya. Saya sangat menyayangkan lembaga pendidikan seperti sekolah dan kampus yang seharusnya menjadi tempat orang terdidik juga menjadi rentan bahkan darurat akan terjadinya kasus kekerasan  seksual.

Melalui berbagai kasus ini, ada hal yang mengganjal di pikiran saya, apakah pelaku kekerasan seksual tidak memikirkan dampak negatif dari perilaku tersebut? Apakah tidak terpikirkan oleh mereka bahwa perilaku tersebut bertentangan dengan norma-norma yang berlaku? Tidakkah pelaku tersebut berpikir bahwa mereka dilahirkan oleh seorang perempuan? Apakah mereka berpikir bahwa ada sanak saudara yang juga seorang perempuan? Bagaimana jika perilaku kekerasan seksual dialami oleh saudari perempuan mereka?

Baca Juga  Asal Kita Baik, Cukupkah ?

Penyebab Kekerasan Seksual

Ajaran Islam yang sifatnya universal dengan cakupan semua aspek, di antaranya juga berkaitan dengan akhlak, etika, moral, serta mengatur bagaimana bergaul dan bersikap kepada dengan orang lain. Perempuan dalam Islam sangat dimuliakan, olehnya tidak pantas bagi siapapun yang merusak kemuliaan perempuan dengan tindakan-tindakan yang tidak terpuji. Termasuk dengan melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan. Dalam pandangan Islam, perilaku kekerasan seksual merupakan suatu tindakan yang sangat tidak terpuji.

Jika kita mencermati faktor pemicu terjadinya kekerasan seksual, maka kita akan menemukan dua pemicu utama yakni faktor internal dan faktor eksternal. Seseorang yang melakukan kekerasan seksual secara internal bermula dari ketidakmampuan mengendalikan nafs-nya. Seharusnya, jika menggunakan nalar yang sehat, nafsu yang bergejolak tersebut bisa diarahkan pada hal-hal yang bersifat positif. Jika kita kembali pada norma-norma yang berlaku termasuk norma agama, maka pelaku kekerasan seksual akan difonis mengalami degradasi akhlak dan keimanan yang rapuh.

Dalam hal ini Islam memiliki cara sendiri dalam memerangi nafsu, Nabi Muhammad Saw bersabda “Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian mampu menikah, maka hendaklah segera menikah, dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, sesungguhnya ia akan menjadi penawar nafsu” Fakhir Ar-Razi seorang filsuf muslim asal Iran mengatakan bahwa puasa mampu menurunkan tensi nafsu perut dan seks.

Pengaruh Faktor Eksternal

Sedangkan faktor ekseternal yang dimaksud adalah pengaruh lingkungan terhadap perilaku seseorang. Hal ini sependapat dengan Albert Bandura, Profesor bidang ilmu pengetahuan sosial Universitas Stanford dalam teorinya social learning mengatakan bahwa manusia itu bergerak atas landasan berpikirnya yang dipelajari melalui interaksi lingkungan sosial. Artinya pengaruh lingkungan sosial cukup besar terhadap perilaku seseorang.

Baca Juga  Menghitung Peluang Israel – Palestina Berdamai

Ini merupakan persoalan yang sangat serius yang harus menjadi perhatian bersama khususnya bagi umat Islam. Menjadi penting bagi kita semua dalam memerangi kekerasan seksual yang masif terjadi disekitar kita dengan memberikan edukasi untuk penyadaran terkait dengan konsekuensi negatif dari perilaku tersebut, serta menghadirkan dominasi akhlak yang baik di lingkungan sosial sesuai dengan nilai-nilai Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah, sebagai bentuk perlawanan dari dominasi Akhlak yang buruk.

Keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat harus secara kolektif mengupayakan perilaku atau akhlak yang baik. Hal ini yang perlu dicermati bersama, karena selama ini terdapat stigma bahwa yang menentukan akhlak ataupun karakter itu menjadi tanggungjawab lembaga pendidikan. Padahal sejatinya pendidikan akhlak juga harus diterapkan di lingkungan keluarga dan masyarakat, para orang tua, guru, dan masyarakat harus sama-sama mengawal terbentuknya akhlak yang baik di lingkungan social.

Ketika kita bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, maka sebagai umat Islam tentu wajib untuk menjalankan dan mengajarkan apa yang dicontohkan oleh baginda Muhammad Saw termasuk dalam perkara akhlak. Dalam sebuah hadis nabi menyampaikan bahwa “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).

Bagikan
Post a Comment