Rabi’ah Al-Adawiyah, Perempuan Sederhana yang Berpendirian Teguh
Suatu teori, pemikiran, ide atau ajaran seseorang tokoh dapat dikenali dan dipahami dengan baik apabila diketahui latar belakang kehidupannya. Karena itu, penulis pada kesempatan kali ini akan menjelaskan terlebih dahulu biografi dan latar belakang kehidupan dari tokoh tersebut.
Kelahiran dan Masa Kecil Rabi’ah
Tidak ada bukti yang autentik yang dapat menjelaskan waktu kelahiran Rabi’ah Al-Adawiyah secara pasti. Harun Nasution, M. Mastury, dan Abuddin Nata menyatakan bahwa Rabi’ah lahir pada tahun 714 M. Margaret Smith, Muhammad Syafiq Garbali daan beberapa kawan penulisnya dari IAIN Syarif Hidayatullah menyebutkan antara tahun 95 atau 99 H (713 ATAU 717 M).
Sedangkan tempat kelahirannya tidak ada perbedaan, yaitu di Basrah(Irak). Rabi’ah di lahirkan dalam keluarga yang sangat miskin. Ayahnya bernama Ismail dan nantinya keluarganya akan hidup dengan penuh takwa dan iman kepada Allah, tak henti-henti melakukan dzikir dan melaksanakan ajaran-ajaran islam.
Kondisi kehidupan keluarga yang miskin menyebabkan ismail dan istrinya untuk selalu berdoa memohon dikaruniai anak laki-laki, yang diharapkan dapat membantu mengurangi penderitaan yang dialami keluarga mereka. Karena itu Ismail semakin meningkatkan ibadahnya dan memohon agar janin yang ada di kandungan istrinya adalah laki-laki.
Allah berkehendak lain. manusia boleh berusaha, tetapi Dialah yang menentukan segalanya. Setelah mempunyai tiga anak perempuan, anak keempat pun lahir berjenis kelamin perempuan. Pupuslah harapan Ismail dan istrinya. Kemiskinan benar-benar menyelimuti keluarga tersebut.
Menyambut kelahiran putri keempat mereka dengan penuh derita, istri ismail berkata kepada suaminya. Kakanda tercinta, pergilah ke rumah sebelah. Mungkin mereka memiliki setetes minyak. Mungkin memiliki kain bekas yang pantas dihadiahkan kepada kita, tolong mintalah. Biar anak kita yang baru lahir ini bisa kita selimuti dengan sepotong kain.
Keinginan istrinya itu dipenuhinya, namun tidak ada satupun tetangga yang mau membukakan pintu untuk memberikan atau meminjamkan sepotong kain untuk mereka. Setelah beberapa hari kelahiran putri keempat mereka ismail mulai memikirkan nama yang baik dan bagus untuk putrinya itu. Ismail menamakanya dengan Rabi’ah.
Keistimewaan Rabi’ah Al-Adawiyah
Namun, nama Rabi’ah mendapatkan respon yang kurang bagus dari istri dan ketiga anaknya. Mereka tidak setuju dengan tersebut karena nama tersebut dianggap aneh dan jelek, maka Ismail pun sedih. Akan tetapi saat tidur, malam hari, Ismail bermimpi bertemu dengan Rasulullah Saw.
Rasulullha berkata: “janganlah engkau bersedih, karena putrimu itu akan menjadi seorang wanita yang mulia, sehingga banyak orang yang akan mengharapkan syafaatnya.” Kemudian Rasulullah menyuruh ayah Rabi’ah untuk pergi menemui Isa Zadan, Amir Basrah dengan menyiapkan sepucuk surat berisi pesan Rasulullah Saw.
Ketika Amir membaca surat dari ayahnya Rabi’ah, ia segera memerintahkan untuk menyerahkan uang sebesar 400 dinar, sebagaimana yang tertulis dalam surat tersebut. Namun, ia segera membatalkan perintahnya seraya berkata”Biarlah saya sendiri yang mengantarkan uang ini, sebagai penghormatan terhadap orang yang mengirimkan surat ini. Dan saya akan mengawasi anaknya yang mulia.
Dengan peristiwa tersebut, maka berubalah persepsi Ismail dan istrinya terhadap anak perempuannya yang keempat. Kemudian mereka menyambut Rabi’ ah dengan bahagia.
Rabi’ah tumbuh dan berkembang dalam linkungan keluarga yang terbiasa dengan kehidupan yang shaleh dan zuhud. Sejak kecil sudah tampak kecerdasannya sesuatu yang biasanya tak terlihat pada gadis kecil seusianya. Karena itu pula ia sudah memahami penderitaan yang dihadapi kedua orang tuanya. Kendati demikian, hal itu tidak mengurangi ketakwaan dan pengabdian keluarganya kepada Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, ia selalu memperhatikan bagaimana ayahnya melakukan ibadah kepada Allah, dengan membaca dan berdzikir. Ia pun selalu melakukan ibadah kepada Allah sesuai dengan apa yang ia lihat dan dengarkan dari ayahnya.
Dengan Akhlaknya yang mulia, tidak jarang Rabi’ah membangkitkan rasa kagum ayahnya. Ia tidak pernah mencaci orang atau menyakiti perasaan manusia. Saat masih kecil, ia adalah anak yang sholehah. Apalagi setelah kedua orang tuanya meninggal. Ia menjadi anak yatim piatu, yang tidak diwarisi harta warisan oleh orang tuanya.
Menjadi Seorang Budak
Derita Rabi’ah, gadis yatim piatu itu semakin bertambah ketika kota Basrah dilanda musibah kekeringan dan kelaparan. Banyak penduduk miskin meninggal karena kelaparan, termasuk ketiga kakaknya yang lemah, yang membuat ia menjadi anak sebatang kara. Musibah itu mengakibatkan merajalelanya berbagai bentuk kejahatan dan perbudakan. Keberadaan Rabi’ah diketahui orang jahat. Ia dijadikan budak dan dijual seharga enam dirham.
Pada suatu hari saat berjalan-jalan, seseorang yang tidak dikenal datang menghampirinya. Rabi’ah mencoba melarikan diri, tiba-tiba dia jatuh dan tergelincir dan tangannya terkilir. Ia menunddukan kepala dan memohon kepada Allah afgar dilindungi dari orang tersebut.
“Rabi’ah janganlah engkau berduka,” sebuah berkata kepadanya, “esok lusa engkau akan dimuliakan sehingga malaikat-malaikat iri kepadamu. Kemudian ia pulang ke rumah tuanya dan merawat cedera tangganya hingga sembuh.
Pada suatu malam, Rabi’ah bersujud dan memanjatkan doa. Tuanya yang kebetulan terjaga dari tidur, melihat dan mendengarkan doa tersebut. “Ya Allah, Engkau tahu bahwa hasrat hatiku adalah dapat memenuhi perintah-Mu dan mengabdi kepada-Mu. Tetapi Engkau telah menyerahkan diriku di bawah kekuasaan seorang hambah-Mu.
Karena tuannya melihat sendiri peristiwa tersebut, maka saat hari mulai terang, ia memanggil Rabi’ah dan bersikap lembut kepadanya. Rabi’ah dibebaskan dan diizinkan pergi meninggalkannya. Ia pun pergi mengembara dengan bebas.
Di kota Basrah Rabi’ah mulai menyanyi dan memainkan seruling untuk mencari nafkah. Namun, melihat profesi yang ia lakukan ia merasa takut akan melalaikan kewajibannya kepada Allah, ia berusaha agar lagu-lagu yang ia kumandangkan dapat menambah kecintaannya kepada Allah.
Tidak Menikah Seumur Hidup
Rabi’ah tidak pernah berpikir untuk berumah tangga. Bahkan akhirnya memilih hidup zuhud, menyendiri, beribadah kepada Allah. Ia tidak pernah menikah, karena tidak ingin perjalanannya menuju Tuhan mendapat rintangan. Pernikahan, baginya rintangan. Ia pernah memanjatkan doa. “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala perkara yang menyibukkanku untuk menyembah-Mu. Dan dari segala penghalang yang merenggangkan hubunganku dengan-Mu.
Di antara mereka yang mencoba membujuknya untuk menikah adalah Abdul Wahid bin Zaid, yang termasyhur dalam kezuhudan dan kesucian hidupnya, seorang ahli agama, seorang khatib. Tetapi, Rabi’ah menolak lamarannya.
Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi, Amir Abbasiyah untuk Basrah saat itu, juga pernah melamar Rabi’ah. Setelah mendiskusikan dengan para pejabat di Basrah, dia menawarkan mas kawin seratus dinar dan menulis surat kepada Rabi’ah bahwa ia memiliki gaji sepuluh ribu dinar setiap bulan dan akan diberikan kepada Rabi’ah. Namun, lamaran kedua tersebut juga ditolak oleh Rabi’ah.
Disinilah kemudian penulis mengambil sebuah ibrah dari keteguhan seorang perempuan sederhana, yang bernama Rabi’ah Al-Adawiyah.
Wafatnya Rabi’ah Al-Adawiyah
Menjelang wafatnya, Rabi’ah menolak didampingi siapapun, sekalipun orang-orang yang berkeinginan mendampinginya adalah orang-orang sholeh. Ia berkata kepada mereka: “Bangun dan keluarlah! Lapangkan jalan utusan Allah (malaikat) yang datang menjemputku.
Rabi’ah wafat pada tahun 185 H (801 M). Sedangkan tempat wafatnya tidak diketahui pasti. Ada yang berpendapat di Yerussalem dan sebagian pendapat lain di Basrah.
Sumber: Buku Mahabbah Cinta (Mengarungi Samudera Cinta Rabi’ah Al-Adawiyah)
Mahasiswa Univesitas Muhammadiyah Surakarta
