Ayam Transformer Sampai Egg-Fish, Semua Orang Tua itu Kreatif!
Buat saya, kreativitas itu sama halnya dengan kecerdasan. Bisa dilatih, pun memakan waktu yang lama. Beberapa orang meyakini Ia bisa digenjot seiring jam terbang, beberapa yang lain meyakini ia diturunkan dari generasi ke generasi. Saya percaya dan meyakini keduanya. Belakangan, saya menyadari bahwa sejak kecil ternyata ‘kreatif’ sudah bercampur dengan denyut nadi dan kelenjar leher saya.
Sumbernya dari dua orang: Bapak dan Ibu. Saya jadi teringat hal-hal ‘kreatif’ yang Ibu lakukan untuk anak nomor duanya ini. Mulai dari mengganti karet celana yang sudah kendur, menggoreng ayam sayur yang tak dimakan, sampai ngeles dengan jurus seribu alasan.
Kreativitas
Seringkali ketika kita bicara soal kreativitas, maka definisi yang kerap digunakan terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan otak kanan. Ketika bicara soal kreativitas, maka artinya melukis. Ketika bicara soal kreativitas, maka artinya bernyanyi. Padahal, tentu saja kreativitas lebih luas daripada itu. Ada 3 hal yang sekiranya menjadi kata kunci, apakah suatu kegiatan tertentu bisa disebut kreatif atau tidak.
Pertama, kreativitas itu berhubungan dengan sebuah upaya untuk menciptakan. Artinya, hal-hal yang dianggap kreatif adalah segala sesuatu yang menghasilkan sebuah produk. Baik yangtidak dapat dilihat (gagasan), maupun yang memang jelas terlihat dan berbentuk fisik. Kedua, kreativitas itu berhubungan dengan sebuah upaya untuk melakukan inovasi. Dan yang ketiga, kreativitas itu berhubungan dengan sebuah upaya dan kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Jadi, secara singkat, kreativitas itu adalah segala sesuatu yang dilakukan, to create, to innovate, and to solve a problem. Begitulah versi nggaya-nya.
Setiap Orang Tua itu Kreatif
Saya percaya betul bahwa keterbatasanlah yang mendorong apakah kita semakin kreatif atau tidak. Ketika terdesak, orang akan melakukan segala cara supaya mampu menyelesaikan persoalannya. Makanya, bagi saya, orang yang kreatif adalah orang yang mampu untuk keluar dari keterbatasan. Dan ketika berbicara soal itu, adakah sosok yang lebih kreatif dari orang tua kita?
Bukan cuman soal uang dan pekerjaan. Saya ingat betul bagaimana orang tua saya banyak mengakali perabotan rusak di rumah. Saya juga sekarang sering cekikikan sendiri mengingat kolor-kolor yang biasa saya pakai untuk bermain sepak bola selepas pulang sekolah adalah kolor dengan karet dari segala macam benda. Kadang karet dari dasi sekolah. Kadang karet ban. Atau karet-karet lain yang mungkin disubstitusi dengan karet kolor.
Begitupun soal masakan. Keluarga kami mengenal istilah “ayam transformer”. Yaitu, ayam yang sudah berubah-ubah bentuknya akibat tak dimakan. Dari yang tadinya ayam sayur, bisa jadi ayam goreng. Esok harinya, ayam yang sama bisa berubah bentuk lagi jadi ayam sambal hijau. Dan seterusnya, dan seterusnya sampai ayam itu dimakan habis oleh penghuni rumah.
Egg-Fish ala Ibu
Dahulu, waktu masih gemar jingkrak-jingkrak dan berbadan gempal, saya sangat pilah-pilih makanan. Terutama ikan. Alasannya sederhana: Karena kekhawatiran saya menenggak duri-nya. Kekhawatiran itu memuncak sampai-sampai saya jadi takut makan Ikan. Sungguh kemlete bin nggaya saya memang.
Suatu sore, di Pisangan, saya sedang JJS—joget-joget santai—di depan rumah. Ibu sibuk menunggu saya diam supaya bisa menyuapi nasi dan ikan bandeng presto oleh-oleh Bapak sepulangnya dari Semarang.
“Ayok, Mas. Sini makan, ‘A’ dulu. Kita Isi bensin, ya.” Kata Ibu. Saya mendekat lalu membelalak melotot mendapati ada makanan yang saya hindari hendak masuk ke mulut.
“Buuu, aku gak mau makan ikan!!!” Teriak saya agak merengek. Ibu saya tau kalok saya gak suka ikan. Dengan jurus ngelesnya, ia kemudian menanggapinya santai.
“Ini bukan ikan, Mas. Coba saja kalau gak percaya!” Sambar Ibu. Saya membuka mulut dan melahapnya. Saya gak curiga sama sekali karena memang ikan bandeng presto itu tidak nampak seperti ikan-ikan pada umumnya. Dibalut telur dan berwarna agak kekuningan. Sialnya,setelah beberapa kunyahan, barulah saya sadar telah diperdaya.
“Gak mau!!! Ini mah ikan, Bu!!!” Teriak saya nyaring.
“Bukan, Mas.” Jawab Ibu.
“Iya, Bu! Ini ikan!” Ucap saya kekeh.
“Bukan, Mas! Ini bukan Ikan.” Kata Ibu lembut.
“Lalu kalau bukan Ikan, apa, Bu?” Tanya saya.
Sambil agak nyengir menahan tawa, Ibu menjawab: “Ini Egg-Fish, Mas.” Ucap Ibu.
Setelah sudah agak mahir berbahasa Inggris, barulah saya sadar bahwa Egg-Fish itu, ya ikan-ikan juga. Akal-akalan Ibu menang, dan wuassemik, saya selalu diingatkan dengan peristiwa itu.
Meskipun memalukan. Peristiwa itu setidaknya mengajarkan saya bahwa tiap orang tua itu kreatif. Apapun alasannya, mereka harus senantiasa ada, bisa, dan punya sabar ekstra. Bagaimanapun bentuknya, baik itu karet kolor kendur, ayam transformer, atau jurus ngeles seribu alasan, semua orang tua pada dasarnya memang kreatif pada bidangnya. Respect

Mahasiswa pendidikan di UIN Jakarta yang kebetulan juga adalah aktivis pendidikan di Tangerang Selatan
