f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
menjulidi kebaikan

Dampak Menjulidi Kebaikan

“Yang bertugas mencatat kebaikan adalah malaikat Rakib. Belakangan banyak oknum yang mencatat kebaikannya sendiri di medsos.”

Kurang lebih seperti itu bunyi status yang pernah saya baca di Facebook. Maksudnya mungkin untuk menyindir orang-orang yang suka membuat postingan perihal kebaikan yang ia lakukan. Ada banyak unggahan yang senada dengan itu. Yang menjulidi kebaikan orang lain.

“Bukan kebaikannya yang dijulidi, tapi pamernya itu. Itu kan riya,” si penjulid terkadang berdalih demikian kalau kemudian ada yang mengingatkan.

Julid merupakan bahasa gaul. Namun demikian, kata tersebut masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang memang selalu diperbaharui mengikuti perkembangan bahasa yang digunakan masyarakat Indonesia.

Julid menurut KBBI merupakan kata cakapan iri dan dengki dengan keberhasilan orang lain, biasanya dilakukan dengan menulis komentar, status, atau pendapat di media sosial yang menyudutkan orang tertentu.

Dalam bahasa gaul, julid dilakukan dengan menulis komentar, status, atau pendapat di media sosial yang menyudutkan orang tertentu. Ada banyak unggahan di medsos yang bernada julid. Ada yang melakukannya dengan cara sindiran halus, sebagaimana yang saya contohkan di atas. Pun ada yang melakukannya dengan cara terang-terangan.

Awalnya, media sosial digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi secara daring, baik antar teman dan kerabat, maupun dengan orang-orang yang belum dikenal. Seiring dengan berjalannya waktu, fungsi medsos kemudian berkembang. Belakangan, medsos ramai digunakan sebagai ajang pamer.

Ada banyak hal yang kerap pengguna medsos pamerkan. Ada pamer keahlian, pamer kebahagiaan, pamer kesuksesan, pamer ibadah, pamer sedekah, dan pamer kebaikan lainnya. Sayangnya, tidak hanya hal-hal baik yang dibagikan di medsos, tetapi juga perihal keburukan. 

Banyak keburukan yang sering dipamerkan di medsos. Ada pamer ghibah, pamer fitnah, pamer caci maki, dan hal-hal buruk lainya. Ujaran-ujaran yang bernada keburukan itu akan kian merajalela di medsos manakala musim pemilu atau pilpres.

Baca Juga  Ibumu, Engkau, dan Temanmu (2)

Untungnya, di tengah-tengah gegap gempitanya unggahan keburukan itu, masih ada orang-orang yang secara konsisten membagikan informasi ihwal kebaikan, baik kebaikan yang ia lakukan sendiri maupun yang orang lain lakukan. Mereka tak peduli meskipun unggahannya di medsos terkadang dijulidi oleh orang lain.

Si penjulid kadangkala beralasan bahwa pamer kebaikan di medsos merupakan perbuatan riya atau ingin mendapat pujian orang lain. Sebenarnya tindakan pamer kebaikan di medsos itu apakah baik atau buruk?

Secara umum, membagikan kebaikan di media sosial dapat memberikan efek positif bagi diri sendiri dan orang lain. Hal ini dapat memotivasi orang lain untuk melakukan hal yang sama dan mempromosikan sikap positif di masyarakat. Sebagaimana keburukan itu menular, kebaikan pun begitu.

Dan alangkah jauh lebih baiknya jika yang menular adalah kebaikan, ketimbang keburukan. Jika orang yang menularkan keburukan menuai dosa yang berlipat-lipat. Pun, orang yang menularkan kebaikan sudah pasti menuai pahala yang berlipat-lipat.

Jika kebaikannya berupa ibadah individu, seperti haji atau umrah, yang kemudian menimbulkan keinginan orang lain untuk melakukan ibadah tersebut, maka orang yang membagikan kebaikan itu akan ikut beroleh pahala. Semakin banyak orang yang tertular atas kebaikan itu, tentu akan semakin banyak pahala yang ia dapat.

Jika kebaikan yang dimaksud adalah ibadah sosial seperti sedekah atau berbagi kepada liyan, maka akan semakin banyak orang menerima manfaat dari kabaikan itu. Dan tentu saja pahala yang didapat oleh penyebar kabaikan semakin berlimpah.

Selain itu, pamer kebaikan di media sosial juga dapat membangun hubungan sosial dengan orang lain dan membuat kita merasa lebih terhubung dengan mereka yang sepemikiran dan sehaluan. Sebagaimana kita tahu bahwa mesin medsos dibuat sedemikian rupa sesuai dengan preferensi kita.

Baca Juga  Kebaikan Hati dan Kisah Hidup Mbah Kaji

Jika kita membiasakan diri membagikan hal-hal positif di medsos kita, kemudian direspons oleh orang-orang yang sepemikiran, maka di linimasa medsos kita akan tampil hanya postingan-postingan yang bernada positif. Itu berlaku juga sebaliknya.

Ada beberapa alasan mengapa orang menceritakan kebaikan dengan mencontohkan kegiatan yang ia lakukan sendiri. Ia tahu bahwa pembaca medsos biasanya lebih tertarik dengan unggahan berupa contohnya nyata perbuatan ketimbang hanya membaca teori-teori tentang manfaat berbuat baik. Apalagi jika yang dia ceritakan adalah kegiatan yang ia lakukan sendiri, lebih dapat feel-nya.

Agama Islam sendiri menyuruh umatnya untuk fastabiqul khairat. Berlomba-lombalah dalam kebaikan. Agar orang lain bisa berlomba-lomba, tentu saja amalan kita harus orang lain ketahui.

Riya atau tidak, ingin dipuji atau tidak, itu urusan hati. Hanya yang bersangkutan dan Allah yang mengetahui isi hati. Sejak kapan manusia boleh mengambil alih kewenangan Allah untuk menilai hati orang? Sudahlah sok tahu urusan orang lain, pun penjulid itu merecoki urusan Allah.

“Saya mah bukan orang baik seperti mereka, makanya nggak berani posting tentang kebaikan,” ada yang berkomnetar demikian. Bukankah itu juga bisa terpeleset menjadi riya karena merasa lebih zuhud dari yang lain? Sudahlah julid, berpotensi riya pula.

Kalaulah benar bahwa mereka yang posting kebaikan di medsos itu riya atau ingin mendapat pujian dari orang lain, bukan berarti segala amalannya hancur. Pahala atas keikhlasan mungkin tidak didapat oleh yang bersangkutan, namun pahala memberi manfaat buat orang lain tentu saja mereka peroleh.

Sudah banyak bukti, orang-orang melakukan kebaikan karena terinspirasi oleh kebaikan orang lain yang mereka unggah di medsos. Saya mempunyai banyak teman yang membuka warung makan gratis. Awalnya mereka terinspirasi banyaknya unggahan di medsos perihal komunitas berbagi.

Baca Juga  Lima Trik Jitu Melatih Pola Pikir Positif dalam Diri

Beberapa teman yang lain menjadi donatur tetap pada panti sosial yang kerap saya posting di medsos. Padahal awalnya dengan teman-teman tersebut kami tidak saling kenal. Hanya sering berinteraksi di medsos. Kami ditautkan oleh kesamaan frekuensi: hanya memposting hal kebaikan di medsos.

Bayangkan jika orang yang memamerkan kebaikan itu memang tujuannya riya, setelah dijulidi kemudian berhenti tidak melakukan kebaikan itu lagi. Sehingga akan ada banyak orang yang tadinya terinspirasi menjadi tidak ada. Akan ada banyak panti sosial yang kehilangan sumber donasi. Sebuah mata rantai kebaikan telah terputus, gara-gara para penjulid.

Maka, teruslah memposting tentang kebaikan. Kebaikan apa saja. Niatkan untuk mengajak orang lain berlomba-lomba dalam kebaikan, alih-alih riya. Agar unggahan di medsos dipenuhi oleh hal-hal positif. Kebaikan tak boleh kalah oleh keburukan.

Abaikan manusia-manusia julid itu.

Bagikan
Post a Comment