f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
upin ipin

Pendidikan Karakter ala Upin & Ipin

Pengetahuan, peristiwa, dan tontonan di masa kanak-kanak membentuk seseorang di usia dewasanya. Anak-anak mengingat, bahkan kuat-kuat, pada hal-hal yang membuatnya terkesan dan penasaran. Hanya saja kita tidak kuasa memilih ingatan yang tergolong baik-baik saja yang kita bawa. Kenangan-kenangan pahit, sedih, mengharukan, bahkan kejadian-kejadian aneh dan tidak penting sekalipun masuk bercampur menjadi satu membentuk karakter dan bagian dari diri kita sekarang ini.

Kesadaran akan ingatan-ingatan semacam itu pula yang membuat saya –ketika kini menjadi seorang guru; merasa seperti “orang tua” yang tidak lagi asyik bagi anak-anak. Sungguh saya merasa berdosa ketika pernah nekat masuk kelas hanya bermodalkan power point hasil copy-paste-an saja.

Power point yang isinya materi dengan desain yang membuat mata sakit itu. Entah karena pemilihan warna yang mencolok, narasi yang panjang, ataupun sekadar sisipan-sisipan gambar yang dimaksudkan agar tampil lebih menarik, namun jatuhnya malah menjadi, so yesterday. Sungguh citra yang saya benci dari orang dewasa, tapi entah mengapa waktu itu saya sendiri lakukan.

Saya rasa kini bapak ibu guru di sekolah perlu menghadapi anak-anak dengan lebih “serius” (baca: tidak sembarangan). Sedianya materi-materi yang hendak disampaikan perlu dibungkus dengan sajian yang lebih menarik. Sebab secara tidak langsung dapat menjadi semacam stilumus dalam membentuk karakter yang baik bagi mereka. Terlebih perlu kita akui bersama ternyata pendidikan karakter di sekolah yang selama ini diaplikasikan dalam bentuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dan menghafal Pancasila saja tidak cukup.

Selain itu, anak-anak adalah pengamat yang baik. Mereka mencermati dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dari merk leptop sampai cara kita menamai folder-folder di dalamnya ketika sedang mencari file presentasi. Hal semacam ini sepertinya sepele, tapi sebenarnya penting sebab dari situlah pintu agar mereka mau masuk, kemudian duduk, santai, menyimak, dan asyik sendiri; seakan tidak sadar kalau sebenarnya mereka sedang mempelajari sesuatu. Apa lagi mereka mengikuti dan menerimanya dengan perasaan penuh bahagia.

Baca Juga  Konflik Tambang dan Krisis Iklim
*

Sayang, untuk yang demikian itu kita perlu banyak belajar ke negara tetangga; Malaysia. Karena mereka punya Upin & Ipin. Sebuah serial animasi yang tidak hanya unggul secara sinematografi, namun tetap mau mengangkat tema-tema kecil, yang amatlah sederhana; tidak jauh-jauh, tidak muluk-muluk dari sekitar kita. Episode demi episode, adegan demi adegan, mencerminkan bahwa para kreator mempersiapkan setiap sisi secara cermat, teliti, detail, dan terukur.

Bagi saya sendiri awalnya menonton hanya karena menemani anak. Dia suka sekali. Hingga kemudian masa pandemi datang, membuat aktivitas tersebut menjadi semakin intens. Sekarang, mungkin saya lebih hafal nama-nama warga kampung Durian Runtuh ketimbang nama-nama tetangga di kampung saya sendiri.

Satu hal yang membuat saya semakin kagum dari serial animasi besutan rumah produksi ‘Les Copaque ini, di sana Upin dan Ipin selaku tokoh utama tidak digambarkan seperti malaikat; yang seakan tidak punya cela, selalu baik dan santun di hadapan semua orang, serta bersikap jauh lebih dewasa dari umurnya. Tidak. Mereka tidak seperti itu. Mereka, ya, hanya anak kecil biasa. Sedikit jail dan punya banyak cara untuk bahagia.

Sisi-sisi liar dan nakal dalam diri seorang anak seakan terwakili oleh karakter Upin dan Ipin. Ayam yang berkokok di atas jendela saja ditimpuk dengan bantal karena berisik dan mengganggu mereka tidur. Hahaha. Gokil. Hal semacam ini tidak saya temukan di animasi-animasi karya anak bangsa seperti Adit Sopo Jarwo, ataupun serial Nussa yang kelewat relijies itu.

Untuk mengajarkan anak-anak bahwa segala sesuatu yang instan itu tidak selalu baik dan menyenangkan, mereka buat dengan cara yang sangat halus. Episode itu diberi judul; Pim Pim Pom. Kurang lebih seperti ini ceritanya;

Baca Juga  Anak Sulit Belajar Puasa? Ini Lho Tips dan Waktu yang Tepat

Selesai menonton acara sulap di TV, Upin dan Ipin berniat keluar untuk bermain bersama teman-temannya. Namun, biar mereka sudah mengendap-endap agar tidak ketahuan, Kak Ros dengan cepat menghadang dan memberi daftar pekerjaan rumah yang harus mereka selesaikan terlebih dahulu.

*

Mereka pun mengiyakan karena dipikirnya itu sudah biasa dan cepat saja. Namun selesai kamar dibereskan, ketika ditengok lagi daftar yang diberikan Kak Ros dan sisi atas kertas itu mereka pegang, ternyata lipatan-lipatan di bagian bawahnya satu persatu jatuh hingga menyentuh lantai. Melihat hal itu mereka berdua langsung lemas.

Sambil menatap langit-langit, di atas kasur mereka berkhayal. Membayang-bayangkan betapa indahnya apabila mereka bisa sulap dan memiliki kekuatan mejik seperti yang baru saja mereka lihat di TV. Pasti semua pekerjaan akan dengan mudah terselesaikan. Hingga ketika Upin mengayunkan-ayunkan telunjuknya secara berputar-putar, Cling, tiba-tiba mereka berubah menjadi pesulap. Lengkap dengan tongkat, setelan jas, dan magician top-hatnya. Mereka pun bersorak-sorai melompat kegirangan.

Mengepel lantai, mengelap meja, mencuci piring, dan pekerjaan lainnya satu demi satu beres. Sapu menari-nari, sendok-sendok berbaris rapi berjalan masuk ke tempatnya. Semua tugas rampung hanya dengan satu mantra; Pim Pim Pom!

Akan tetapi kemudian masalah muncul ketika mereka bertemu dan bermain bersama teman-temannya. Di depan garis finish, karena tidak mau kalah balapan, Ipin menyulap mobil Eksan hilang roda-rodanya. Di atas pondok, Upin menyulap air dalam gelas yang akan diminum Meimei menyemprot dan membasahi bajunya. Hingga paling parah, Eksan dihilangkan karena menolak Upin & Ipin bergabung dalam permainan. Teman-teman yang terlanjur kesal dengan kecurangan-kecurangan mereka, akhirnya mutung dan memilih pergi.

Tiba di rumah, barulah Upin Ipin menyadari bahwa bermain dengan cara seperti itu tidaklah seronok. Tidak asyik. Betapa pun mainan-mainan mereka sulap bisa terbang dan bergerak-gerak sendiri, namun seakan semua hambar. Tidak ada greget. Ada sesuatu yang kurang. Benar-benar tidak bisa menggantikan keseruan bermain bersama teman-teman secara nyata. Meski hanya dengan permainan-permainan yang sederhana dan seadanya sekalipun.

Baca Juga  Maraknya Tiger Parenting Pada Anak di Masa Pandemi
*****

Upin dan Ipin adalah kita. Sering tergoda dengan segala sesuatu yang serba instan dan mudah. Termasuk usaha seorang guru dalam mengolah materi untuk mengajar di dalam kelas. Padahal itu cukup mengkhawatirkan. Sebab jika ngawur dan tidak menarik, bisa jadi membuat gairah para murid untuk belajar dan ingin mengetahui lebih banyak hal menjadi luntur; kemudian lelah untuk bertanya-tanya. Sedang yang penting di dunia ini sejatinya bukanlah membuat jawaban yang bagus, melainkan pertanyaan yang bagus.

Sebagai fasilitator utama di kelas, guru memang sangat berperan untuk membuat menu harian di kelas agar tetap segar dan menarik. Terlebih sekarang, ketika masa pandemi belum berakhir dan terpaksa murid-murid masih harus belajar dari rumah. Biar bagaimana pun, pembelajaran yang dilakukan dengan media handphone ataupun leptop, meski itu adalah benda-benda yang disukai anak, kalau dilakukan setiap hari tetap saja akan sangat menjemukan.

Jadi, betapa penyajian materi dengan cara-cara yang baru dan enak dilihat, dapat menjadi salah satu faktor untuk menentukan hasil dari proses belajar-mengajar yang dilakukan. Dengan materi yang dipersiapkan secara cermat, teliti, detail, dan benar-benar terukur seperti orang-orang di belakang layar Upin Ipin, diharapkan dapat menjadi ingatan yang baik bagi anak-anak. Semoga dapat menyumbang pembentukan karakter yang baik pula bagi mereka kelak.

Bagikan
Post a Comment