“Saudara Kembar” dalam Silaturahim 4.0
Tetiba saja pesulap Pak Tarno menemukan “saudara kembar”nya, Anderson Paak, rapper Amerika. Kembar dadakan yang dicomblangi oleh netizen ini menegaskan bagaimana dunia digital mempertautkan manusia bahkan ketika mereka tak punya niat atau membayangkannya. Tak ada nama Anderson di kontak ponsel Pak Tarno, demikian pula sebaliknya. Siapa sangka mereka bertukar profil di instagramnya masing-masing.
Apabila silaturahim dimaknai sebagai menyambung (shilat) yang putus atau menghimpun manusia dengan kasih sayang (rahim), maka pertautan antar mereka itu adalah silaturahim era digital. Sebuah era berlabel revolusi industri 4.0 yang mendisrupsi cara hidup serba digital, serba terhubung, menyeberang batas fisik dan jarak. Perilaku manusia dituntut serba cepat, instan dan spontan. Banyak hal terjadi tak terduga dan tak terkendali melewati kehendak dan prediksi pelakunya.
Dunia Petak Umpet
Kita belum tahu ending kisah kembar dadakan ini. Apakah berlanjut pada pertemuan fisik? Meskpun begitu, saling respon yang ditunjukkan adalah bukti pertemanan spontan. Mungkin tak bersambung pada proyek bersama, tetapi hubungan mereka tetaplah sebuah kolaborasi jika indikatornya adalah saling melonjakkan follower, popularitas dan endorsenya. Ingat, mereka adalah pelaku di dunia hiburan, apapun mungkin terjadi.
Bisa jadi, ini sebuah kisah yang numpang lewat saja. Teknologi bukan hanya mengubah dunia, melainkan telah menggendalikan dunia. Neil Postman dalam Technopoly the Surrender of Culture to Technology menyebut istilah Dunia Petak Umpet. Informasi muncul tanpa pandang bulu, besar, cepat, banyak terputus dari makna dan tujuan. Dunia yang penuh peristiwa yang muncul sekejap, lalu lenyap seketika.
Sehari-hari kita terbawa arus di dunia macam ini. Kisah, berita, informasi, gosip dan narasi yang tak ada hubungan, tak ada makna dan tak ada manfaatnya bagi kita, tetap harus dimakan. Ironisnya, kita amat kekenyangan dan pada saat yang sama lapar setiap saat.
Meminjam permainan lainnya, saat ini perilaku kita dianalogikan sedang bermain kucing-kucingan. Sebuah bola dilempar dan ditangkap oleh manusia yang lain. Diempar lagi untuk dioper oleh dan kepada yang lain. Berpindah-pindah sampai tak tahu sampai di mana. Pemain yang terlibat bukan lima kepala melainkan jutaan bahkan milyaran manusia. Saat bola ini di operkan, kita tak tahu lagi ke mana bahkan nasib bolanya, tahu–tahu sudah menerima umpan bola yang lain, begitu seterusnya. Bola yang dilemparkan dalam kasus Anderson Paak dan Pak Tarno soal kemiripan model rambut saja. Sesuatu yang mungkin remeh dan bersifat hiburan semata.
Kontras dengan kisah “saudara kembar” tersebut ada trending topic lainnya. Parodi yang ditampilkan oleh Tri Suaka dan Zinidin Zidan yang memiripkan diri dengan style Andika Kangen Band bernyanyi, berujung pada konflik. Kedua penyanyi yang dijuluki artis cover ini dinilai melakukan pelecehan dan penghinaan.
Tri Suaka kemudian melakukan silaturahim offline dengan berkunjung ke Andika di Lampung sebagai pernyataan kesungguhan maaf. Dalam menyelesaikan konflik, bertemu dengan muajahah adalah cara yang paling ampuh dan beradab.
Namun demikian, ada yang menarik antara perbedaan respon Andika kepada Tri dan kepada Zidan. Dalam pemberitaan, Andika telah mengenal Tri Suaka, sehingga lebih mudah memaafkan. Sedangkan tentang Zidan, Andika berkomentar “Kenal saja tidak, kenapa harus mengejek aku?”
Filosofi Mesusi
Menyelesaikan konflik antara manusia yang tak saling mengenal akan lebih rumit. Coba bayangkan ketika dalam perjalanan yang macet, kepanasan, menguras energi, waktu, emosi lalu terlibat insiden serempetan. Seringkali terjadi ketegangan bahkan tak jarang berlanjut pada kekerasan meskipun kedua pihak menyembah Tuhan yang sama. Sangat mungkin yang terjadi adalah menang-menangan, main kuat dan main kuasa.
Bayangkan lagi, bila terjadi pada anda. Sesaat keluar dari mobil ternyata pihak yang bersitegang adalah teman masa kecil, kerabat, tetangga, teman sekolah atau paling tidak seorang yang anda kenal. Kemunginannya, konflik lebih cepat mereda dan menemukan titik tengahnya.
Soal konflik ini, kita bisa belajar dari proses mencuci beras. Saya mengenalnya dengan istilah mesusi. Mencuci beras dengan mengaduk-aduknya dengan air, agar bulir-bulir beras saling berdesakan dan bergesekan. Bekatul dan kotoran dapat terlepas darinya. Mesusi itu membiarkan bulir-bulir beras itu membersihkan dirinya sendiri. Kita tidak mencucinya butir demi butir bukan?
Sisi Baik
Bagaimana filosofi mesusi ini bekerja kita bisa memetik inspirasi dari kisah tentang si kembar Constand dan Abraham. Situasi memisahkan mereka sejak remaja. Abraham kuliah teologi dan tumbuh berkembang menjadi seorang yang anti apartheid. Sementara Constand adalah tentara bahkan karirnya memuncak menjadi panglima Angkatan Bersenjata Afrika Selatan dan kemudian memimpin koalisi yang siap berperang menentang pemilu multirasial. Mereka saudara kembar yang 40 tahun tak saling bicara. Akhirnya, Abraham ikut membantu mempertemukan Constand dengan Mandela. Pertemuan yang berperan memadamkan permusuhan kulit putih dengan kulit hitam di Afrika Selatan.
Sebagaimana ditegaskan oleh Rutger Bregman dalam dalam Humanknd, obat terbaik untuk kebencian, ketidakadilan dan prasangka adalah kontak. Banyaknya ujaran rasial, gesekan di media, komentar kebencian bersumber dari miskinnya kontak. Manusia cenderung menggeneraliasasi karena tak saling mengenal.
Diakui kekerasan dan konflik di era digital memang lebih cepat menyebar. Kebencian mudah menular. Kekerasan seperti api mudah dibagi, sulit dipadamkan. Tetapi tugas kita adalah selalu berusaha menampilkan dan mengkampanyekan sisi positif. Rumusnya, kebaikan dapat mengalahkan keburukan jika itu dilakukan oleh sebanyak mungkin orang dan sering dilakukan.
Satu hal, berkaca pada Mandela yang membuat dia menjadi pemimpin besar adalah mampu melihat sisi baik dari setiap orang. Optimisme bahwa manusia mempunyai sisi baik yang dapat menghubungkan dan menyelesaikan konflik inilah yang membuat Nelson Mandela sukses mendamaikan Afrika Selatan.
Melihat sisi baik orang lain bisa dilakukan ketika melakukan kontak. Kontak memberikan kesempatan hubungan baik yang timbal balik. Memberi peluang melihat banyak hal dengan kacamata orang lain. Sekaligus memeriksa kekurangan diri sendiri.
Jadi, beruntunglah kita memiliki tradisi Halal Bihalal yang oleh Quraish Shihab dimaknai upaya mengurai benang yang kusut. Memberikan solusi atas keruwetan dengan melakukan pertemuan Bisa jadi apa yang dilakukan Mandela dalam mengatasi konflik apartheid ini adalah Halal bi Halal yang berskala besar ala Afrika Selatan..
Kuatnya modal sosial kita untuk dalam kontak langsung juga tercermin pada antusiasme mayarakat dalam tradisi mudik. Macet ada di mana-mana, keramaian kota besar seperti spiral menyebar ke daerah, kampung dan desa. Sisi poisitifnya ini pembuktian bahwa perjumpaan maya dengan orang tua, keluarga dan sahabat serta tetangga betapapun kuatnya sinyal, jernih audio dan tajamnya visual tak cukup untuk membendung kerinduan pada tatap muka dan sentuhan nyata.
You and me, twin
Kita wajib optimis sebagai masyarakat yang masih mementingkan kontak yang saling membersihkan, meneguhkan hubungan dan mengurai konflik sebagaimana filosofi mesusi. Di sisi lain silaturahim digital yang kita lakukan sehari-hari lewat media online adalah sebuah keharusan. Dua cara tersebut menggali dua terowongan sekaligus untuk bertemu mencapai tujuan yang sama, upaya menjalin kasih sayang dan menebar persaudaraan, mencegah sedikit mungkin konflik, dan ketika ada ketegangan dapat diurai kembali untuk mencapai titik temu.
Pola pikir silaturahim era 4.0 melihat model offfline dan online sebagai saudara kembar. Dua mode ini tak perlu saling mengalahkan dan meniadakan sebab bisa-bisa yang terjadi justru you and me, end. Mengandalkan digital menjadikan manusia hidup dalam “dunia petak umpet” saja. Bersikukuh dengan kontak tradisional, membuat kita terkurung dalam dunia yang seperti satu lemparan batu saja. Iinilah era silaturahim dengan pola pikir figital : fisik dan digital sekaligus. You and me twin, begitulah sabda yang diriwayatkan Pak Tarno dalam medsosnya. Yuk dibantu, yuk !

Semula ayanya berniat menyematkan Nurul Ka’bah di akta kelahiran sebagai namanya. Bertautan kisah itu, kata “cahaya” diwariskan menjadi nama puterinya. Keseharian ia menjadi policy analyst di Pemerintah Kota Tegal. Suka membaca dan menulis menjadi caranya untuk “mencahayai” setidaknya untuk dirinya sendiri.
