Yang Fana adalah Waktu, Penyair Sapardi Abadi
Kesungguhan itu ada pada diri Sapardi Djoko Damono Jika dia luka maka berdarah-darahlah syairnya Jika dia lapar maka melilit-lilitlah syairnya Jika dia sedih maka syairnya akan menjadi bah air mata Jika dia jatuh maka meraunglah syairnnya Jika dia berlari maka terengahlah syairnya Jika dia berjalan jauh maka letihlah syairnya Jika dia berenang maka berbasah-basahlah syairnya Jika dia terlelap maka syairlah mimpinya Jika diam maka dunia membeku dan tak terjemahkan Jika dia memuji maka terbanglah syairnya menuju langit Jika dia memaki maka terbenamlah ke dalam lumpur syairnya Jika dia sembunyi wajah maka dunia kehilangan cermin Jika dia jatuh cinta maka semua syairnya menjadi pertanyaan-pertanyaan hitam
Kini, kau sudah tiada, semua orang menangis mengenang karyamu Sebab kata telah habis disusun menjadi tangga beralas intan permata oleh Sapardi Hendak menuju langit bahasa, langit dunia, langit burung, langit gurun, langit laut, langit para suhada, langit bani, langit kafilah, langit musafir, langit cinta, langit imajinasi.
Selamat jalan Sapardi Djoko Damono Hancur lebur dalam syair-syairnya yang menghadirkan pesan universal Karya-karyamu berpengarauh besar dalam kesastraan Indonesia.
Pegiat literasi dan juga Koordinator Bidang Komunikasi dan Teknologi Informasi Kwarda Hizbul Wathan Lamongan.
