Tempe Mendoan dan Pencarianku (1)
Sepotong tempe mendoan terhidang di atas meja, laki-laki itu sejak tadi tak henti-hentinya mengamati, matanya memicing rupa makanan itu; dari tekstur, warna, hingga aromanya. Kata temannya restoran ini terkenal dengan tempe mendoan yang enaknya tiada tanding.
Setiap ada yang merekomendasikan restoran atau warung makan bermenu tempe mendoan, pria itu segera menghampiri, Tak terkecuali pedagang kaki lima. Mungkin kali ini adalah kesempatannya. Bertahun-tahun ia menelusuri, hampir dua ratus menu tempe mendoan yang ia coba. Dan tempe mendoan yang pernah ia coba itu sebenarnya enak-enak saja, sayangnya bukan seperti yang ia cari.
Jika melihat warnanya yang sedikit coklat kekuningan, taburan daun bawangnya pas, tempe mendoan ini hampir mirip seperti yang ia cari. Nikmatnya gorengan lebih terasa tanpa sendok begitu kata istrinya dulu. Ia pun mengambil tisu, membubuhkan petis lalu mencomotnya. Pada gigitan ketiga raut wajahnya berubah kecewa. Bukan ini yang ia cari. Tapi karena sejak pagi belum makan, ia pun menghabiskannya tanpa sisa.
***
Cakra seorang pengusaha tekstil di ibu kota yang tengah mencari istrinya. Bertahun-tahun kabarnya menghilang bagai di telan bumi. Rumah yang dulu istrinya tempati sudah berganti orang. Pada suapan terakhir, handphone Cakra berbunyi. Segera ia menggeser tombol hijau.
“Kenapa lagi Dik?” tanya Cakra.
“Bini gue beli buku masak. Dan ternyata penulisnya Riani,” Cakra terperangah. Hatinya girang tak sabar ingin segera pergi ke rumah sahabatnya itu. Tak disangka usaha dan do’anya selama ini terjawab. Usai mengakhiri telepon, tergopoh Cakra menuju mobilnya dan meluncur cepat.
Sayangnya profil penulis yang tertera tidak menyertakan nomor kontak atau akun sang penulis. Satu-satunya hanya Malang yang menjadi petujuk di buku tersebut. Dengan sedikit kecewa, Cakra mencari cara lain. Sepulang dari rumah Dika, dengan sisa energinya malam itu, ia mendapatkan dua cara sekaligus. Rencana penerbangan Jogja juga membuat selebaran “mencari orang.”
***
Esoknya, setelah menghubungi Linda sekretarisnya, Cakra dengan hati gusar menuju bandara. Matahari menyala gagah di atas ubun-ubun. Langit biru indah memesona semoga menjadi tanda baik bagi pencariannya. Sembari menunggu, ia menghubungi temannya di Jogja untuk mengantarnya ke penerbit buku.
Cakra menyesal telah menceraikan Riani, Ia lebih memilih menikah dengan teman lamanya, tanpa tau kalau istri keduanya punya niat terselubung–ingin menguras hartanya. Karena merasa dipermainkan ia pun menceraikannya. Setelah itu, hidup Cakra seperti dikejar penyesalan yang berkali-kali lipat. Untuk itu, ia ingin bertemu Riani, meminta maaf atas kesalahannya.
Di Jogja tanpa menunggu waktu Cakra segera menuju ke daerah Sleman. Mencari alamat Riani dari penerbit bukunya. Ia juga sudah merencanakan penerbangan menuju Malang, tempat Riani tinggal. Tempat pertemuan pertamanya. Kisah cinta mereka terkenang banyak di kota itu.
Meminta identitas penulis ternyata tidak mudah. Cakra sempat berdebat dengan pegawai di sana. Atas saran temannya ia pun menemui pimpinan, mengutarakan maksudnya. Dan kalau bukan karena posisinya sebagai pemilik perusahaan besar, tidak mungkin ia bisa mendapatkannya dengan cepat.
***
Sesampainya di hotel, hatinya sedikit lebih tenang. Mengecek alamat Riani melalui Google Maps. Lalu menelpon Dika menanyakan selebaran yang telah Dika sebar tadi pagi.
“Gimana Dik udah ada yang hubungi lu belum?” Tanya Cakra dalam telepon.
“Belum ada yang menghubungi gue, kalau pun ada udah gue kabarin dari tadi,” jawab Dika.
“Oke, gue tunggu kabar dari lu,” Cakra akhirnya pasrah.
“Eh, ada foto Riani yang lain nggak? Soalnya orang bakal susah ngenalin dia,” tanya Dika
“Nggak ada, satu-satunya foto ya pas nikahan itu,” jawab Cakra menghela napas berat.
“Mungkin temen Riani ada,” Dika memberi saran.
“Oke, gampanglah nanti,” jawab Cakra di ujung telepon.
Percakapan mereka berakhir, menghempaskan Cakra dalam ruang sunyi yang begitu pekat. Setelah berpisah, semua foto Riani dihapus dan dibakar istri keduanya. Diam-diam Cakra menyisakan satu dan ia selipkan di buku kecil. Di kamar hotel ia terus menyesali kebodohannya. Memikirkan nasib Riani yang entah bagaimana kondisinya saat ini.
***
Pagi itu cericit burung mewarnai hatinya. Telah lama Cakra menahan gejolak rindu. Dalam hati tak henti berdoa semoga Riani berkenan memaafkannya. Segera ia bersiap menuju bandara. Setelah check out di meja resepsionis, ia duduk di lobi menunggu ojol menuju bandara Adisucipto. Tetiba, matanya tertaut pada pemuda yang sedang duduk di seberang. Cakra pun mendekati untuk memastikan. Dugaannya benar, Faisal, Mantan pegawai kantornya.
“Faisal,” panggil Cakra. Faisal tersontak kaget dengan kehadirannya.
“Bapak gimana kabarnya?” Faisal membuka obrolan. Ia tak menyangka bisa bertemu lagi dengan atasannya dulu.
“Baik Sal, kamu sendiri?” Cakra bertanya balik sambil menyunggingkan senyum.
“Seperti yang bapak lihat,” jawab Faisal tak henti tersenyum.
***
Cakra terperangah dengan penampilan Faisal yang tampak menawan. Setelan jasnya terkesan berwibawa. Tiga tahun lalu pemuda itu sempat bekerja di kantornya. Keuletan dan kecerdasannya sangat ia andalkan. Sayangnya, saat hendak menaikkan posisi Faisal, ia lebih dulu resign, ingin menciptakan bisnis sendiri.
“Rupanya sudah jadi bos kamu Sal,” celetuk Cakra yang membuat Faisal tersipu hingga menundukkan wajah.
“Saya banyak belajar dari bapak juga,” timpal Faisal.
“Lagi sibuk ya?” tanya Cakra ingin tau lebih banyak.
“Tadi ada meeting dengan pimpinan hotel, cuma ditunda besok,” jawab Faisal. Mereka pun larut dalam obrolan ringan hingga Cakra mengabaikan telpon dari driver onlennya.
“Bapak mau ke mana?” tanya Faisal.
Cakra yang larut oleh suasana, seketika teringat ojek yang ia pesan. Lekas ia melihat aplikasi, ternyata sudah dibatalkan oleh pihak driver. Saat hendak memesan ulang, ponselnya berdering. Digesernya tombol hijau, terdengar suara perempuan dengan sopan mengabarkan bahwa keberangkatan pesawatnya diundur sekitar dua jam kedepan. Raut mukanya sedikit kecewa. Rasanya sudah tak sanggup lagi untuk menunggu lebih lama.
***
“Pesawat saya dipending.” Cakra akhirnya bersuara setelah menghela nafas panjang.
“Bapak mau kemana?” tanya Faisal menatap iba pria paruh baya disampingnya. Sorot mata Cakra menjelaskan beban berat yang tengah dipikul.
“Malang,” jawabnya singkat.
“Sambil nunggu, gimana kalau bapak sarapan dulu. Nanti saya yang anter bapak ke bandara.” Faisal coba menawarkan. Cakra diam sesaat berpikir lalu mengiyakan ajakannya. Ada yang ingin ia tau tentang pemuda itu. Ya, sejak dulu entah mengapa mengobrol dengan Faisal selalu meriangkan hatinya.
Sekitar lima belas menit perjalanan, mobil Avanza milik Faisal berhenti di Rumah Makan Sederhana. Bergaya joglo dengan dua tempat makan pelanggan yang terpisah. Di samping kanan terdapat kolam besar dengan ikan hias dikelilingi tanaman yang menawan, terlihat asri dan bersahaja. Begitu Faisal masuk para pelayannya menunduk. Cakra kagum melihat hasil kerja keras Faisal. Selain cerdas dan ulet ia juga rendah hati dan dermawan.
Marisa Rahmashifa mahasiswi Sastra Inggris UIN Malang. Berdomisili di Malang Penggiat sastra dan beberapa karyanya sudah dimuat di Republika dan Kedaulatan Rakyat. Juga menjuarai lomba nasional bersama penerbit Aksara Aurora.
