Mencari Bu Guru Sastri
“Anak-anak, hari ini kita belajar menulis cerita,” ujar Bu Sastri.
Tantri mengangkat tangannya. “Bu, saya bingung harus mulai nulis dari mana.”
“Bingung itu wajar, Tantri. Coba begini, pikirkan apa yang sedang ingin kamu ungkapkan. Lalu, buat kerangka sederhana untuk menuntunmu mengembangkan alur cerita,” jawab Bu Sastri.
Mendapat jawaban itu Tantri seperti mendapat cahaya dalam gelap. Pena di tangannya perlahan mulai berayun di atas buku tulis bergaris yang tampak sangat tipis.
Suasana kelas hening. Seperti biasa. Suara gesekan pensil pada kertas bergaris terdengar begitu syahdu. Ini tanda-tanda ide mengalir deras di ruang kelas ini.
Aku pun memulai menulis. Kerangka cerita sudah kupersiapkan sejak kemarin.
“Bu, kerangka cerita seperti ini apakah sudah cukup bagus?” tanyaku kepada Bu Sastri.
Bu Sasti tidak langsung memberikan jawaban. Raut wajahnya tampak serius membaca bagian-bagian cerita yang sudah kutuliskan dalam bentuk kerangka.
“Di bagian konflik ini, tokoh utama jangan terlalu menonjol, beri ruang untuk tokoh pendamping ikut menyelesaikan konlfik. Ibu rasa itu lebih baik, Nak. Bagaimana menurutmu?”
Begitulah Bu Sastri. Ia tidak mengunci jawaban dengan jawabannya sendiri. Kami ditempa menjadi penulis yang berpikir. Memikirkan alur cerita yang kami buat sendiri sampai benar-benar matang.
**
Bu Sastri bukan orang berada. Hidupnya tidak seberuntung guru yang lain. Kebanyakan teman seangkatannya sudah diangkat menjadi PNS. Kata orang tuaku, menjadi PNS itu hidupnya jauh lebih sejahtera daripada guru honorer. PNS itu masa depannya sudah pasti, ada kesempatan beasiswa studi dan tunjangan hari tua.
Aku selalu bertanya-tanya, kenapa sih Bu Sastri tidak mau jadi PNS? Entah panggilan jiwa semacam apa yang menarik Bu Sasti sampai seperti sekarang ini.
Kadang kulihat Bu Sastri merasa sedih. Entah, mungkin memang gaji sebagai guru honorer memang sebegitu kecil atau ada hal lain di pikirannya. Aku tak cukup berani untuk menggali informasi tentang ini.
Padahal, yang kurasakan—juga dirasakan teman-teman sekelasku, Bu Sastri begitu tulus mengajar dan membimbing murid di kelas maupun di luar kelas. Aku juga sering mendengarnya dari murid kelas sebelah. Apakah menjadi PNS bukan satu-satunya tujuan? Atau, ada hal lain yang lebih menarik buat Bu Sastri ketimbang menjadi PNS?
“Teman-teman, ibu senang sekali kalau kalian bisa nulis cerita dengan sepenuh hati, jadi selesaikan cerita kalian dengan hati, jangan terpaksa, jangan hanya ingin nilai bagus,” ujarnya suatu kali saat mengajar di kelasku.
Memang benar, ia adalah pembaca yang tekun. Bu Sastri akan membaca berulang kali karya tulis murid-muridnya. Kadang ia terdiam untuk waktu yang sangat lama saat membaca karya kami. Itu dia lakukan bukan untuk menghakimi atau mencari kesalahan dari karya kami. Aku rasa, ia hanya mencoba menghayati karya yang ia baca.
Bu Sastri juga tak seperti guru lainnya. Ia tidak sekadar membubuhkan nilai pada lembaran tugas kami, tetapi ia memberikan komentar dan masukan agar cerita kami bisa lebih baik. Begitu pun saat menilai tugas lainnya. Ketulusan itu membuat kami sangat gembira saat mendapat catatan, entah itu kritik maupun masukan, dari Bu Sastri.
**
Waktu beranjak tak bisa dihindari. Sudah hampir sepuluh tahun aku meninggalkan bangku SMP. Saat ini, aku sedang menempuh studi di fakultas keguruan di sebuah kampus swasta di timur Jakarta. Ya, aku mendapat beasiswa karena sering memenangi lomba menulis cerita.
Aku ingin menjadi guru seperti Bu Sastri. Menjadi guru yang tidak sekadar mengajar, tapi menjadi cahaya yang menginspirasi. Aku yakin, meski sudah lama hilang kontak, suatu saat akan bertemu lagi dengan guru kebanggaan kami tersebut.
Sayangnya, ada kabar Bu Sastri sudah tidak mengajar lagi. Aku sudah curiga sejak lama. Pasalnya, beberapa tahun belakangan, SMP Bina Karya memang tak terdengar memenangi juara lomba menulis cerita di tingkat provinsi ataupun kota. Padahal, dulu sekolah kami adalah juara bertahan setiap tahunnya. Tentu, itu karena bimbingan Bu Sastri.
Aku kembali ke sekolah untuk bertemu teman-teman pengurus alumni. Kami berencana mengadakan reuni akbar. Mengundang semua angkatan, termasuk guru-guru yang pernah mengajar di sini.
Mencium kembali udara sekolah membuatku terbang ke masa lalu. Aku pun terhenti di depan pintu kelasku dulu. Coretan-coretan yang dulu, masih terjaga. Melihat bangku-bangku yang berantakan itu, air mataku mulai menetes. Sungguh, aku merindukan belajar bersama teman-teman di sini. Rindu menulis cerita bersama Bu Sastri.
***
Hari itu pun tiba. Aku masih belum mendapat kabar apa pun tentang Bu Sastri. Aku tak tahu, apakah undangan reuni ini telah tersampaikan kepadanya. Mungkinkah hari ini terjawab usaha pencarianku selama ini. Apakah Bu Sastri akan hadir dan kembali menyapa kami? Aku tak tahu.
“Anak-anak, jangan lupa di akhir cerita, sisakan sedikit ruang untuk pembaca menerka-nerka. Apa yang akan terjadi berikutnya? Akhir tragiskah atau akhir yang gembira,” itu pesan yang selalu diungkapkan Bu Sastri. Masih sangat lekat dalam benakku.
“Tentu, kita semua inginnya akhir yang gembira, Bu, tapi kenyataan tidak selalu begitu kan?” batinku. []
Ahmad Soleh. Menulis cerpen, puisi, dan esai di berbagai media. Pendiri Penerbit Irfani, penerbit buku indie di Kota Depok. Mahasiswa S2 Uhamka ini juga merupakan awardee beasiswa MPK-SDI PP Muhammadiyah tahun 2024. Selain aktif sebagai sekretaris MPI PDM Kota Depok, ia juga aktif sebagai anggota APEBSKID Komisariat Jakarta. Aktif di Instagram ahm_soleh
