f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
petaka

Sepak Bola Berbuntut Petaka

Sejak malam itu semua orang berduka, menangis, kecewa, dan saling menyalahkan atas tragedi menyedihkan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang. Ratusan atau bahkan ribuan orang dipaksa menghirup gas air mata yang memekakkan hidung dan rongga pernapasan. Semua orang berlarian dan berdesakan menuju pintu keluar. Mereka ingin pergi dari tempat yang terasa seperti neraka.

Mereka berteriak dan berseru keras memohon pertolongan. Tangisan anak-anak serta para perempuan yang ikut serta turut menambah kesan miris pada waktu itu. Namun karena pertolongan tak kunjung datang, satu persatu mulai pingsan dan berjatuhan.

Satu dua orang tergerak nurani hatinya dan menolong orang-orang di dekatnya yang mulai melemah. Tangannya yang sebelumnya ia gunakan untuk menutup mulut dan hidungnya pun ia ulurkan untuk membantu mereka yang lemah. Dia bersama yang lain turut serta membawa mereka yang jatuh ke tempat yang lebih aman. Ia tak memedulikan rasa sesak di dadanya sejak gas air mata itu ditembakkan.

Sementara itu, seorang anak laki-laki sedang berusaha bertahan di tengah kerumunan yang berdesakan. Tubuhnya yang tidak seberapa besar itu berulang kali oleng kesana kemari. Rusuknya terasa sakit setelah beberapa kali terkena siku suporter yang lain. Dadanya yang terasa sesak dan hidungnya yang perih semakin membuatnya tertatih. Matanya yang mulai berkunang-kunang turut membuatnya gamang karena takut tak sanggup bertahan. Namun, bayangan ibunya yang letih berada di rumah selalu membayanginya sejak serangan gas air mata itu datang.

“Le, ojo lali gek ndang mulih yo lek wes bar!”

Pesan itu hanya satu kalimat dan biasa ibunya ucapkan setiap kali dia memohon izin untuk menonton pertandingan sepak bola. Namun, entah firasat apa yang baru saja ia rasakan, ia ingin sekali mendengar pesan itu lagi. Ia mulai menangis, takut tidak bisa mendengar suara ibunya kembali.

Sedangkan di tribun sana, seorang pemuda tengah berlari menghindari gas air mata bersama dengan seorang pria berkepala tiga yang membawa istri dan anaknya yang masih berusia sembilan tahun. Mereka berulang kali berlari kesana kemari demi menghindari zat kimia yang mampu membahayakan rongga pernapasan.

Baca Juga  Pergulatan Hantu, Pergulatan Perempuan dari Kumcer 'Sihir Perempuan'

Pria itu menggigit bibirnya berulang kali tanpa sepengetahuan orang-orang di sekitarnya. Matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis. Ia tak percaya semua ini terjadi. Seharusnya ini momen bahagia karena berhasil membawa keluarga kecilnya untuk menonton bersama pertandingan klub kesayangannya. Tapi lihatlah, kebahagiaan itu telah sirna. Hanya ada teriakan dan tangisan pilu yang ia dengar di sini.

Tidak, dia tidak boleh menyerah pada situasi ini. Keluarga kecilnya yang berharga harus selamat bagaimanapun caranya. Sebagai seseorang yang paling dituakan di keluarga, ia tak boleh berputus asa sama sekali.

Tangannya segera meraih anaknya yang ada di sampingnya. Ia menggendong anak itu seraya menggamit tangan istrinya. Adiknya yang telah tumbuh menjadi seorang pemuda gagah pun ia minta untuk berjaga di belakang mereka.

Tangan kanannya memeluk anaknya seraya berdoa pada Sang Maha Kuasa. Ia mengutarakan segala usaha dan berserah dirinya pada Sang Pencipta. Panjatan doa itu pada akhirnya diiringi tangisan lirih yang tak sanggup lagi ia tahan. Begitu pula dengan istrinya yang harus menahan sesak napas demi bisa bertahan dan menjauh dari tribun yang terkena serangan.

Tiba-tiba adiknya yang berada di belakang jatuh terjerembab ke rerumputan. Dua buah tabung gas air mata kecil terlempar dan mengenai kaki adiknya secara bertubi-tubi. Asap gas yang tampak ganas itu mulai menyelimuti kakinya.

Pria itu segera menurunkan anaknya dan menyerahkannya pada sang istri. Ia memberi isyarat kepada istrinya untuk segera berlari ke pintu keluar sebelum suasana di lapangan lebih buruk lagi. Sang istri yang tak mengerti harus bagaimanapun hanya bisa menurut. Dalam hatinya ia yakin suaminya akan mampu menjaga diri dan adik menantunya yang ia anggap seperti adik kandungnya sendiri. Dengan menggamit tangan anaknya, ia tertatih menuju kerumunan orang-orang yang berusaha keluar.

Sementara itu, si pria berusaha membantu adiknya untuk kembali bangkit sedangkan mereka masih berada di tengah lapangan. Baru saja mereka berjalan beberapa langkah, sebuah tabung kecil terlempar lagi ke arah mereka. Dengan seluruh rasa emosi yang menggumpal di dalam hatinya, ia ambil tabung kecil itu dan melemparnya balik.

Baca Juga  Alasan: Tarno Asalnya dari Berkubak

Di area yang lain, seorang polisi terpaku diam di tempat. Ia terdiam seribu bahasa melihat kericuhan yang terjadi. Mulai dari suporter dan aparat yang saling menyerang, hingga kerumunan pintu keluar yang tak terbayang seberapa sesaknya.

Dalam hatinya, ia bertanya-tanya, apa yang harus dia lakukan sekarang. Dirinya tidak tega jika harus berdiri di samping rekan-rekannya yang menembakkan gas air mata berulang kali ke arah suporter. Namun, dirinya juga tidak kuat jika harus berjibaku dengan semprotan yang mampu mengiritasi rongga pernapasannya.

Namun dia sadar bahwa dia tak boleh diam saja. Ia lantas berlari ke tribun dan membantu siapapun yang kesulitan di sana. Sesampainya di sana, ia terkejut mendapati apa yang ia lihat.

Ada banyak anak-anak di sana, entah itu laki-laki ataupun perempuan. Mereka berjalan tertatih menuruni tribun seraya memegangi dada yang terasa seperti terbakar.

Sayangnya, aksi simpatik darinya itu tidak berjalan mulus. Ia juga harus ikut bertahan di tempat yang hampir tak ada oksigen itu. Akhirnya, ia mulai merasakan apa yang sejak tadi dirasakan oleh para suporter.

Hidungnya yang terbiasa menghirup udara segar dipaksa menghirup asap bak cabai dan merica yang menusuk hingga ke tenggorokan. Tak hanya itu, dadanya terasa perih hingga terhimpit di dalam sana. Jarak pandangnya yang memendek membuatnya sulit menentukan langkah saat membantu para suporter.

Sekitar beberapa kilometer dari stadion, beberapa saat kemudian, semua orang yang ada di rumah menunggu di depan pintu seraya berharap cemas. Mereka menunggu para anggota keluarga yang tak kunjung muncul sesudah melewati tengah malam tanpa berada di rumah.

Begitu pula dengannya yang hanya berdua dengan anak perempuannya di rumah. Sejak tadi mereka risau karena anak laki-laki itu tak bisa dihubungi. Semua pesan dan panggilan yang dikirim pun tidak kunjung mendapat jawaban.

Baca Juga  Yang Tak Terdefinisikan

Mencoba memperbaiki suasana hati, si anak perempuan membuka media sosial berlogo burung biru yang ada di ponselnya. Saat mengecek apa yang sedang trend di sana, ia terkejut setengah mati. Seruan kagetnya berhasil mengalihkan perhatian sang ibu yang sejak tadi mengkhawatirkan anak laki-laki itu.

Sang ibu pun melihat apa yang ada di media sosial itu. Seketika hatinya terasa sakit seolah terkoyak-koyak dengan kasar. Ia langsung melempar ponsel anaknya dan mengambil ponsel miliknya sendiri.

Sekali lagi, ia mencoba menghubungi anak laki-lakinya dan teman anak laki-lakinya.

Terhubung. Salah satu sahabat anaknya merespon panggilannya.

“Le, si Rehan mana?”

Orang yang ia tanyai sedang mengatur napasnya yang masih memburu. Sedetik kemudian, sebuah isakan lirih terdengar dari seberang. Dilihatnya sesosok laki-laki yang terbujur kaku di sebelahnya setelah berulang kali tidak bereaksi saat diberi oksigen atau stimulus apapun itu.

“Tante, maafin Rizky ngga bisa jagain Rehan. Ini Rehan di samping Rizky lagi….”

“LAGI APA??? ANAKKU MANA?!” potong sang ibu dengan berseru di telepon.

Tangisnya pun pecah. Ia tak sanggup menahannya lagi begitu mendengar pekikan pilu dari ibu sahabatnya. Dengan terbata-bata dan terisak, ia mengatakan bahwa sahabatnya itu harus meregang nyawa setelah berjuang menhadapi gas air mata yang merusak pernapasannya.

Sedih, kecewa, dan marah bercampur menjadi satu. Telepon yang tiba-tiba terputus itu semakin menyayat hatinya. Ia merasa semakin tidak berguna setelah lalai membiarkan sahabatnya sejak kecil meregang nyawa di hadapannya. Semua rasa yang bercampur menjadi satu itu tak tahu harus ia limpahkan kemana. Sejak tadi yang ia lakukan hanyalah menyalahkan dirinya sendiri.

Mungkin sekarang ia berada di rumah sakit, tapi jiwanya masih tertinggal di stadion itu. Semua teriakan, tangisan, dan rintihan orang-orang yang ada di sana memenuhi kepalanya. Ia tidak tahan.

Bagikan
Comments
  • Pukat

    Kerennn Kak Landung

    Oktober 9, 2022
    • Landung

      Kak ifoone juga kereeen

      Oktober 9, 2022
Post a Comment