f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
cahaya

Setitik Cahaya di Sarang Setan

Gelap malam bukanlah suatu hal yang berarti bagiku. Aku terbiasa dengan kegelapan. Aku gadis tujuh belas tahun yang terlahir dikegelapan kontrakan Mami, seorang penghimpun wanita sewaan. Dindingnya penuh jamur, tanpa secercah cahaya walau sedikit. Cahaya matahari tentu ada, namun cahaya hati nurani sama sekali tidak nampak. Aku ada karena sebuah hubungan gelap, begitulah kata orang-orang. Aku hidup dalam dunia berkabut hitam. Di dunia ini aku memiliki ibu saja, yang hatinya pun aku rasa tidak ada terangnya pula. Ayah? Sudah pasti tidak kuketahui.

Inilah kehidupanku, di kontrakan sempit horror seperti sarang setan yang selalu didatangi mangsa tanpa perlu mengelabuhinya atau mengundangnya. Tidak da cahaya. Kata yang ku dengar pertama kali adalah persetan. Umur dua tahun aku sudah ratusan kali mendengar tentang sewa kamar dan pelayannya. Jangankan agama, angka saja aku sempat buta dan tertinggal jauh dari kawan sebayaku. Apa? Sekolah? Mami bilang itu tidak akan membuat kenyang. Tidak ada uangnya, maka tinggalkan.

“Jangan payah, memikirkan sekolah segala. Kamu pernah mendengar sekolah yang dibayar? Kalau ada, pergilah! Kalau tidak mau, ya sudah, jangan berandai-andai makan bangku. Makan untuk nanti malam saja payah” itulah kata ibu ketika aku mencoba mengeja artikel dalam brosur majalah kecantikannya.

***

Ibuku memang bukan dambaan anak manapun. Aku serius mengatakannya.

Usia enam belas memang usia paling cocok untuk merintis karir seperti ibu. Apalagi aku yang memiliki badan proporsional dan wajah yang lumayan bisa dikatakan cantik. Berulang kali tamu ibu melirikku, bila sudah seperti itu, kucari apapun yang ada untuk menutupi wajah ini. Jangankan melayaninya, bernafas satu udara dengannya saja sebenarnya aku tidak sudi.

Ketika ada pepatah yang mengatakan buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Maka aku akan membuat pohon itu tumbuh di atas lereng sehingga buahnya akan jatuh  jauh dan sejauh mungkin. Aku membenci semuanya. Kendati begitu aku tetap yakin, bahwa tiada yang terjadi secara kebetulan di dunia ini. Aku yang akan membuktikannya dengan melawan semua keburukan di sarang ini.

Baca Juga  Pandemi di Tanah Rantau (1)

Aku bergeming pada setitik cahaya, berjanji untuk tidak pernah menaruh cinta kepada apapun dan siapapun, karena itulah awal pesakitan ibu. Ibuku yang mengatakan bahwa cinta tak harus disampaikan, dan lebih baik tak usah mencintai. Saat selesai mengatakannya, aku takut itu akan menjadi pesan terbijak pertama dan terakhir dari ibuku.

***

Suami ibuku dulu seorang penjual parfum di ibu kota. Awal pernikahan  memang manis. Ibu merintis membuka usaha warung di kampung dan suaminya pulang satu atau dua bulan sekali. Ibu berkata bahwa saat itu ia dan suaminya berkomitmen bahwa tidak akan memiliki buah hati dahulu  sebelum usahanya selesai terbangun. Suaminya menjanjikan kehidupan yang lebih baik saat grosir parfumnya direlokasi pemerintah ke kawasan dagang dekat stasiun kota. Kemudian ibu mulai menghitung kebutuhan saat mengandung, bersalin, sekolah dan lain-lain. Ibu sangat mencintai suaminya yang penuh dengan janji kebahagiaan.

Dua bulan sudah suaminya belum kembali untuk sekadar menengok isterinya yang sedang rindu. Tiga bulan ibu masih menunggui suaminya. Rasa khawatir muncul tatkala tidak ada kabar sekalipun yang sampai ke kampung mengenai suaminya.  Empat bulan, lima bulan, hingga bulan ke enam, akhirnya ibu memutuskan menyusul suaminya ke ibu kota. Sebelum berangkat ibu menata rantang dengan semur ayam kesukaan suaminya.

Dini hari berkabut ibu berangkat dan tiba di stasiun kota pada sore hari. Ibu berkeliling dengan rasa yakin akan bertemu suaminya dengan keadaan sehat. Ia jumpai setiap toko parfum yang ada. Tak juga bertemu. Ia sebutkan ciri suaminya, akhirnya ada satu wanita paruhbaya yang berkata mengenal sosok itu.

***

“Kang Marino ya, itu mah pelanggannya anak ini, nih!” kata ibu itu dengan menunjuk seorang gadis seusia Ibu. Ibu tertegun melihat pakaiannya. Wangi tubuhnya tercium dari jarak dua lengan. Ibu bangga, berarti memang parfum suaminya laku di stasiun ini. Lamunan ibu disadarkan dengan uluran tangan perempuan paruh baya tadi yang berbaik hati mengantar ke kios suami Ibu, Marino. Di antarnya ibu sesampai di depan kios Marino kemudian ditinggalkan begitu saja tanpa bicara.

Baca Juga  Gara-gara Suara Terbanyak

Rolling door kiosnya terbuka dua jengkal. Ibu berpikir bahwa suaminya sudah mau menutup kiosnya. Mendekatlah ibu selangkah demi selangkah mengendap-endap ingin membuat kejutan. Inilah saat seharusnya rindu berbalas temu.

Ibu masuk dan bukan main! Niat membuat kejutan justru makan tuan. Ibu yang terkejut ketika menyaksikan pemandangan itu. Kelontang bunyi rantang mewarnai ketegangan kejadian saat itu. Ibu menarik tangan suaminya, ibu marah, benci dan menyesal terlalu menaruh hati pada manusia.

“Ibu seperti ini karena ia berjanji, tidak akan pernah menaruh cinta pada siapapun. Laki-laki yang kemari itu hanyalah permainan berhadiah. Tidak ada yang benar-benar ibu minati dari mereka kecuali uangnya. Satu yang perlu kamu tau, Jaenab, ketika kamu memutuskan tidak ingin seperti ibu, maka kamulah cinta pertama ibu tempat yang kamu bilang sarang setan ini”

***

Mulai saat itulah, aku berjanji untuk tidak mencintai apapun dan siapapun, sampai akhirnya memang benar-benar ada yang seharusnya ku cinta, seperti yang ibu lakukan. Ini adalah pertama kalinya aku menemukan sikap yang bisa ku contoh dari seorang ibu.

Gang sempit, bau amis dan kumuh menjadi pemandangan ku setiap harinya ketika hendak berangkat ke tempat belajar binaan relawan. Semenjak aku usia tujuh aku mulai bermain-main ditempat ini. Tempat belajar ini tidak gratis. Untuk mengajari anak-anak dari pelacuran yang berada dibawah koordinasi Mami germo, mereka harus membayar uang pangkal memberi pelajaran. Tidak seperti sekolah yang lainnya, justru yang gurunyalah yang membayar di sini.

Relawan sedikit menuturkan asal uang yang digunakan untuk membayar Mami germo adalah uang donasi dari teman-teman mahasiswa, dinas sosial dan para pemerhati pendidikan. Aku sempat terkejut dengan keterangan ini. Apakah anak bekas kesalahan seperti aku ini bisa seperti mereka, menjadi manusia yang sangat mulia.

Di sana aku belajar banyak hal, mulai dari cara bertutur, membuat puisi, menulis cerita, menghitung, dan yang selalu menjadi favoritku adalah pelajaran cerita nabi-nabi. Selain itu juga ada selingan bercerita dan diskusi. Pada saat aku usia empat belas, ada suatu kesempatan diskusi oleh seorang relawan, ia berkata bahwa “bolehlah bila manusia terlahir dengan keadaan hina, tapi jangan sampai ia meneruskan kehinaan itu hingga maut tiba”.

Baca Juga  Perempuan Berpendidikan; Dilema Etis dan Psikologi

Aku seperti terkena sindiran tegas pada waktu itu. Kepalaku mengangguk-angguk sepaham dengan kalimat sederhana penuh makna. Mulai saat itulah aku berjanji untuk melindungi diri dari kegelapan lingkunganku. Aku merasa beruntung bisa sedikit merasakkan ‘ilmu’ yang kata Mami tidak ada gunanya itu. Padahal aku sendiri yakin, bahwa ia pun menggunakan ilmu juga untuk terus menjerat ibu dan kawan-kawan yang lain.

***

Mami hanyalah satu dari sekian mimpi burukku. Mami memperlakukan perempuan-perempuan patah hati tanpa hati, seperti ibu. Namun aku belajar banyak dari Mami, mengenai cara merawat bayi, memasak, dan tegas ketika berbicara. Sehina apapun perangai orang tua, mereka adalah orangtua terbaik bagi anak-anaknya. Hal itu terbukti ketika ibu masih mengatakan cintanya padaku. Seburuk-buruknya Ibuku, ia pernah mendoakanku menjadi pengajar. Ibu tahu yang terbaik bagiku adalah menjadi guru, sekalipun itu bukanlah pekerjaan yang bergaji besar.

ku menjadi paham akan hakikat doa seorang ibu dan Tuhan memanglah tanpa perantara apapun. Usia tujuh belas ini aku memulai karir baruku, namun tidak seperti ibu. Aku diminta menjadi pengajar bagi anak-anak kecil seusia enam dan tujuh di tempat belajar binaan dan aku sangat mencintai pekerjaan ini.

Aku hanyalah bercita-cita menjadi setitik cahaya di sarang setan, tempat gelap ibuku selama ini. mengatakannya karena ibarat kata, perempuan itu adalah api. Ia bisa menghangatkan atau membakar hangus apa saja. Perbedaan di antara keduanya, boleh jadi mereka bermanfaat atau sekadar menjadi pemusnah. Namun sebenarnya yang ada di dalam diri mereka adalah sama. Apapun yang mereka lakukan, mau menghangatkan ataupun membakar hangus, mereka tetap menerangi apapun yang ada di dekatnya. Sekalipun sejatinya mereka menerangi sembari menyusun sebuah rencana pembakaran.

Bagikan
Post a Comment