f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
beragama

Ibrah Pandemi : Orang Tua Lebih Menyayangi

Aku adalah salah satu siswa kelas lima Sekolah Dasar yang berada di Jakarta, namaku Toni. Aku masih diberikan kesempatan untuk belajar walaupun keadaan masih terbilang krisis. Pembelajaran daring menjadi kuncinya di masa pandemi ini. Tapi aku selalu bersyukur karena masih bisa bermain, belajar, dan tentunya ada orang tua yang selalu menyayangi. Terimakasih pandemi.

Orang tuaku adalah sosok pekerja keras yang sangat loyal dalam pekerjaannya. Sebelum pandemi melanda, mereka merelakan berangkat pagi dan pulang di waktu senja. Dan ketika sudah di rumahpun mereka masih sibuk dengan urusannya sendiri, entah mengerjakan sesuatu di depan komputer, telfon dengan klien atau bahkan karena saking capeknya mereka langsung bergegas untuk istirahat. Terus kapan ada waktu bersamaku?

Tapi keadaan itu berbalik sejak bulan Maret 2020. Yakni ketika Bapak Presiden Jokowi menetapkan untuk membatasi semua aktivitas di ranah publik atau dikenal dengan istilah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Bahkan perkantoran tempat orang tuaku bekerja juga terkena imbasnya. Alhasil orang tuaku harus bekerja dari rumah atauWork form Home (WFH). Sejak itulah aku merasa hidup kembali dan merasakan menjadi seorang anak yang mempunyai orang tua seutuhnya. Keadaan tersebut ku rasakan hingga bulan Juni.

Bersiap Sekolah Virtual

“Toni…ayo mandi, sudah jam 06.30 ini. Setengah jam lagi kan kelas akan dimulai. Pelajaran pertama IPA yaa… sudah ibu sipkan bukunya di meja belajarmu. Owh iya….jangan lupa memakai seragam merah putih yang ibu gantung di almari itu nak..” teriakan ibuku dari dapur, sembari ia menyiapkan sarapan pagi untukku.

Kebetulan selama pandemi ini tidak ada Mbak Sinem yang membantu menyiapkan masak untuk kami. Alhasil, segala aktivitas domestik di rumah kami lakukan bersama-sama.

“Baik bu…. Owh iya….ibu hari ini kerja jam berapa?” sahutku dari lantai atas memberikan imbalan pertanyaan.

“Ibu hari ini shift siang nak…jadi ibu nanti yang akan mendampingimu belajar lewat zoom, kalau besok ayah yang nemenin kamu.”

“Oke bu…Toni mandi dulu ya.” Bergegas mengambil handuk dan menuju kamar mandi.

Semenjak orang tuaku bekerja di rumah, aku menjadi lebih semangat untuk belajar. Bagaimana tidak, setiap pagi mereka yang mengingatkan dan membantuku menyiapkan perlengkapan untuk sekolah virtual. Aku merasa sangat diperhatikan.

Berbeda ketika sebelum ada pandemi datang, segala aktivitasku di pagi hari hanya di bantu oleh Mbak Sinem yang dipercayai oleh kelurga kami. Sedangkan orang tuaku sudah berangkat ke kantor masing-masing. Dan ketika aku pulang sekolahpun mereka belum berada di rumah. Sedih rasanya…

Sekolah Virtual Dimulai

“Bu…ini kok belum bisa masuk zoom ya? Padahal lima menit lagi jam 07.00 loh.”

“Sini ibu lihat dulu ya…emm…coba kamu pindah posisi nak…cari yang paling dekat dengan sumber wifi, supaya sinyalnya kuat.” Ibu memberikan solusi

Akupun berusaha mencari posisi nyaman dengan kekuatan sinyal yang kuat. Sembari berpikir, bagimana teman-teman di luar sana yang tidak memiliki akses internet yang memadai. Jangankan membeli paket data, bahkan handphone atau laptop pun terkadang ada di antara mereka yang belum punya. Semoga teman-teman selalu dimudahkan dalam belajar di manapun, kapanpun dan dengan media apapun. Dan segera mendapatkan perhatian dari pemerintah.

***

“Yeahh…akhirnya bisa juga,” ucapku dalam hati.

“Gimana nak…sudah bisa masuk kan?”

“Sudah bu…” mukaku girang.

“Nak…kalau sudah jam 07.00, bilang ke ibu ya…ibu sedang membereskan dapur dulu.”

Sembari menunggu jam 07.00, aku sipakan buku paket yang telah ibu siapkan sebelumnya. Ku buka materi yang nanti akan bu guru jelaskan selama pembelajaran.

“Buu…sudah jam 07.00 ini, ayaoo bu. Bu guru sudah bersiap untuk memberikan materi,” teriaku penuh semangat.

Ibupun datang dan duduk di samping kananku. Ia mendampingiku selama proses pembelajaran. Terkadang ibu mencocokan antara materi yang ada di buku paket dan penjelasan dari bu guru. Setelah satu jam berjalan, akhirnya pelajaran pertama telah selesai. Ada waktu untuk istirahat dan untuk menyiapkan pelajaran selanjutnya.

Setelah pelajaran pertama selesai aku melihat raut muka ibu yang tidak mengenakan, sepertinya ibuku mengalami kebingungan.

“Nak…kenapa materi yang ibu gurumu sampaikan dengan materi yang ada di buku paket berbeda ya. Ada bagian yang tidak beliau jelaskan,” tanya ibuku penasaran.

“Toni tidak tau bu…kenapa bisa begitu.” 

Karena saking penasarannya, ibu langsung menghubungi guruku yang tadi menjelaskan materi melalui zoom.

Mengenal Kurikulum

“Halo ibu…Selamat pagi….Mohon maaf mengganggu waktunya, saya ibunya Toni ingin menanyakan beberapa hal tentang pembelajaran yang baru saja dilaksanakan,” ibuku menghubungi melalui telepon di whatsapp.

“Pagi ibu…baik…saya persilahkan,” bu guru memberikan izin bertanya.

“Terima kasih sebelumnya bu.. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan terkait materi yang telah ibu sampaikan pada forum di zoom tadi. Mengapa materi yang ada di buku paket tidak semua dijelaskan ya bu, ada bagian yang ibu lewati,” tanya ibuku dengan serius.

“Oooh terkait dengan itu bu…, baik akan saya jelaskan. Jadi begini bu, sejak pandemi melanda ada perubahan kurikulum yang diberlakukan. Menteri Pendidikan menyebutnya dengan istilah ‘Kurikulum Darurat’. Nah…pada kurikulum ini ada pemangkasan materi yang disampaikan. Karena semua pembelajaran melalui daring, sehingga ada pengurangan jam pelajaran. Dari jam pelajaran yang dikurangi ini menuntut untuk mengurangi materi yang disampaikan kepada peserta didik juga. Pemilihan materi yang dimasukan ke dalam ‘Kurikulum Darurat’ ini hanya materi yang bersifat substansial.” Tanggapan bu guru singkat dan sangat jelas.

“Ternyata begitu bu….saya baru tau ternyata ada ‘Kurikulum Darurat’ yang diterapkan selama pandemi ini. Terimakasih penjelasannya bu….Selamat Pagi.” ucap ibuku menutup percakapan.

Dan karena pandemi ini, ibuku menjadi lebih paham tentang berbagai sistem dalam pendidikan, termasuk mengenal kurikulum.

PSBB Lagi ?

Sejak bulan Juli sampai September awal ini aku masih menjalani sekolah dari rumah. Akupun merasa senang, karena orang tuaku tidak bekerja terlalu larut. Jadi ada sistem shift yang di terapkan di tempat orang tuaku bekerja. Jika sebelum pandemi orang tuaku bekerja hampir sepuluh jam dalam sehari, setidaknya beban itu telah sedikit berkurang. Mereka hanya wajib datang ke kantor lima jam saja dalam seharinya. Dengan peraturan seperti itu pun masih mengalami kenaikan jumlah positif covid di Jakarta, masyarakat semakin abai dengan protokol.

Mendengar perkataan Bapak Anies Baswedan di acara televisi pada tanggal 9 September 2020, DKI Jakarta akan kembali menerapkan PSBB lagi. Kabarnya ini bukan PSBB transisi, melainkan PSBB total sebagaimana masa awal pandemi dulu. Kebijakan ini akan berlaku mulai 14 September 2020. Mungkin sampai waktu yang tidak bisa ditentukan, melihat kembali grafik positif corona menurun.

Bapak Anies menambahkan, prinsipnya semua kegiatan perkantoran non-esensial (termasuk kantor orang tuaku) diharuskan melakukan kegiatan bekerja di rumah. Bukan berarti kegiatan usahanya berhenti, melainkan bekerja secara langsung di kantor yang ditiadakan. Kegiatan usaha jalan terus, kegiatan kantor jalan terus, tetapi kehadiran di gedung perkantoran yang tidak diizinkan untuk beroperasi.

Aku tidak bisa membayangkan, apakah ini adalah hal positif atau negatif. Sampai-sampai aku bingung, apakah harus bahagia atau bersedih? Sebagai seorang anak yang masih perlu banyak belajar, hanya mengingatkan untuk kita semua. Bahwa menyelematkan generasi penerus bangsa dengan pendidikan merupakan hal fundamental juga untuk sama-sama diperjuangkan.

Bagikan
Post a Comment