Perempuan Berpendidikan Tinggi dan Segala Dramanya

6 menit baca
Teks:
WhatsApp

Ajaran Islam sangat menjunjung tinggi kewajiban menuntut ilmu bagi setiap muslim. Baik laki-laki maupun perempuan punya kesempatan yang sama untuk berproses belajar sepanjang hayat (long life education). Di manapun kita berada, semangat belajar yang berkesadaran sangatlah penting. Dalam QS. Al Anbiya’ ayat 107 disebutkan “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”.

Misi yang diturunkan Islam kepada Rasul adalah mewujudkan ajaran yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta). Untuk mewujudkan misi tersebut, maka manusia sebagai subjek penuh kehidupan perlu membekali diri dengan pengetahuan demi mewujudkan kebaikan-kebaikan bagi alam semesta.

Stereotipe Perempuan Berpendidikan Tinggi

Beberapa hari yang lalu, penulis menemukan beberapa postingan tentang insecure laki-laki terhadap perempuan yang berpendidikan tinggi. Postingan tersebut kurang lebih menjelaskan bahwa seorang laki-laki akan merasa insecure jika pasangannya lebih tinggi dari segi pendidikan dan ekonomi.

Faktanya, tidak sedikit dari kita masih mengamini asumsi sosial bahwa perempuan yang memiliki pendidikan lebih tinggi dari pasangannya berpotensi menghambat kehidupan keluarga. Selain itu, tidak jarang juga mendapat stereotipe buruk dari masyarakat sekitar. Katanya “Setinggi-tingginya pendidikan perempuan, ia akan tetap berada di bawah suaminya. Istri shalihah itu yang taat dan tunduk setunduk-tunduknya pada suami.” Begitulah, bunyi jargon yang sering saya dengar dari beberapa kajian, hehehe.

Narasi tersebut mengingatkan penulis dengan pesan Dr. Nur Rofiah (Founder Ngaji Keadilan Gender Islam) bahwa ketaatan mutlak hanya kepada Allah SWT. Adapun ketaatan kepada manusia itu taat kepada value yang dibawa bukan pada figurnya. Jika masih banyak yang insecure terhadap perempuan berpendidikan tinggi mungkin perlu sekali menikmati bacaan asyik yang berjudul “Jurnal Ph.D Mama”.

Jika mau yang lebih Islami, hehehe, bisa banget baca literatur tentang preseden para perempuan hebat seperti bunda Khadijah, bunda Aisyah, bunda Khanza dan bunda Hajar. Ada juga Amatul Khaliq gurunya imam Jalaluddin Suyuthi pengarang tafsir Jalalain, Sayyidah Nafisah gurunya Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal dan masih banyak lainnya. Beliau semua mewakili kualitas keteladanan perempuan dari segi spiritual, intelektuaal, sosial dan finansial.

Perempuan dan Kepintaran di Mata Masyarakat

“Ngapain lanjut sekolah tinggi-tinggi, nanti gak ada yang mau. Kamu kepintaran sih makanya diputusin cowok, kamu terlalu tinggi jadi cowok kamu pada minder”. Narasi kepintaran bagi perempuan masih diasumsikan sebagai sesuatu yang aneh bahkan menjadi penghambat bagi perempuan. Demikian pernyataan Maudy Ayunda dan Gita Savitri dalam tayangan chanel youtubeCupyts dengan tema: Perempuan, Cita dan Cinta (16/8/20)

Cerita lain datang dari kelas media muslimah yang pernah penulis ikuti. Ada seorang peserta gagal menjalankan khitbah dikarenakan si perempuan memiliki rencana study go abroad. Perempuan tersebut berhasil mendapatkan beasiswa S3 Hukum di luar negeri. Ketika si perempuan mendiskusikan hal tersebut kepada calon suami, tiba-tiba pihak laki-laki tidak menyetujui dan pada akhirnya lost contact.

Perempuan kerap dihadapkan dengan pilihan dilematis “mau berkarir atau menjadi ibu rumah tangga”. Ketika memilih berkarir kerap dianggap melawan kodrat. Ketika memilih menjadi ibu rumah tangga dianggap mengorbankan bakat. Pilihan dilematis ini jarang dialami pihak laki-laki. Pertanyaan seputar “mau berkarir atau menjadi ayah yang baik” hampir tidak pernah kita dengar.

Untuk itu mari kita dukung siapapun untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya agar bermanfaat seluas-luasnya. Support orang-orang di sekitar kita untuk berkembang memaksimalkan perannya dalam derap kemajuan bangsa. Dorong mereka untuk sekolah setinggi-tingginya agar kelak bisa menebar manfaat bagi semesta.

Perempuan dan Ilmu Pengetahuan

Menuntut ilmu (belajar) merupakan salah satu tujuan syari’ah (maqasid syari’ah) yaitu menjaga akal agar tetap sehat dan waras. Maka, baik laki-laki maupun perempuan punya kewajiban untuk menuntut ilmu dan menggunakan potensi yang diberikan Allah semaksimal mungkin.

Dalam buku Adabul Mar’ah Fil Islam, bahwa perempuan diharapkan bekerja sama sejalan dengan laki-laki dalam memelihara dan meningkatkan martabat manusia sebagai penghuni dan pemakmur bumi. Kesemuanya itu akan dapat terwujud apabila setiap manusia dibekali ilmu pengetahuan yang disertai iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Allah berfirman dalam QS. Al Fathir: 38 “Hanya yang bisa takut kepada Allah ialah hamba-hamba-Nya yang berilmu”. Dalam QS. Al Ankabut: 43 juga dijelaskan bahwa “percontohan-percontohan atau gambaran-gambaran itu kami buat untuk manusia dan tidak dapat memikirkannya melainkan orang-orang yang berilmu”.

Quraish Shihab dalam Tafsir Misbah menjelaskan ayat tersebut, bahwa semakin kita belajar akan semakin mengetahui. Ilmu dalam pandangan agama tidak bisa dipisahkan dari amal kebaikan. Dengan begitu, mempelajari ilmu harus membuahkan kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain. Dari penjelasan Quraish Shihab mengisyaratkan bahwa siapapun yang berilmu berarti ia memiliki tanggung jawab moral untuk menebar kebaikan seluas-luasnya.

Bahkan Islam sangat mewanti-wanti agar manusia tidak terjerumus dalam kebodohan. Salah satu caranya dengan menjaga akal agar tetap sehat dan produktif. Wahyu pertama Nabi Muhammad SAW adalah surat Al-‘Alaq : 1-5 terkait aktivitas ilmiah yang wajib dilakukan manusia. Laki-laki dan perempuan harus memiliki ilmu pengetahuan agar dapat mengkaji dan mentadabburi tanda-tanda kekuasaan-Nya yang sangat luas sehingga punya modal spiritual, intelektual, sosial dan financial dalam memakmurkan bumi Tuhan.

Laki-Laki Takut Perempuan Berpendidikan Lebih Tinggi?

Akses pendidikan tidak mengenal gender tertentu. Siapapun berhak mendapatkan akses pendidikan yang layak dan adil. Ketika perempuan memilih melanjutkan pendidikan ketimbang menikah, tidak sedikit mereka akan dicibir. Perempuan menolak nikah dianggap tidak laku. Perempuan yang kritis dengan kemerdekaan berpikirnya dicurigai kurang adab dan menyeramkan.

Bagi yang sudah menikah dan dalam tahap studi, tidak sedikit dianggap kurang perhatian kepada suami dan anak. Namun bagi kaum laki-laki jika masih lajang, berpendidikan tinggi itu prestasi. Bagi yang telah berkeluarga, sang istri dan anak-anak harus ridho jika ditinggal untuk sekolah tinggi.

“Dahulu, aku respect banget sama perempuan yang cerdas tapi lama kelamaan ngeselin. Perempuan cerdas tuh egonya tinggi. Suka ngatur-ngatur dan ndebat orang. Padahal kan laki-laki yang bisa mengatur karena tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga dan yang mengayomi. Jangan mau kalah sama ego perempuan, mending cari istri jangan lihat dari kecerdasannya, cari yang biasa-biasa aja tapi bikin nyaman, bahagia satu sama lain dan satu visi”. Demikian, sedikit obrolan laki-laki tentang perempuan yang sekolah tinggi.

Perempuan Punya Hak untuk Berkembang

Setiap manusia memiliki hak asasi untuk berkembang. Setiap orang memiliki ego, ambisi dan cita-cita yang ingin diperjuangkan. Jika kita memiliki cita-cita jangan lupakan orang lain, mereka juga demikian. Lebih jauh lagi, masih ada beberapa tokoh agama yang berpandangan jika suamimu seorang sarjana dan kamu berkeinginan untuk lanjut sekolah maka tunda dahulu. Dikhawatirkan suamimu minder kalau kedudukan istrinya lebih tinggi darinya, Ya Allah -_-.

Sejak kapan pencapaian pendidikan menjadi tolak ukur untuk menentukan kedudukan suami istri dalam rumah tangga? Sependek pengetahuan penulis, rumah tangga itu bukan perguruan tinggi ya, siapa yang lebih tinggi gelar atau kecakapannya maka otomatis jadi rektor. Sebagai teman hidup keduanya memiliki hak dan kewajiban yang setara. Bersama menciptakan hubungan yang egaliter dan sehat, memberi ruang satu sama lain untuk mengembangkan bakat dan memaksimalkan potensi satu sama lain. 

Want to be with a smart people? You don’t need to be smarter. You just need to be briver and grow a pair 😊

Bagikan:
Penulis 19 Tulisan

Anny Syukriya

Seorang santri dan pendidik yang senang berbagi cerita seputar keislaman dan pengalaman perempuan

Leave a Comment