f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
al-Qur'an

Kritik Al-Qur’an terhadap Tatanan Sosial

Pada saat ini kita melihat situasi yang benar-benar berbahaya bagi umat manusia, terutama eksistensi populasi orang-orang miskin semakin besar. Resesi ekonomi menjadi topik hangat, yang saban hari dibicarakan diberbagai negara.

Banyak negara saat ini mengalami situasi yang sama, soal PHK, pengangguran, dan semakin terbatasnya lapangan pekerjaan. Persoalan ini tentunya memberikan efek kesulitan bagi semua orang, terutama bagi orang-orang miskin. Islam sebenarnya dari awal memiliki komitmen yang besar dan mendasar untuk menghadapi soal-soal seperti ini.

***

Jika kita merujuk pada kitab suci Al-Qur’an, banyak surah sebenarnya yang melakukan kritik terhadap tatanan sosial, karena kemiskinan yang kita hadapi sekarang, terkadang bukan hanya soal takdir. Bisa jadi karena sistem yang menindas atau aturan-aturan yang mengalami ketimpangan, akibat dari ketamakan manusia itu sendiri.

Rasanya mustahil Al-Qur’an tidak mengerti situasi dunia hari ini, dan tidak mungkin Al-Qur’an diam dan bungkam melihat kebusukan sosial yang terjadi. Sedikit kita flashback ke fase awal dalam perjalanan wahyu Tuhan (Al-Qur’an), banyak surah-surah Al-Qur’an yang turun di fase awal ini melakukan kritik keras terhadap tatanan sosial.

Jika kita melakukan klasifikasi terhadap turunnya Al-Qur’an, menurut buku “Tafsir Progresif Al-Ashr” karya Eko Prasetyo, turunnya Al-Qur’an itu terdiri dari periode Mekkah dan Madinah. Periode Mekkah awal, ada sebanyak 12 surah yang semuanya melakukan kritik secara terang-terangan terhadap tatanan sosial yang sangat-sangat relevan dengan situasi pada saat ini. Yaitu surah; Al-Alaq, Al-Mudatsir, Al-Lahab, Al-Quraysy, Al-Kawtsar, Al-Humazah, Al-Maun, Al-Takatsur, Al-Fil, Al-Layli, Al-Balad dan Al-Insyirah.

Surah-surah Al-Qur’an yang awal ini, hampir-hampir tidak menyinggung penyembahan berhala, tapi surah itu secara keras mengkritik keserakahan orang-orang kaya dan ketidak pedulian mereka yang memiliki harta terhadap orang-orang miskin yang menderita. Artinya, mandat untuk nabi Muhammad dalam menyampaikan isi atau makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an adalah juga bertujuan untuk melakukan revolusi sosial. Sehingga menjadi tatanan sosial yang bisa melahirkan rahmat bagi seluruh alam semesta.

Baca Juga  Nyunggi Kitab Suci
***

Di dalam Al-Qur’an kecaman-kecaman atau kritikan itu semua merujuk pada beberapa hal. Pertama; Al-Qur’an mengritik soal keadilan. Kita bisa melihat bahwa Al-Qur’an selalu membela mereka-mereka yang lemah dan sekaligus mendorong umatnya untuk membela mereka yang lemah. Ini terlukiskan dalam surah an-Nisa Ayat 75 yang artinya;

“Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang penduduknya zhalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.”

Pada surah An-Nisa’ Ayat 75 ini, Allah menegaskan ajakan bahwa setiap orang beriman itu harus membela mereka-mereka yang ditindas. Mereka-mereka yang teraniaya dalam struktur sosial. Itu artinya Al-Qur’an dari awal memang mendorong umatnya untuk membela orang-orang yang lemah. Bahkan, Al-Qur’an juga menyatakan dan menegaskan janji Allah untuk mengangkat orang-orang lemah yang kelak untuk menjadi pemimpin. Seperti tertuang di dalam surah Al-Qashash Ayat 5 dinyatakan;

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).”

***

Al-Qur’an memberikan peluang yang sangat besar dan lebar untuk melakukan reformasi sosial bagi mereka-mereka yang ditindas. Al-Qur’an menjanjikan kemenangan bagi mereka selama mereka berikhtiar untuk merubah tatanan. Itu sebabnya, Al-Qur’an juga menyatakan. Jika ada suatu negeri yang berlaku tidak adil maka negeri itu tidak akan bertahan lama. Dalam surah Al-Hajj Ayat 45 artinya dikatakan;

“Maka betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)nya dalam keadaan zalim, sehingga runtuh bangunan-bangunannya dan (betapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi (tidak ada penghuninya).”

Di sisi lain kita bisa melihat fakta sejarah, dikutip dari buku ‘Bencana-bencana Besar dalam Sejarah Islam’ karya Fatih Zaghrut, menyebutkan bahwa, negeri Andalusia hancur disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah karena pemerintah muslim banyak yang larut dalam kemewahan tapi tidak memperhatikan rakyatnya.

Baca Juga  Sebenarnya, Lailatul Qadar itu Kapan?

Surah Al-Hajj ini mengindikasikan bahwa, jika ada sebuah kota yang rubuh dan runtuh atau kehancuran sebuah wilayah, itu dikarenakan pemerintahan berbuat tidak adil dan ditambah penduduknya berbuat zolim, itulah sebabnya Al-Qur’an mengkritik segala bentuk ketidakadilan.

***

Kedua ; terhadap perangai-perangi berlebihan (konsumerisme). Allah Swt melontarkan kritik melalui surah Al-A’raf Ayat 31;

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

Allah secara tegas tidak menyukai budaya berlebih-lebihan atau konsumerisme, karena sikap berlebih-lebihan bisa mendatangkan sifat tamak. Hal itu juga di benarkan oleh Mahatma Gandhi, seorang pemimpin spiritual dari India. Ia mengatakan bahwa;

“Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan kita semua, namun tidak cukup untuk memenuhi keinginan segelintir kecil manusia yang tamak.”

Efek dari sikap tamak hanya akan melahirkan ketimpangan dan permusuhan sesama umat manusia. Pandemi yang hadir pada hari ini sedikit banyak mampu mengurangi budaya konsumerisme, karena orang-orang sudah tidak bisa keluar sembarangan. Upaya untuk menahan diri bisa dikatakan sebagai rem untuk menahan budaya konsumerisme.

Ketiga; Al-Qur’an selalu meletakkan, bahwa disetiap harta yang kita miliki ada hak orang-orang miskin dan berkekurangan. Artinya Al-Qur’an sangat mengkritik kepemilikan yang bersifat absolut. Hal tersebut Allah tegaskan di dalam surah Az-Zariyat Ayat 19;

“Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.”

 Harta kekayaan tidak boleh absolut, ia harus memiliki fungsi sosial dan mandat sosial. Oleh karena itu di dalam Islam kita mengenal dengan namanya zakat, infak dan sedekah, karena pada prinsipnya kekayaan itu tidak boleh di monopoli.  Itulah sebabnya Islam sangat membela sekali bagi orang-orang miskin. Islam tidak pernah menyalahkan kemiskinan karena sebuah takdir, akan tetapi yang selalu dikritik adalah kemiskinan yang disebabkan oleh siatuasi sosial dan struktur sosial.

Baca Juga  Pemantapan Strategi Pemasaran dalam Pengelolaan Badan Usaha Organisasi
***

Jika kita kontekstual dengan hari ini, timbul satu pertanyaan. Mengapa ketimpangan-ketimpangan itu terus terjadi? Padahal di Indonesia mayoritas penduduknya adalah umat Islam. Orang-orang Islam semakin banyak, organisasi-organisasi Islam semakin besar.

Bahkan, hampir organisasi Islam mirip dengan kekuatan negara, karena memiliki sekolah, rumah sakit, dan institusi-institusi lainya, tetapi mengapa hari ini ketimpangan itu semakin besar terjadi? Pertanyaan inilah yang penting untuk kita ajukan. Dan kita di tantangan untuk terlibat aktif menyelesaikan persoalan hari ini.

 Banyak pendekatan-pendekatan yang dilakukan untuk menyelesaikan persoalan atau menjawab pertanyaan ini. Salah satu jawabannya, karena ada keyakinan agama yang sangat fatalistik. Keyakinan fatalistik itu menyatakan bahwa, ke miskinan itu sudah takdir dunia, ada orang yang miskin ada orang yang kaya.

 Keyakinan fatalistik seperti inilah yang membuat ketimpangan dan kemiskinan menjadi lebih awet dan abadi. Agama seolah-olah kehilangan idealismenya. Kita memang meyakini bahwa kemiskinan itu adalah takdir. Tetapi takdir itu tidak boleh kita diamkan atau kita rawat. Yang seringkali merawat takdir miskin adalah orang-orang kaya yang terlalu fatalistik.

Bahkan ada anggapan yang menyatakan; “Orang miskin itu memang harus ada, mungkin orang miskin itu ada karena mereka ingkar, karena meraka kafir. Itulah yang membuat mereka miskin. Orang kaya tidak apa-apa selama mereka beriman.”

Retorika seperti inilah yang menghilangkan ruh agama dari semangat keberpihakan. Retorika seperti inilah yang mengabadikan kemiskinan, dan agama kehilangan semangat idealismenya. Keyakin seperti inilah yang membuat ketimpangan itu semakin liar dan semakin besar, sampai dengan hari ini. Al-Qur’an sangat mengkritik keras terhadap hal tersebut.

Tabik!

Bagikan
Post a Comment