Bila Kesusahan Orang Biasa Hanya Biasa-Biasa Saja
Sudah lama saya merasakan adanya ketimpangan pemberitaan antara si kuat dan si lemah. Berbarengan dengan saya menulis tulisan ini, DKI Jakarta, Surabaya, Semarang dan kota-kota besar lain di luar Jawa sibuk dengan unjuk rasa menuntut kenaikan upah minimum, dalam waktu bersamaan berita mainstream menyiarkan putusan status UUCK (Undang-Undang Cipta Kerja) oleh MK. Anggap saja isu kesejahteraan buruh (akar rumput) vs kepentingan investasi yang sedang diperjuangkan melalui UU tersebut.
Seringkali aktivitas digital akar rumput termarginalkan oleh hambatan dan dampak pribadi, salah satu indikasinya muncul laporan mereka mengalami kelelahan mental alias burned out. Terdapat anggapan bahwa isu yang mereka suarakan kurang populis daripada hegemoni oligarki melalui kekuatan pendanaan sehingga mempengaruhi komersialisasi platform digital. Perlu intervensi pemerintah dalam melindungi kepentingan-kepentingan akar rumput.
Butuh strategi dalam menghadapi hambatan teknologi, interaksional, dan keberdayaan pribadi dalam menjaga kemurnian gerakan. Jika hal tersebut lemah tentu akan menggugurkan tujuan awal dan masyarakat mendapat akses terbatas terhadap isu krusial. Keberimbangan pemberitaan dengan membuka akses seluas-luasnya tidak melulu berorientasi komersial.
***
Platform digital menganggap aktivitas buruh tidak dapat mendongkrak ketertarikan investor. Dalam keterbatasan buruh, aspek moral lebih utama daripada aspek pendanaan. Dilematisnya platform digital memprioritaskan konten populer dan “dipaksakan” harus menyiarkan berita akar rumput yang tidak populis. Pendek kata sebagus-bagusnya konten aktivisme tetap kesulitan terakses secara luas.
Para aktivis terus-menerus mengupayakan agar pesan yang tersampaikan menarik atau tidak biasa-biasa saja. Tapi kalangan borjuis bergerak secara masif dengan memanfaatkan platform bahkan melampaui batasan yang algoritme platform tetapkan. Dan, kekhawatiran akar rumput ketika berita menyebar luas malah lenyap dalam kerumunan.
Jejaring sosial dapat meningkatkan komunikasi aktivis, namun dengan mengorbankan kendali atas pesan-pesan tersebut. Ini penting menjadi pertimbangan dalam tindakan kolektif, karena demi mendapatkan pengakuan politik, butuh komunikasi jelas atas tuntutan dan keluhan. Yang patut menjadi kewaspadaan adanya tekanan dari dalam maupun luar yang berupaya menjadi pengkhianat dari aksi moral tersebut.
Solusi lain dengan membentuk “aktivisme terbuka” yang mengharuskan pemantauan lewat jejaring sosial untuk memperkuat pesan, dan mencegah gerakan tersebut diambil-alih seraya mengundang pendukung untuk menyesuaikan dan mempersonalisasi gerakan tersebut. Dengan keterbukaan menjadikan pesan yang tersampaikan seolah menjadi kepedulian bersama. Hal ini merupakan sebuah upaya agar pemberitaan di masyarakat menjadi berimbang dan tidak berat sebelah.
***
Gelembung filter pada orang-orang dengan pandangan serupa mempersulit aktivis digital untuk menyampaikan pesan di luar jaringan kelompok. Meskipun beberapa platform bersifat lebih publik, penggunaan algoritme berbeda dapat menampilkan konten alternatif bagi penggunanya. Sehingga penyelenggara aksi dapat membuat profil publik di platform yang lebih terbuka untuk menerobos efek pengulangan.
Di jejaring sosial, kekuatan visibilitas konten sering bergantung pada seberapa baru konten itu dan bagaimana reaksi orang terhadapnya. Aktivis perlu terus memantau perkembangan algoritme guna mendorong konten cepat terlihat oleh pengguna yang lain. Kiat ini menuntut mereka untuk berpikir dan bertindak seperti digital marketer dalam menyusun strategi produksi dan perputaran pesan.
Persahabatan yang terbangun secara online dan offline membantu mengurangi dampak dari konfrontasi ini. Meskipun dampak trolling online dapat dengan mudah menghabiskan ketokohan yang aktivis miliki. Trolling yang terlontar, seperti serangan balik, agresi tinggi di jejaring sosial sulit terhindari oleh penyelenggara aksi karena dapat mengikat nama publik mereka dengan aktivisme mereka.
Menjauhkan diri, baik dari gerakan atau dari potensi risiko aktivitas kita, tampaknya menjadi satu-satunya strategi bagi penyelenggara aksi dalam situasi ini. Selain itu, karena algoritme jejaring sosial menampilkan penampakan pembawa pesan bersebelahan dengan pesan, penyelenggara aksi juga mengkhawatirkan visibilitas aktivisme mereka yang berdampak pada risiko karir. Penting bagi akar rumput untuk mendapatkan tingkat keterikutan secara luas.
***
Pembaharuan algoritme platform untuk memahami kemauan pengguna. Penggunaan beberapa platform untuk menjangkau netizen yang luas dan berbeda. Pembiaran perubahan terjadi dalam pesan akar rumput sambil memantau dinamisasi pesan utama.
Terus terhubung dengan sesama penyelenggara aksi dan pendukung secara offline. Secara aktif bergabung dengan komunitas lokal, regional, atau nasional sehingga kita memiliki rekan aktivis untuk bersandar dan memberikan tongkat estafet ketika kita harus meninggalkan aktivisme. Antisipasi dampak dan risiko aktivisme, serta menentukan batasan bagi diri sendiri.
Faktor fleksibilitas dan adaptasi ada dalam rencana taktik tindakan. Aktivisme digital dapat menjadi bagian penting dari setiap kampanye yang sukses, namun para aktivis perlu tetap sadar tentang dampak dan keterbatasan jejaring sosial. Saya tidak tahu ini penting atau tidak tetapi setidaknya memberikan pemahaman diri tentang kepedulian terhadap kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapi orang lain, apalagi kalau bisa menunjukkan jalan akal sehatnya.
Penulis dari Sidoarjo
Instagram @wahyuprihartanto6284
