Sinetron, Media Kampanye Melawan Covid-19
Beberapa waktu lalu sempat ramai diberitakan artis Nikita Mirzani lewat Instagram-nya memprotes Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tentang keharusan mengenakan masker saat membawakan acaranya. Deddy Corbuzier, pembawa acara-acara talk show juga mempertanyakan dasar KPI dalam memutuskan sebuah tayangan di televisi harus dan tidak harus menggunakan masker. Mereka berdua membandingkan penerapan protokol kesehatan (prokes) selama pandemi Covid-19 dengan tayangan sinetron. Ada kesan yang kemudian disuarakan beberapa kalangan artis, KPI masih tebang pilih dalam urusan prokes ini.
Polemik pelaksanaan prokes pada sinetron ini tampaknya memang cukup dilematik bagi KPI. Sepertinya KPI belum menemukan panduan yang pas agar sinetron bisa tetap tayang tapi taat prokes Covid-19. Walaupun bila kita cermati sinetron-sinetron sendiri sudah memberikan pernyataan, proses shooting terlaksana dengan menerapkan prokes Covid-19 dalam setiap tayangannya. Artinya, sama seperti acara-acara TV lainnya, baik itu acara berita, reality show, variety show maupun talk show, prokes sudah berjalan.
***
Suara protes kedua publik figur itu, menurut saya lebih mengarah pada kenapa para pemain sinetron boleh tidak mengenakan masker dan menjaga jarak, sedangkan ketika mereka tampil malah diharuskan. KPI sendiri kemudian memberikan jawaban akan merumuskan aturan atau panduan yang adil bagi setiap program di lembaga penyiaran. Mereka akan melibatkan berbagai pihak yang terkait, termasuk satgas Covid-19 yang lebih memahami tentang prokes.
Semoga saja panduan untuk sinetron yang dibuat tetap berpegang pada unsur kewajaran, logis dan realistis. Saya sendiri bukan penyuka sinetron. Tapi kalau melihat ada yang aneh dan janggal, suka mempertanyakan logika berpikir yang bikin sinetron. Kasihan aja bila penonton setia sinetron disuguhi terus tontonan adegan-adegan yang cacat logika.
Bila aturan mengenakan masker dan menjaga jarak berlaku tanpa pengecualian. Maka akan ada adegan suami istri lagi ngobrol di rumahnya sendiri harus mengenakan masker. Atau adegan anak sedang bermain bersama ayah dan ibunya dengan jarak dua meter. Logiskah? Apa seperti itu terjadi di kehidupan sehari-hari masyarakat? Alih-alih sinetron menumbuhkan optimisme, tanpa sadar malah menciptakan kecemasan terhadap pandemi Covid-19 di masyarakat.
Sinetron dengan setting tahun 70 atau 80-an misalnya atau sinetron kolosal berlatar zaman kerajaan, realistiskah bila para pemainnya harus memakai masker juga? Jangan-jangan sinetron malah dituduh ingin mengubah sejarah dan memberikan informasi yang salah. Penontonnya juga yang akan protes. Netizen ramai lagi dengan komentar dan unggahan meme-meme sindiran di dunia medsos. Bertambah lagi daftar keabsurdan sinetron Indonesia.
***
Tidak bisa dipungkiri, sinetron masih jadi tontonan primadona bagi masyarakat Indonesia. Walaupun ada juga yang menganggapnya sebagai tontonan yang “konyol”, adegannya terlalu dramatis dan terkadang tidak logis. Sinetron kerap pula dicap sebagai tontonan yang tidak memiliki nilai edukasi dan cenderung memberikan contoh yang kurang baik. Kecaman ini didukung dengan banyaknya kajian dan penelitian ilmiah yang menunjukkan bagaimana pengaruh negatif sebuah sinetron pada perilaku anak, remaja, bahkan ibu rumah tangga.
Namun berdasarkan kajian dan penelitian-penelitian tersebut, kita harus akui berarti sinetron memiliki kekuatan dalam memengaruhi penontonnya. Ia memiliki andil dalam membentuk perilaku dan kebiasaan-kebiasaan di masyarakat. Saya percaya seperti dua sisi mata uang, bila suatu tontonan memiliki pengaruh negatif, berarti semestinya ia juga mampu memberikan pengaruh positif.
Menurut B.F. Skinner, psikolog beraliran behaviorisme, perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Dalam pemahaman saya, artinya sebuah perilaku bisa terbentuk karena adanya suatu stimulus yang didapatkan melalui panca indera. Pada proses stimulus itu seseorang kemudian akan memberikan arti dan makna berdasarkan apa yang diketahuinya, apa yang pernah dialaminya dan keyakinan yang ada dalam dirinya.
Dengan demikian, disadari atau tidak, suka tidak suka, apa yang kita tonton dan lihat, apa yang kita dengar atau baca, bila dilakukan terus menerus dapat memengaruhi alam bawah sadar kita dan membentuk suatu pola pikir tertentu. Itu kemudian akan memengaruhi sikap serta perilaku dan kebiasaan kita.
****
Saya jadi ingat. Beberapa hari yang lalu di Whatsapp grup keluarga, ada foto seorang kerabat sedang berdiri di atas panggung sambil memegang mic dan tanpa masker. Saya pun penasaran, ”Lhooo acara apa itu?” tanya saya. “Kok ndak pake masker?”
“Lagi ngasih sambutan, rapat yayasan,” Orang yang ada di foto menjawab. “Maskernya dilepas sementara hehehe. Tadi semua ya gitu, lepas masker pas lagi pidato atau sambutan.” Lanjutnya.
Penjelasan yang bikin saya miris, seketika menggarisbawahi kalimat “tadi semua ya gitu”. Berarti semua yang naik ke panggung dan memberikan sambutan atau pidato melepas maskernya, padahal menggunakan micnya ganti-gantian. Haduh!
Baru saja saya selesai mengetik balasan, “Memang kalau pake masker, ngomongnya ga jelas ya? jadi harus dilepas?”
Eh, keduluan ada pesan baru masuk lagi. “Di tv-tv kan ya gitu, pembawa acaranya lepas masker kalau mulai ngomong,” diikuti emot mesem dan peace.
Glodak! Ya kali mereka yang di televisi sudah tes Antigen atau PCR semua sebelum shooting.
Sungguh, sekuat itu sebuah tontonan bisa memengaruhi perilaku dan kebiasaan yang ada di masyarakat.
***
Menurut para ahli cara memutus mata rantai penularan Covid-19 adalah dengan selalu menerapkan prokes. Maka edukasi prokes ini harus terus dikampanyekan agar masyarakat terbiasa dan disiplin menjalankannya. Sinetron sebagai sebuah acara di televisi yang penontonnya menjangkau masyarakat luas, bisa sangat efektif untuk mengambil peran itu.
Kampanye melalui sinetron ini bisa terjadi dengan menyelipkan adegan-adegan tentang prokes mencegah Covid-19 pada momen yang tepat. Misalkan ketika si tokoh keluar rumah selalu mengenakan masker, atau adegan harus menjaga jarak ketika di area umum. Saat pulang ke rumah ada yang mengingatkan untuk mencuci tangan, dan sisipan adegan lainnya yang mengandung pesan bagaimana cara menjalankan prokes Covid-19. Tanpa penonton merasa terganggu dengan keutuhan cerita utamanya.
Pemain-pemain sinetron idola para penonton, yang tingkah dan ucapannya sering menjadi contoh; bisa menjadi“juru kampanye”. Misalnya dengan membuat video 10-15 detik dan muncul di tengah-tengah acara sinetron, menyerukan pentingnya prokes melawan Covid-19.
Bila kampanye dilakukan secara massive di seluruh stasiun televisi, lama-kelamaan bukan tidak mungkin akan membangun kesadaran dan memengaruhi kebiasaan serta perilaku penontonnya dan menyebar di masyarakat secara luas.
Di tengah situasi pandemi ini, sinetron menjadi tontonan dan hiburan bagi masyarakat. Namun jika sinetron memmosisikan diri sebagai media kampanye melawan Covid-19. Bisa membangun kesadaran dan membentuk kebiasaan masyarakat dalam penerapan prokes selama pandemi. Ini akan sejalan dengan harapan KPI dan juga masyarakat tentunya. Sinetron tidak sekadar tontonan yang menghibur tapi juga mengandung unsur informatif dan edukatif.

Kelahiran Samarinda, tumbuh dan besar di beberapa kota di Indonesia di pulau Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Sumatera.
Pendidikan terakhir pasca sarjana di Brawijaya Malang. Sempat menjadi dosen Akuntansi sebuah PTS di Malang. Sekarang mengikuti suami dinas di Balikpapan. Senang jalan-jalan, tertarik dengan photografi, suka membaca novel Agatha Christie dan novel-novel thriller juga buku-buku motivasi dan pengembangan diri.
