f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Mathla’ul Anwar

Moderasi Beragama Mathla’ul Anwar

Muktamar ke-20 dan HUT ke-105 Tahun Mathla’ul Anwar yang rencananya akan diselenggarakan di Asrama Pondok Gede Jakarta pada tanggal 1 – 3 April 2021 nanti, mengangkat tema “Menata Umat, Merekatkan Bangsa“.

Dalam perspektif Mathla’ul Anwar, Moderasi Beragama Mathla’ul Anwar itu terlihat dalam tema muktamar. Dalam pemahaman penulis, konsep “Menata Umat, Merekatkan Bangsa“ ialah ‘moderasi Beragama Islam progresif’ yang melalui pencerahan berorientasi kepada penguatan Islam wasathiyyah.

Mathla’ul Anwar telah mengisyaratkan atau tepatnya menegaskan kembali jati dirinya. Moderasi Beragama adalah Islam wasathiyyah yang dengan karakter yang digambarkan tadi memberikan suasana dan iklim kondusif bagi kemajuan.

Penegasan itu sangat penting dan tepat waktu mengingat tantangan yang dihadapi Mathla’ul Anwar baik dalam ranah domestik maupun internasional.

Pada saat yang sama, dalam ranah domestik, kaum muslimin Indonesia dan mayoritas ormas Islam arus utama (mainstream) di seluruh penjuru Tanah Air menikmati suasana aman, damai, dan harmonis.

Bisa dikatakan, Indonesia menjadi negara tempat umat beragama baik Islam maupun non-muslim dapat hidup nyaman. Kasus-kasus intoleransi keagamaan sama sekali tidak mengganggu kenyamanan dan kedamaian umat-umat beragama berbeda.

Tak kurang pentingnya, muktamar Mathla’ul Anwar juga menegaskan kembali komitmen kebangsaan. Bisa dipastikan, muktamar bertujuan pokok, antara lain adalah untuk memelihara dan meningkatkan kenyamanan, kedamaian dan harmoni secara internal di dalam organisasi Mathla’ul Anwar.

Mathla’ul Anwar berkonsep egaliter, tasamuh (toleransi), sesuai dengan ciri-ciri moderasi Islam di atas dapat dipastikan jika antar umat beragama di Indonesia sudah hidup berdampingan dan saling toleransi, akan menjaga kestabilitasan antar umat beragama dan menjaga kerukunan antar umat beragama.

Konsep kedua yang ditawarkan oleh Moderasi Beragama Mathla’ul Anwar yaitu tawazun (berkeseimbangan), i’tidâl (lurus dan tegas), tasamuh (toleransi), musawah (egaliter), syura (musyawarah), ishlah (reformasi), aulawiyah (mendahulukan yang prioritas), tathawwur wa ibtikar (dinamis dan inovatif).

Baca Juga  Konsekuensi Feminisme Muslim di Indonesia
Moderasi Beragama Mathla’ul Anwar

Moderasi adalah sebagai sebuah jalan yang punya kekuatan dan kelanjutan dari sikap penduduknya yang memang berwatak moderat. Dalam konteks kehidupan kebangsaan, moderasi cocok karena sejalan dengan Pancasila sebagai ideologi moderat. Moderasi beragama adalah sebagai sebuah strategi baru untuk melawan kekeliruan tafsir terhadap ajaran agama.

Konsep moderasi Islam itu berarti membumikan Islam sebagai ajaran yang moderat untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Moderasi telah menjadi bagian dari kampanye pemerintah selama ini. Tidak hanya di dalam negeri, ajakan untuk berpikir lebih moderat juga disampaikan kepada komunitas di luar negeri. Pemikiran soal moderasi adalah pemikiran yang tidak menutup pemikiran atau anti terhadap pemikiran baru.

t Ketiganya memainkan peran penting dalam mereproduksi norma-norma demokrasi dan menegakkan komitmen resmi negara terhadap pluralisme agama.

Pada masyarakat yang mampu beragama dengan moderat, radikalisme dalam bentuk kekerasan akibat kekeliruan tafsir atas ajaran agama itu sendiri, otomatis akan dapat diatasi.

Mathla’ul Anwar, Keislaman dan Keindonesiaan

Wacana moderasi beragama itu kian penting belakangan ini, karena Indonesia bergerak dalam banyak kutub yang berbeda. Moderasi bisa memperkuat tali kebangsaan dan nilai-nilai keindonesiaan.

Bagi Mathla’ul Anwar, keislaman dan keindonesiaan telah terintegrasi; bukan merupakan dua entitas yang tidak cocok (incompatible) apalagi bertentangan. Keislaman-keindonesiaan telah menjadi komitmen teologi-politik yang syar’i.

Meski demikian, kesetiaan keislaman kaum muslimin negeri ini pada keindonesiaan tidak terwujud dalam sikap teologis Jabariyah dengan menerima begitu saja berbagai masalah serius yang dihadapi Indonesia. Karena itu, Mathla’ul Anwar dalam beberapa tahun terakhir aktif melakukan ikhtiar-ikhtiar dalam merekatkan kemajemukan bangsa.

Dalam konteks ini dapat terlihat perannya , sebagai Islamic based civil society masyarakat sipil berbasis Islam. Berperan penting dalam lapangan dakwah-keagamaan, pendidikan, kepenyantunan sosial, ekonomi, dan civil society. Bersifat independen vis-vis negara, membiayai, dan mengatur diri sendiri, dan berada pada front terdepan sebagai mitra kritis pemerintah.

Baca Juga  Sinergisitas Perbaikan Agama dan Akhlak

Sebagai civil society, Mathla’ul Anwar juga berperan krusial dalam penumbuhan dan penguatan civic culture; yang menghasilkan civility (keadaban) yang mutlak bagi demokrasi untuk bertumbuh dan terkonsolidasi. Pada saat yang sama, juga berperan penting dalam memelihara kohesi sosial, khususnya dalam masa turbulensi politik, ekonomi, sosial, dan keagamaan.

***

Mathla’ul Anwar memiliki legitimasi perjuangan dan sejarah, untuk bersikap moderat atau yang dikenal sebagai wasathiyah. Moderasi harus dibangun dalam dunia yang konstruktif dan menjadi wacana pembaharu.

Mathla’ul Anwar meyakini moderasi beragama adalah membangun masyarakat. Bukankah sejumlah program itu, yang mendorong masyarakat memiliki peran dengan bersikap moderat. Masyarakat yang dicita-citakan adalah yang menjunjung tinggi kemajemukan agama, dan pemihakan terhadap kepentingan seluruh elemen masyarakat, perdamaian dan nir kekerasan, serta menjadi tenda besar bagi golongan masyarakat tanpa diskriminasi.

Moderasi Beragama Mathla’ul Anwar menemukan urgensinya, untuk itu perlu dilakukan reformulasi agenda kreatif gerakan moderasi agama Islam, yang bercorak revolusioner dan sadar geopolitik serta melampaui sekat politik identitas.

Moderasi beragama menjadi kian penting saat ini, untuk itu dibutuhkan strategi bersama agar apa yang diharapkan itu tercapai. Tidak ada lagi ambiguitas antara Mathla’ul Anwar, keislaman dan keindonesiaan. Begitu juga, pendapat bahwa Islam tidak kompatibel dengan keindonesia harus dibantah.

Bagikan
Post a Comment