f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
baju lebaran

Tren Baju Lebaran: Mengelola Ekspektasi Sosial agar Tak Terperangkap Bandwagon Effect

Nuansa lebaran atau Idulfitri bagi kaum muslim adalah salah satu perayaan yang paling khas di Indonesia. Maklum saja, 87 persen penduduk Indonesia beragama Islam. Di bulan Ramadan, aktivitas di ruang-ruang ibadah menggeliat dibandingkan hari-hari biasa. Saf-saf masjid terisi penuh, tadarus Alquran, kajian, hingga kegiatan-kegiatan sosial menambah semarak nuansa bulan suci.

Orang tak mau kalah mengamalkan Quran Surat Al—Baqarah ayat 148: berlomba-lomba dalam kebaikan. Sedekah dimasifkan, berbagi kudapan berbuka puasa hampir jadi aktivitas pasti yang kerap ditemui di sisi-sisi jalan menjelang magrib, anak yatim dan kaum papa kebanjiran rezeki di bulan ini.

Selain aktivitas di ruang-ruang ibadah, aktivitas ekonomi juga mengalami ekskalasi. Pasar modern maupun tradisional menggeliat. Ruang publik sering berubah fungsi menjadi pasar sementara untuk berjualan aneka rupa: dari kuliner hingga fashion. Tempat-tempat perbelanjaan dipenuhi masyarakat yang berjubel. Marketplace mengalami puncak transaksi di bulan Ramadan –khususnya di hari-hari menjelang lebaran. Ekspedisi kewalahan karena pengiriman jauh melebihi kapasitas (overload).  

Bisnis mode jadi salah satu yang paling menguntungkan. Idulfitri menciptakan tren mode tersendiri setiap tahun. Mulai model, bahan, hingga warna menciptakan tren khas di tahun tersebut. Contohnya tahun 2023 baju lebaran identik dengan warna hijau keabu-abuan atau familiar disebut hijau sage. Atau tahun 2024 dimana tren baju lebaran beralih ke warna-warna cerah dengan aksen kilau (shimmer).

Sekali lagi, marketplace menjadi panggung meriah bagi pertunjukan mode baju lebaran yang menawarkan berbagai tren untuk berbagai kalangan dari berbagai usia dan jenis kelamin. Promo gratis ongkos kirim dan diskon besar-besaran, serta kemudahan berbelanja tanpa repot-repot mengantre dan berdesakan mendorong pembeli menghabiskan uangnya dalam sekali sentuh.

Baca Juga  Belajar Ikhlas Lewat Lagu Tulus “Hati-Hati di Jalan”
Sejak kapan tren baju baru lebaran?

Idulfitri atau yang lebih jamak disebut lebaran bergeser dari esensi sebenarnya sebagai hari kemenangan. Setelah sebulan beribadah di bulan Ramadan, lebaran mestinya menjadi momentum instrospeksi dan refleksi diri, serta pembaruan kualitas iman yang tecermin dalam perilaku baik yang meningkat dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, nyatanya, banyak penelitian membuktikan lebaran lebih sering condong pada aktivitas konsumsi yang berlebihan, salah satunya baju lebaran. Sebenarnya, siapa sih pencetus lebaran harus pakai baju baru?

Ternyata, sejarawan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam karya tulis berjudul Sejarah Nasional Indonesia menuliskan kalau budaya menggunakan baju baru menjelang lebaran sudah dilakukan oleh masyarakat di Kerajaan Islam Banten sekitar tahun 1596-an. Dilansir dari Tempo, saat itu warga menjahit baju untuk keperluan Idulfitri. Bahkan, para petani berhenti dari aktivitasnya demi menjahit baju. Iya, mayoritas masyarakat saat itu lebih sering menjahit baju ketimbang membeli, sebab hanya kalangan kerajaan yang mampu membeli baju.

Tradisi inilah yang berlangsung turun-temurun sampai sekarang, seakan-akan menjadi hal yang wajib dilakukan. Lebaran jadi identik dengan baju baru, penutup kepala baru, bahkan alas kaki baru. Kemudahan berbelanja daring di e-commerce  maupun  marketplace  memperparah budaya konsumtif masyarakat, bahkan di luar kebutuhan dan hanya memuaskan keinginan mengikuti tren.

Padahal, Rasulullah hanya memerintahkan umatnya menggunakan baju terbaik di Idulfitri. Baju terbaik tak mesti baru, meskipun tidak ditemukan larangan memakai baju baru.

Mengelola Ekspektasi Sosial dan Bandwagon Effect

Sengaja atau tidak sengaja, mengikuti tren adalah hal yang umum dan alamiah dilakukan manusia. Namun demikian, sebelum mengikuti tren kita perlu melihat kondisi diri: apakah itu tepat dan sesuai dengan diri kita, atau hanya sekadar ikut-ikutan supaya tidak disebut nggak gaul? Jangan sampai ikut tren hanya karena fomo (fearing out missing out) alias timbul perasaan cemas atau takut ketinggalan tren dan perkembangan terkini.

Baca Juga  Berhenti Menunggu Azab

Fomo menggiring kita pada satu perspektif dalam psikologi yaitu bandwagon effect. Bandwagon effect dapat diartikan sebagai satu kondisi individu mengikuti tren imbas dari opini publik yang mempengaruhi diri sendiri. Ia lahir akibat pesatnya media sosial dengan segala pengaruhnya.

Bandwagon effect mempengaruhi seseorang untuk cenderung mengikuti tren, tak hanya soal fashion, tapi juga penggunaan bahasa, pandangan, perilaku, hingga pengambilan keputusan tertentu. Bandwagon effect lebih bersifat emosional ketimbang rasional. Pada motif konsumsi, bila seseorang tidak memiliki konsep diri yang kuat, akan mudah terombang-ambing oleh ekspektasi sosial.

Setidaknya ada tiga tolak ukur seseorang terperangkap dalam bandwagon effect, yaitu mengubah perspektif dan opini sesuai norma kelompok, identifikasi diri agar dapat diterima satu kelompok tertentu, hingga mencari status sosial dan harga diri.

Padahal, sah-sah saja kalau kita tidak berpakaian mengikuti tren. Sah-sah saja kalau baju yang kita punya di lemari tidak terlalu banyak, tapi kita pandai memadu-madankan outfit agar serasi dipakai.

Banyak tokoh legendaris dikenang karena keteguhannya pada satu style. Apakah ia monoton dan ketinggalan zaman? Tidak juga. Mereka justru dikenal karena gayanya yang ajeg dan itulah yang membuatnya ikonik. Terus-menerus mengikuti gaya kekinian padahal tubuh tidak merasa nyaman, terus-menerus join the trend padahal tidak percaya diri, lebih supaya dianggap tidak ketinggalan zaman, dan terus-menerus menjadi orang lain dengan segala penampilan padahal ada lubuk hati yang ingin menjadi diri sendiri.

Kalau Idulfitri adalah momentum yang kita pilih untuk kembali fitri, inilah saat yang tepat untuk duduk lebih lama mengenal diri sendiri, mendengar yang paling disuarakan hati, dan menjalani apa yang paling sesuai dengan kepribadian, isi kantong, dan tentu saja prinsip-prinsip Islami. Yuk, bisa yuk, tidak ikut-ikutan tren tanpa paham makna sesungguhnya.

Bagikan
Post a Comment