f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
konstruksi gender

Melawan Konstruksi Gender dalam Bingkai Patriarki Modern

Masyarakat kita tumbuh dengan keyakinan bahwa perempuan dan laki – laki memiliki dua sifat yang berbeda. Perempuan identik dengan sifatnya yang lembut dan perasa, sementara laki-laki dengan sifatnya yang keras dan logis. Oleh karena itu, feminin dan maskulin menjadi istilah yang sangat familiar di telinga kita. Namun, sejatinya hal ini merupakan konstruksi sosial yang justru mengontrol bagaimana perempuan dan laki – laki seharusnya bersikap.

Perjuangan melawan konstruksi sosial gender sudah mulai digaungkan sejak tahun 1960-an dengan munculnya gerakan feminisme gelombang kedua. Gerakan ini mengkritik konsep feminin dan maskulin yang sejatinya merupakan hasil konstruksi sosial.

Refleksi Perjuangan Feminisme dan Wajah Baru Patriarki Era Modern

Jika feminisme gelombang pertama fokus pada hak perempuan dalam ranah hukum dan politik, feminisme gelombang kedua melebarkan sayap perjuangannya pada ranah sosial dan budaya.

Pada masyarakat patriarki, laki-laki dianggap sebagai subjek universal (yang utama), sementara perempuan diposisikan sebagai “the other”. Perempuan ditempatkan sebagai makhluk sekunder yang eksistensinya selalu melekat erat dengan keberadaan laki-laki. Selain itu, masyarakat juga menciptakan standar ideal tentang perempuan yang harus lembut, pengasih, pasif, emosional, dan identik dengan kerja domestik.

Oleh karena itu, feminisme gelombang kedua mengajak perempuan untuk menolak peran yang dipaksakan dan memiliki otonomi atas tubuh dan pilihan hidupnya. Melalui buku berjudul The Second Sex (1949), Simone de Beauvoir berusaha membuka kesadaran kritis terhadap konstruksi sosial gender pada masyarakat. Dalam hal ini, konsep feminin dan maskulin yang dianggap membatasi ruang gerak ekspresi perempuan, menjadi salah satu stigma yang dilawan.

Meski sudah lama diperjuangkan, nyatanya konstruksi gender yang mengikat belum sepenuhnya hilang dalam masyarakat. Konstruksi feminin dan maskulin kembali dibangun melalui representasi, algoritma, dan tren populer di media sosial. Patriarki modern masih menuntut citra ideal tentang bagaimana perempuan “seharusnya” tampil, berbicara, dan berperan. Bisa dikatakan bahwa saat ini patriarki tidak lagi menindas dengan kejam, tetapi mengekang lewat narasi narasi kebebasan.

Baca Juga  Relasi Suami-Istri: Laki-laki Tidak Harus Maskulin
Feminitas dan Ilusi Kebebasan

Wajah baru konstruksi feminin muncul dalam trend feminine energy, soft girl era, that girl lifestyle, dan trend serupayang muncul di media sosial. Trend ini menghadirkan citra perempuan ideal dengan energi lembut, penuh penerimaan, emosional, dan selalu tampil cantik di media sosial. Sekilas, trend ini dapat kita maknai sebagai hal yang positif karena mengajarkan bentuk self-love dan penerimaan diri. Sehingga mengajak masyarakat untuk selalu percaya diri.

Namun, trend dalam kerangka estetika dan algoritma ini justru dapat menjadi kontrol sosial baru. Kita diajarkan untuk mencintai diri sendiri tetapi dalam standar citra yang diciptakan masyarakat. Menjadi lembut, manis, tenang, pasif, dan penuh penerimaan masih menjadi citra perempuan ideal. Kritik Simone de Beauvoir dalam bukunya berjudul The Second Sex (1949) tentang “menjadi perempuan yang dibentuk oleh masyarakat”, rasanya tetap relevan hingga saat ini.

Trend seperti ini memperlihatkan bahwa menjadi perempuan feminin merupakan performa yang harus terus dijaga. Tentu, agar kita dapat dengan mudah diterima masyarakat sebagai perempuan sejati. Memang benar bahwa saat ini tak ada lagi patriarki yang menekan dan memberikan larangan dengan keras. Perempuan kini dibebaskan untuk memilih, tetapi kebebasan tersebut diarahkan agar tetap sesuai dengan standar “perempuan ideal” yang dibentuk oleh masyarakat.

Pemberdayaan Dalam Bayang Maskulinitas

Disisi lain, kontrol sosial juga tercermin dalam trend Alpha Woman hingga Girlboss Energy yang turut mewarnai media sosial saat ini. Trend ini dinilai dapat membawa narasi pembebasan perempuan dari stigma feminin klasik. Melawan pandangan tentang citra perempuan yang lembut dan pasif. Menjadi simbol bahwa perempuan juga bisa memiliki sifat kuat, keras, dan dominan.

Baca Juga  Membangun Jalur Komunikasi Responsif Gender di Antara Orang Tua dan Sekolah

Kita semua sepakat bahwa membongkar stigma merupakan upaya dari pemberdayaan terhadap perempuan. Namun dalam konteks ini, konsep pemberdayaan itu justru menyimpan paradoks. Alih – alih melawan patriarki yang sudah mengakar, trend ini justru menuntut perempuan untuk bisa berdaya dalam kerangka maskulin dan kapitalistik.  Lagi lagi, pembagian dua sisi feminin dan maskulin tetap menjadi kontrol yang mengikat. Dalam hal ini perempuan dituntut untuk terus produktif, kompetitif, dan tampil sempurna di hadapan publik. Lalu, apakah ini benar benar merupakan bentuk kebebasan bagi perempuan, atau justru cara patriarki mempertahankan dominasinya?

Catherine Rottenberg (2018) menjelaskan sebuah konsep feminisme neoliberal, di mana perempuan dituntut untuk mengambil tanggung jawab penuh atas kesuksesannya dengan menguasai sistem yang sudah ada. Menggeser fokus feminisme yang semula memperjuangkan perubahan struktural menjadi perjuangan individu. Seolah ketimpangan gender bukan berasal dari sistem sosial yang sudah mengakar tetapi dari kurangnya kapasitas perempuan itu sendiri.

Kita selalu diarahkan untuk hidup dalam satu pilihan yang saling berlawanan. Menjadi feminin atau maskulin, lembut atau keras, menerima atau melawan, dan bentuk identitas lainnya. Padahal, menjadi seperti apapun kita, menjalani peran apapun yang kita pilih, merupakan bentuk kedaulatan atas diri kita sendiri. Persoalannya bukan tentang bagaimana kita harus menjadi “ideal” menurut masyarakat, tetapi bagaimana kita bisa membongkar sistem yang sudah mengakar. Melawan batasan-batasan yang mengekang kita untuk menjadi manusia merdeka.

Seperti sebuah kalimat ikonik dari tokoh feminis Audre Lorde, “The master’s tools will never dismantle the master’s house”. Perlawanan terhadap sistem patriarki tidak akan berhasil dengan cara yang masih tunduk pada dominasi logika patriarki itu sendiri. Oleh karena itu, narasi perlawanan serta keberanian untuk mengubah sistem yang sudah mengakar harus terus dirawat.

Bagikan
Post a Comment