My Unfamiliar Family : Merefleksikan Hubungan dalam Keluarga
Drama Korea selalu ada yang spesial. Tema yang diangkat juga beragam, kadang begitu dekat dengan realitas keseharian, kadang memang ada yang absurd dan penuh fantasi. Tetapi keunikan drakor adalah pengemasannya menarik, dan disiapkan dengan ‘total’ dari suasana adegan serta angle pengambilannya bisa menyentuh perasaan penonton. Tentu juga akting pemeran yang sering sangat pas menjalankan karakter mereka. Dan pastinya, selalu ada makna dan hikmah yang bisa ditarik dari berbagai tema yang diangkat.
Adalah Drama Korea My Unfamiliar Family, yang akan kita bahas kali ini. Drama bertema keluarga namun cukup berani mengangkat sisi lain dalam sebuah keluarga. Jika selama ini banyak drama keluarga menggambarkan hubungan yang hangat antar anggota keluarga dan lebih berfokus pada perjuangan mereka menjalani berbagai lika-liku kehidupan di luar rumah, maka drama unfamiliar family menampilkan bagaimana disfungsi dari sebuah keluarga yang selama ini jarang dibahas. Drama ini berhasil mengalirkan emosi mendalam pada penonton menyaksikan dialog dan konflik antar anggota keluarga.
Sinopsis Unfamiliar Family
Drama Unfamiliar Family berkisah seputar kehidupan sebuah keluarga biasa di Korea, sepasang ayah dan ibu , serta tiga orang anaknya. Sang Ayah, Kim Sam Shik, adalah seorang pekerja keras, menjadi sopir truk pembawa barang antar kota. Ayah suka naik gunung, dan cenderung berbicara keras pada istrinya. Si Ayah lebih senang menghabiskan waktu bersama teman-temannya sesama supir truk, dari pada bersama istrinya.
Sang Ibu, Lee Jon Sook, adalah ibu kebanyakan yang mengerjakan berbagai aktivitas domestik. Si ibu jarang tersenyum dan gembira saat suami ada di rumah, tetapi bisa tertawa lepas menonton TV ataupun mengobrol di telepon saat tidak ada suaminya.
Anak pertama perempuan bernama Kim Eun Joo, sangat keras kepala, cenderung ketus dan suka berkata pedas. Eun Joo menikah dengan seorang dokter dan menjalani pernikahan yang kurang bahagia juga karena sudah berpisah kamar tidur. Anak kedua juga perempuan, Kim Eun Hee, cenderung lebih terbuka dan ceria walau kadang terkesan cerohon. Dia sehari-hari hidup terpisah dari keluarga dan bekerja di sebuah perusahan penerbitan.
Sedangkan si bungsu, Kim Ji Woo, anak laki-laki yang selalu dianggap anak kecil. Menjalani kehidupan bersama serumah dengan kedua orang tuanya membuat ia menyaksikan proses keretakan hubungan berlangsung. Ji woo juga menjadi penengah saat kakak pertama dan keduanya berkonflik, yang memang mereka hampir tak pernah sefaham karena karakter yang juga berbeda jauh.
Di samping kelima anggota inti keluarga ini, ada tokoh sentral lain yang memainkan peranan penting dalam hubungan Keluarga Kim ini. Yaitu Park Chan Hyuk, yang sebenarnya adalah teman masa kuliah Eun Hee yang sempat terpisah selama 5 tahun karena sebuah perselisihan. Uniknya, Chan Hyuk dekat dengan ketiga kakak beradik ini, sehingga dia lebih banyak tahu rahasia, konflik dan kondisi keluarga Kim ini dari cerita setiap versi tiga kakak beradik ini.
Disfungsi Keluarga
Kisah drama bermula saat Sang Ibu mengumumkan kepada anak-anaknya kalau ia ingin “lulus” pernikahan dengan sang ayah. Penggunaan istilah “lulus”, karena sang ibu ingin mengakhiri untuk berhubungan dalam pernikahan dengan sang ayah, dan menjual rumah mereka untuk kemudian akan dibagi dua, namun perpisahan ini tidak menjalani proses perceraian.
Mengingat bahwa pengurusan perceraian di Korea sepertinya cukup panjang dan membutuhkan banyak proses yang tak mudah. Hal ini ditentang oleh anak pertama, Eun Joo, namun didukung oleh anak kedua Eun Hee. Sang Ayah pun akhirnya setuju, namun di dalam hati sebenarnya ia tidak terlalu menerima. Sehingga Ayah memutuskan pergi mendaki gunung sendirian, dan kecelakaan pun terjadi.
Di sinilah cerita kemudian berkembang, karena paska kecelakaan di gunung, sang ayah kehilangan ingatannya sehingga ia merasa seolah berumur 22 tahun. Tentu hal ini membuat si ibu harus rela menunda proses ‘lulus’ pernikahannya, dan melanjutkan hidup bersama suami yang hanya mempunyai ingatan masa muda mereka yang masih hangat dan penuh cinta.
Setelah itulah, satu persatu kejadian berkembang, konflik mulai terjadi dan rahasia-rahasia setiap anggota keluarga terkuak. Dan satu penyebab pasti semua hal terjadi, karena setiap anggota keluarga tidak menceritakan berbagai masalah yang mereka hadapi dan tidak berkomunikasi secara baik. Tak ada cerita kehangatan dalam hubungan, namun yang ada setiap anggota keluarga membangun asumsi masing-masing dan saling menyampaikan pendapat dengan melukai. Drama ini memberikan kita beberapa refleksi dalam hubungan dalam keluarga, dan bagaimana sebaiknya menyikapinya.
Pertama, perlunya menghargai dan komunikasi secara terbuka untuk bisa menjaga kualitas hubungan keluarga.
Sepanjang episode-episode awal drama kita akan gemas dengan kelakukan anggota keluarga ini, terutama ayah dan ibu yang tak pernah berdiskusi satu sama lain dan mengambil keputusan sendiri. Belum lagi anak-anak yang cenderung segan dan berdiam diri. Mungkin banyak yang menganggap hubungan keluarga itu sudah otomatis bisa erat saja, tidak perlu diusahakan agar berkualitas. Padahal, kualitas dalam hubungan apapun apalagi persaudaraan dan keluarga, perlu dijaga dengan cara berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik.
Saling mengapresiasi hampir tidak ditemukan di dialog-dialog anggota Keluarga Kim, namun justru sering lebih menyalahkan pilihan masing-masing. Konflik yang terbangun juga tidak sehat, padahal biasa saja ada konflik dalam keluarga selama bisa diselesaikan dengan baik. Hal ini terlihat dari keputusan Eun Hee yang sempat 5 tahun tidak kontak dengan anggota keluarga lainnya dan memilih keluar dari rumah mereka. Ataupun bagaimana Eun Joo sangat terkejut dengan fakta tentang suaminya yang sudah dinikahinya bertahun-tahun.
Kedua, walaupun satu darah keturunan, kita tidak otomatis akan mengenali anggota keluarga kita.
Di drama ini, terlihat bagaimana mereka tidak saling mengenal kondisi masing-masing dan malah tiga kakak beradik lebih terbuka dengan Chan Hyuk yang sebenarnya bukan anggota keluarga mereka. Salah satu kalimat berkesan di Episode 3 adalah saat Chan Hyuk berkata pada Eun Hee di sebuah halte bus : “Kita lebih mengetahui unsur yang menyusun tata surya, melebihi unsur yang menyusun bumi. Seperti, kita tinggal di bumi, kenapa harus tahu? Keluarga juga sama”. Jleb banget, kata-kata ini seperti menohok para penonton, dan menanyakan pada diri sendiri apakah kita sudah mengenal anggota keluarga kita sendiri?
Jangan-jangan hanya karena hidup bersama satu atap, atau sama-sama satu talian darah kita meraa tidak perlu saling mengenal. Sehingga memang tak jarang banyak yang merasa lebih dekat dengan orang atau keluarga lain dan cenderung memendam perasaan dan tertutup saat bersama keluarga sendiri. Bisa jadi memang karena selama ini tidak menganggap usaha lebih mengenal anggota keluarga kita sebagai sebuah hal yang perlu diperjuangkan.
Ketiga, memahami generation gap antar orang tua dan anak-anak dalam keluarga.
Perbedaan zaman antara dua generasi dalam keluarga, selalu menjadi salah satu awal mula konflik berkembang. Misalnya di drama ini bagaimana di episode awal, Ibu memaksakan kehendaknya agar Eun Joo segera memiliki anak agar mereka bisa bahagia seperti standar kebahagiaan di zaman orang tua mereka dan mengingat usia pernikahan sudah hampir delapan tahun. Atau bagaiman pandangan tentang Eun Hee yang masih gadis tak kunjung menikah sedangkan usianya bertambah.
Di sisi lain, anak-anak khususnya Eun Joo tak habis pikir kenapa Ibu nya ingin “lulus” pernikahan padahal merasa kedua orang tuanya semua sudah cukup tua dan harusnya bisa hidup berdampingan. Tanpa si anak tahu pengalaman seperti apa yang sudah dialami dalam hubunagn kedua orang tuanya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak menemukan kesalahapahaman dalam relasi anggota keluarga terjadi, karena jarak antar generasi ini.
Dengan memahami bahwa setiap orang punya pengalaman dari era pengasuhan yang berbeda dan bagaimana perubahan zaman yang terjadi tidaklah dapat kita kontrol, maka kesenjangan ini diharapkan dapat memendek jaraknya. Tentu kembali, pola komunikasi dua arah yang terbuka menjadi kunci.
Demikianlah, beberapa refleksi yang bisa kita ambil dari drama korea my unfamiliar family ini. Sangat layak untuk ditonton, dan tentu saja, kita tidak hanya akan menyaksikan keseriusan tentang konflik keluarga, tetap ada kisah lucu dan hubungan romansa yang ditampilkan lho. Yang jelas drama ini unik, karena kita akan penasaran sejak mulai episode 1, dilanjutkan dengan ending tiap episode yang selalu bikin penasaran karena ada rahasia-rahasia baru yang terungkap.
Dan tenang, tidak seperti drama korea bergenre keluarga (family drama) lain yang episodenya puluhan bahkan ratusan, drama ini cukup 16 episode saja, dan saat ini baru tayang sampai episode 11. Tentu makin penasaran dengan akhir ceritanya ya.

Seorang ASN, Penikmat Drama Korea, Ibu 1 Anak dan Relawan Keluarga Kita (Rangkul) Padang.
